Setiap Lebaran, Indonesia seperti bergerak serentak. Jalan tol padat, stasiun penuh, dan kampung halaman kembali hidup. Pada 2023, Kementerian Perhubungan memperkirakan sekitar 123 juta orang melakukan mudik. Angka itu melonjak tajam pada 2024 menjadi sekitar 193 juta orang, atau lebih dari 70% populasi Indonesia. Tren ini menunjukkan bahwa mudik bukan sekadar tradisi—ia adalah mobilitas sosial dalam skala raksasa.
Namun, di balik euforia pulang kampung, ada fenomena yang jarang dibicarakan: tidak semua orang kembali ke titik semula. Sebagian justru sedang bersiap untuk berangkat—ke kota, ke peluang baru, ke kehidupan yang berbeda.
Lebaran, selama ini, dipahami sebagai ritual pulang. Padahal, ia juga merupakan titik berangkat.
Di ruang-ruang keluarga, di sela makan bersama, percakapan sederhana sering menjadi penentu arah hidup: “Sekarang kerja di mana?”, “Masih di kampung atau sudah ke kota?”, “Ada lowongan nggak di tempatmu?”. Pertanyaan-pertanyaan ini bukan sekadar basa-basi. Ia adalah bagian dari proses sosial yang mendorong mobilitas—yang dalam kajian migrasi dikenal sebagai network migration, yakni perpindahan yang difasilitasi oleh jaringan sosial seperti keluarga dan teman.
Banyak yang akhirnya tidak benar-benar “berangkat sendiri”. Mereka ikut saudara ke Jakarta, ikut teman ke Bekasi, atau sekadar berbekal nomor kontak seseorang di kota. Kota, dalam konteks ini, bukan hanya ruang ekonomi, tetapi juga jaringan sosial yang membuat migrasi terasa mungkin.
Momentum setelah Lebaran menjadi waktu yang ideal untuk itu. Secara psikologis, Lebaran menghadirkan refleksi—tentang penghasilan, pekerjaan, dan masa depan. Secara sosial, jaringan terbuka. Dan secara ekonomi, pasar kerja bergerak. Banyak perusahaan membuka rekrutmen baru pasca-Lebaran, mengisi posisi kosong akibat resign sebelum hari raya atau memulai ekspansi bisnis di kuartal awal tahun.
Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa mobilitas penduduk di Indonesia terus meningkat, dengan jutaan orang berpindah tempat tinggal dalam lima tahun terakhir, terutama karena alasan pekerjaan. Urbanisasi di Indonesia juga masih sangat terkonsentrasi di kota-kota besar, mencerminkan ketimpangan pembangunan antara desa dan kota.
Dalam perspektif teori migrasi klasik dari Everett S. Lee (1966), fenomena ini dapat dijelaskan melalui push–pull theory. Desa “mendorong” (push) karena keterbatasan lapangan kerja dan pendapatan, sementara kota “menarik” (pull) karena peluang ekonomi yang lebih besar. Lebaran, dalam konteks ini, menjadi katalis—momen yang mempercepat keputusan migrasi yang sebenarnya sudah lama terbentuk.
Inilah yang dapat disebut sebagai urbanisasi struktural—perpindahan penduduk yang bukan semata pilihan individual, tetapi hasil dari struktur ekonomi yang timpang.
Kota-kota besar pun tetap menjadi tujuan utama. Kawasan Jabodetabek masih menjadi magnet terbesar, didorong oleh konsentrasi industri, jasa, dan ekonomi informal. Kawasan industri di Bekasi, Karawang, dan Tangerang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, sementara Jakarta menjadi pusat sektor jasa. Di luar itu, Surabaya, Bandung, dan Medan juga menjadi simpul penting urbanisasi, menawarkan peluang dengan karakter ekonomi yang berbeda.
Namun, kota tidak selalu menjanjikan apa yang dibayangkan. Kompetisi tinggi, biaya hidup mahal, dan pekerjaan yang tidak stabil menjadi realitas sehari-hari. Banyak yang akhirnya bekerja di sektor informal dengan perlindungan yang minim. Dalam konteks ini, kota adalah ruang harapan—tetapi juga ruang ketidakpastian.
Sejumlah studi juga menunjukkan bahwa urbanisasi yang tidak diimbangi dengan pemerataan pembangunan dapat memicu berbagai persoalan sosial, mulai dari kemiskinan urban hingga ketimpangan akses terhadap layanan dasar. Artinya, arus perpindahan ini bukan hanya soal individu yang mencari pekerjaan, tetapi juga soal bagaimana negara mengelola distribusi kesempatan.
Lebaran, pada akhirnya, bukan hanya tentang pulang. Ia adalah momen di mana seseorang menimbang hidupnya—dan sering kali memilih untuk memulai ulang di tempat lain.
Dan setiap tahun, tanpa banyak disadari, kita menyaksikan gelombang urbanisasi baru yang lahir dari momen yang sama: makan bersama keluarga, obrolan sederhana, dan keputusan besar yang diambil diam-diam.




