WFH Sehari per Pekan Dinilai Tak Cukup untuk Hemat BBM, Transportasi Publik Perlu Dibenahi

idxchannel.com
4 jam lalu
Cover Berita

Rencana pemerintah untuk memberlakukan kebijakan Work From Home (WFH) reguler pasca-Lebaran 2026 guna menekan konsumsi BBM mendapat catatan.

WFH Sehari per Pekan Dinilai Tak Cukup untuk Hemat BBM, Transportasi Publik Perlu Dibenahi. (Foto: Inews Media Group)

IDXChannel – Rencana pemerintah untuk memberlakukan kebijakan Work From Home (WFH) reguler pasca-Lebaran 2026 guna menekan konsumsi BBM mendapat catatan kritis dari kalangan akademisi. 

Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat menilai kebijakan tersebut tidak akan efektif menjadi solusi tunggal penghematan energi nasional tanpa adanya reformasi struktural pada sistem mobilitas masyarakat.

Baca Juga:
Badan Energi Internasional Sarankan Negara-Negara Terapkan WFH untuk Hemat BBM

Achmad menekankan bahwa pengurangan satu hari perjalanan ke kantor memang terlihat praktis secara statistik, namun masalah pemborosan energi di Indonesia jauh lebih kompleks daripada sekadar perjalanan komuter.

"WFH satu hari per pekan bisa membantu, tetapi tidak bisa berdiri sendiri sebagai kebijakan penghematan energi nasional. Ia hanya menyentuh satu bagian kecil dari masalah, yaitu perjalanan komuter pekerja kantoran. Sementara itu, pemborosan energi di Indonesia jauh lebih besar dan lebih struktural," tulis Achmad dalam analisisnya, dikutip Selasa (24/3/2026).

Baca Juga:
Pemerintah Pilih Jumat sebagai Hari WFH bagi ASN-Swasta, Ini Alasannya

Menurut Achmad, ada risiko besar jika pemerintah menganggap WFH sebagai "tombol hemat" instan. Ia mengibaratkan kebijakan ini seperti menaruh ember di bawah atap yang bocor; air tertampung, namun lubang pada atap tidak diperbaiki.

Selain itu, ia menyoroti bahwa penghematan energi dari sektor transportasi kemungkinan besar hanya akan berpindah ke sektor rumah tangga dalam bentuk penggunaan listrik dan internet yang lebih tinggi.

Baca Juga:
Purbaya Kaji WFH Tiap Jumat, Targetkan Konsumsi BBM Turun 20 Persen

"WFH seharusnya dipandang sebagai langkah pendukung, bukan pusat kebijakan. Bila WFH diperlakukan sebagai solusi utama, kebijakan ini justru berisiko menjadi pengganti yang nyaman bagi reformasi yang lebih penting tetapi lebih sulit dilakukan," tegasnya.

Achmad berpendapat bahwa kunci utama penghematan energi terletak pada kemudahan masyarakat dalam mengakses transportasi massal yang terintegrasi. Tanpa itu, masyarakat tetap akan terpaksa menggunakan kendaraan pribadi pada empat hari kerja lainnya.

Ia juga menuntut negara untuk memberikan teladan nyata melalui disiplin mobilitas aparatur sipil negara (ASN) dan pegawai BUMN, bukan sekadar memberikan imbauan kepada masyarakat luas.

"Kalau aparatur negara masih datang ke kantor dengan kendaraan pribadi secara massal, maka pesan penghematan energi akan kehilangan wibawa moralnya. Penghematan energi harus dibangun sebagai perubahan cara bergerak, bukan sekadar perubahan lokasi bekerja," pungkasnya. (Wahyu Dwi Anggoro)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Objek Wisata  di Banjarbaru Diserbu Ratusan Pengunjung Luar Daerah
• 23 jam lalutvrinews.com
thumb
Ini Deretan Senjata OPM yang Diamankan TNI usai Kontak Tembak di Nabire
• 5 jam lalurctiplus.com
thumb
Momen Didit Putra Prabowo Dapat Kejutan Kue Ultah dari Megawati-Puan
• 7 jam laludetik.com
thumb
Pendaftaran UTBK SNBT 2026 Dibuka Besok 25 Maret 2026, Atur Strategi Cerdas Pilih 4 Program Studi
• 12 jam laludisway.id
thumb
Pemerintah Batalkan Opsi Belajar dari Rumah, Sekolah Tetap Tatap Muka
• 40 menit lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.