JAKARTA, KOMPAS.com - Kebijakan efisiensi bahan bakar minyak (BBM) di lingkungan Kementerian Pertahanan (Kemhan) dan TNI dipandang sebagai bagian dari strategi kehati-hatian negara dalam merespons ketidakpastian global, sekaligus menjaga keseimbangan postur pertahanan agar tetap proporsional.
"Ada makna politiknya. Dalam hal ini tentu saja politik negara ya, bukan politik praktis. Yaitu sinyal kehati-hatian strategis," ujar pengamat politik dan militer Universitas Nasional (UNAS), Selamat Ginting saat dihubungi, Selasa (24/3/2026).
Baca juga: Efisiensi BBM, Kemhan Pastikan Operasional Strategis TNI Tak Terganggu
Menurutnya, langkah tersebut mencerminkan sikap pemerintah yang tidak ingin terjebak dalam euforia belanja pertahanan di tengah ketidakpastian global.
"Terutama tentu saja akibat konflik di Timur Tengah dan juga fluktuasi harga energi serta gangguan rantai pasok. Jadi ini betul-betul pesan bahwa negara memilih strategi kehati-hatian bukan reaktif atau agresif," jelasnya.
Ia menilai kebijakan efisiensi ini juga dapat dibaca sebagai bentuk political signaling kepada publik bahwa sektor pertahanan tidak kebal terhadap disiplin fiskal.
"Artinya apa? Ada upaya menjaga legitimasi politik di tengah tekanan ekonomi. Seperti apa kenaikan harga energi yang bisa berdampak luas kepada masyarakat," ujar Selamat.
Baca juga: Antisipasi Geopolitik Global, Kemhan dan TNI Lakukan Efisiensi BBM
"Jadi ini Kementerian Pertahanan dan Mabes TNI ini ingin memberikan pesan juga bahwa mereka bisa menjadi pelopor soal efisiensi," lanjutnya.
Dia juga berpandangan terdapat makna politik eksternal dalam konteks geopolitik, di mana efisiensi BBM dapat dimaknai sebagai upaya menjaga low profile posture Indonesia di tengah dinamika global.
"Jadi postur yang betul-betul tidak ingin apa menonjol jadi low profile betul-betul. Indonesia tidak ingin terlihat sedang meningkatkan kesiapan tempur," jelasnya.
Baca juga: Rencana WFH Imbas Minyak Dunia Naik, Istana Pastikan Pasokan BBM Aman
"Jadi kalau dari militer supaya kelihatan oh, dia tidak seperti sedang siaga tempur, tapi betul-betul bukan juga sedang berupaya melakukan ofensif militer yang bisa ditafsirkan negara lain gitu dalam eskalasi geopolitik global yang sedang panas sekarang." Lanjutnya.
Menurutnya, sikap tersebut penting di tengah rivalitas global, karena Indonesia ingin menunjukkan konsistensi terhadap politik luar negeri bebas aktif.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




