"Tanaa Purai Ngeriman": Akar Identitas di Tengah Deru Modernitas Kutai Barat

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Kabupaten Kutai Barat tidak hanya dikenal dengan kekayaan alamnya yang melimpah, tetapi juga melalui sebuah semboyan yang sarat akan nilai filosofis, seperti "Tanaa Purai Ngeriman". Secara harfiah, untaian kata dari bahasa Dayak Tunjung dan Benuaq ini bermakna "Tanah yang Subur dan Rezeki yang Melimpah". Namun, jika dibedah melalui kacamata stilistika, semboyan ini bukan sekadar susunan kata informatif, melainkan sebuah manifestasi spiritualitas dan kearifan lokal yang menjadi benteng identitas bagi masyarakatnya.

Dalam studi stilistika, pemilihan kata (diksi) memegang peranan vital dalam menyampaikan ideologi. Kata Tanaa (Tanah) dalam semboyan ini tidak hanya merujuk pada materi fisik bumi, melainkan sebuah metafora organik tentang ibu, ruang hidup, dan harga diri. Penggunaan kata Purai (Subur) dan Ngeriman (Rezeki Melimpah) menciptakan sebuah eufoni yaitu keindahan bunyi yang memberikan kesan kemakmuran yang harmonis.

Bagi Generasi Z di Kalimantan Timur, khususnya Kutai Barat, semboyan ini seharusnya menjadi "mantra" identitas. Di tengah masifnya pembangunan dan pergeseran budaya, memahami stilistika di balik Tanaa Purai Ngeriman adalah upaya untuk tidak menjadi asing di tanah sendiri. Semboyan ini adalah sebuah gaya bahasa yang kokoh, yang mengingatkan bahwa kesejahteraan sejati hanya bisa dicapai jika ada keselarasan antara manusia dengan akarnya.

Fakta ini didukung oleh temuan dari Studi Resiliensi Budaya dan Stilistika Lokal di Kutai Barat (2025) yang dilakukan oleh tim peneliti etnografi regional. Data menunjukkan adanya peningkatan minat Gen Z (usia 18–24 tahun) terhadap pemaknaan filosofis semboyan daerah sebesar 45% dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Analisis mendalam terhadap partisipan aktif dalam berbagai komunitas literasi dan budaya mengungkapkan bahwa lebih dari 65% dari mereka menyatakan bahwa memahami kekuatan diksi Tanaa Purai Ngeriman telah membantu mereka dalam memproses isu krisis identitas, kecemasan akan masa depan di era IKN, serta tekanan sosial-budaya.

Tanaa Purai Ngeriman adalah sebuah karya sastra ringkas yang melambangkan keanggunan sekaligus ketangguhan yang bukan sekadar deretan huruf di gapura perbatasan, melainkan identitas budaya yang harus dimaknai secara personal. Memahami stilistikanya berarti menghargai proses kreatif para leluhur dalam merumuskan masa depan melalui bahasa. Tugas besar bagi kita, terutama mahasiswa sastra, adalah memastikan bahwa semboyan ini tetap berdenyut dalam keseharian, bukan menjadi fosil linguistik yang terlupakan. Karena pada akhirnya, tanah yang subur hanya akan bermakna jika manusianya mampu membahasakan rasa syukurnya dengan bangga.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Hari Air Sedunia, Jejak Kepedulian Pertamina dari Pelosok Papua Hingga Wilayah Bencana
• 4 jam lalurepublika.co.id
thumb
Harga Minyak Memanas, China Pilih Batasi Kenaikan BBM Demi Jaga Stabilitas
• 17 jam laluidxchannel.com
thumb
Kasus TB Masih Tinggi, Akademisi Pertanyakan Target Bebas TB 2030 di Indonesia
• 9 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Puncak Arus Balik, 26 Ribu Pemotor Lewat Jalur Pantura Cirebon Menuju Jakarta
• 12 jam laluokezone.com
thumb
Indonesia Kirimkan 17 Wakil pada Kejuaraan Asia 2026 di China
• 9 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.