Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah Jepang bersiap melakukan pelepasan cadangan minyak strategis terbesar sepanjang sejarah guna mengantisipasi potensi gangguan pasokan energi akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Dilansir The Guardian, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyatakan bahwa langkah tersebut akan dimulai pekan ini, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel di Iran terhadap jalur distribusi energi global.
Pelepasan ini mencakup sekitar 80 juta barel minyak, setara dengan 45 hari kebutuhan domestik Jepang. Sebelumnya, pemerintah juga telah menyetujui pelepasan cadangan sektor swasta setara 15 hari konsumsi.
Langkah tersebut diambil di tengah kekhawatiran bahwa arus kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz dapat terganggu. Jalur ini merupakan salah satu rute vital bagi distribusi energi global, khususnya bagi Jepang yang mengimpor lebih dari 90% kebutuhan minyak mentahnya dari kawasan Timur Tengah.
Dalam pernyataannya, Takaichi menegaskan bahwa stabilitas kawasan Timur Tengah sangat krusial, tidak hanya bagi Jepang tetapi juga bagi perekonomian global. Ia juga menekankan bahwa pemerintah akan mengedepankan upaya diplomatik bersama negara-negara terkait.
Takaichi sebelumnya juga menolak permintaan Presiden AS Donald Trump untuk mengerahkan pasukan pertahanan maritim Jepang ke kawasan tersebut, dengan alasan keterbatasan konstitusi pascaperang Jepang.
Baca Juga
- Beda Klaim AS & Iran soal Pembicaraan Damai di Tengah Ancaman Serangan
- Harga Emas Melemah, Pasar Cermati Beda Klaim AS dan Iran soal Konflik
- Harga Minyak Global Rebound Usai Trump Tunda Serangan ke Iran
Dari sisi kapasitas, langkah pelepasan ini melampaui respons Jepang saat krisis nuklir Fukushima Daiichi nuclear disaster pada 2011. Saat itu, pelepasan cadangan dilakukan dalam skala yang lebih kecil meskipun seluruh pembangkit listrik tenaga nuklir sempat dihentikan.
Hingga akhir tahun lalu, Jepang tercatat memiliki cadangan minyak sekitar 470 juta barel, atau setara 254 hari konsumsi domestik, memberikan bantalan yang cukup besar dalam menghadapi potensi krisis energi.
Selain itu, pemerintah juga meluncurkan kebijakan subsidi bahan bakar untuk menahan harga bensin di kisaran 170 yen per liter, setelah sebelumnya sempat menyentuh rekor 190,8 yen per liter. Skema subsidi ini akan dievaluasi secara berkala mengikuti pergerakan harga minyak global.

/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F03%2F24%2F1727130545123d3ee7b62296535ebbea-IMG_20260324_154313.jpg)



