REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dahulu, beberapa hari setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, Umar bin Khattab meminta izin bertemu Nabi Muhammad SAW. Dia pun bertanya, “Wahai Rasulullah. Mengapa kita selalu sembunyi-sembunyi dalam menyebarkan agama ini (Islam)? Padahal, kita berada dalam kebenaran, sedangkan orang-orang musyrik itu di atas kesesatan?”
“Wahai Umar, jumlah kita masih sedikit, sedangkan engkau telah melihat apa-apa yang kerap kita alami,” jawab Nabi SAW.
Baca Juga
Pengabdian Tahun Ketiga, MIND ID Perluas Peran Indonesia dan kontribusi Global
One Way Nasional Diberlakukan, Kapolri Tekankan Keselamatan Pemudik
Pemerintah Berlakukan One Way Nasional, Fokus Keselamatan dan Kelancaran Arus Balik
“Demi Zat yang mengutus engkau dengan kebenaran. Aku akan menyiarkan keislamanku di setiap tempat yang dahulu kusiarkan kekafiranku!” tegas Umar. Maka, itulah yang dilakukannya.
Suatu kali, di depan Ka’bah Umar bin Khattab berdiri di atas tumpukan batu dan berteriak lantang: “Aku bersaksi bahwa tiada zat yang patut disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah!”
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Orang-orang musyrikin lantas mengerumuninya. Mereka bertanya, apa benar dirinya telah memeluk Islam. Tidak hanya membenarkan, Umar bahkan mengancam mereka yang hendak menghentikan dakwah Rasulullah SAW. Mereka kaget dan gusar. Umar yang sebelumnya selalu menyertai mereka dalam menindas kaum Muslimin, kini menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW.
Rasa heran seketika berubah murka. Sebab, mereka menyaksikan Umar terus-menerus mengejek kepercayaan pagan. Puluhan hingga seratusan orang itu kemudian mengeroyok sahabat mulia ini.
Namun, Umar tidak lari. Dia justru membalas setiap pukulan dan hantaman dengan segenap daya. Kendati menang jumlah, orang-orang musyrikin ini kerepotan juga menghadapi Umar bin Khattab yang tampil sendirian.
Mereka akhirnya lelah, dan meninggalkan Umar begitu saja. Meski babak-belur dan luka-luka, Umar tetap berdiri tegap, dengan pandangan mata penuh percaya diri. Itulah momentum keberaniannya yang kedua. Sejak saat itu, Rasulullah SAW menjulukinya al-Faruq. Artinya, sang pembeda antara kebenaran dan kebatilan.