40 Aset Energi di Timur Tengah Rusak Parah Imbas Perang, Rantai Pasok Terancam

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Sekitar 40 aset energi di negara-negara Timur Tengah dilaporkan mengalami kerusakan parah akibat perang di Iran. Hal tersebut berdasarkan data yang diungkapkan oleh Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA), Fatih Birol.

Menurutnya, kondisi itu berpotensi memperpanjang gangguan pada rantai pasok global, bahkan setelah konflik berakhir.

Mengutip Bloomberg, Birol mengatakan kerusakan tersebut membuat ladang minyak, kilang, dan jaringan pipa membutuhkan waktu untuk kembali beroperasi.

Konflik yang telah berlangsung selama lebih dari tiga pekan di Timur Tengah ini telah mengacaukan seluruh rantai pasok energi, hampir menutup jalur vital Selat Hormuz, serta memicu lonjakan harga minyak mentah, gas alam, dan bahan bakar. Menurut Birol, dampak gangguan saat ini setara dengan gabungan dua krisis minyak besar pada 1970-an dan krisis gas alam 2022 setelah invasi Rusia ke Ukraina.

Ia menambahkan, tidak hanya minyak dan gas, sejumlah sektor penting dalam perekonomian global juga terdampak.

“Bukan hanya minyak dan gas, tetapi juga beberapa ‘arteri’ penting ekonomi global, seperti petrokimia, pupuk, sulfur, hingga helium, perdagangannya turut terganggu, yang akan menimbulkan konsekuensi serius bagi ekonomi global,” ujar Birol dalam forum National Press Club di Canberra, Australia, dikutip pada Selasa (24/3).

Birol menyebut Asia menjadi kawasan yang paling terdampak dalam krisis ini karena kebergantungan tinggi terhadap pasokan minyak dari Timur Tengah.

Menanggapi keputusan China membatasi ekspor bahan bakar, Birol menekankan seluruh negara perlu menghadapi krisis energi secara bersama-sama.

“Setiap negara tentu mengutamakan kepentingan domestiknya, tetapi dalam situasi seperti ini, pembatasan ekspor yang ketat tanpa alasan yang jelas mungkin tidak akan mendapat penilaian positif dari komunitas internasional,” ungkap Birol.

IEA pada awal Maret mengumumkan akan melepas cadangan minyak darurat sebanyak 400 juta barel, untuk membantu meredam guncangan pasokan dan menahan lonjakan harga akibat perang di Timur Tengah. Pada pekan lalu, lembaga yang berbasis di Paris tersebut juga mengusulkan langkah-langkah untuk membantu negara pengimpor energi mengurangi permintaan.

Birol menuturkan pelepasan cadangan minyak tambahan dapat dilakukan jika konflik dengan Iran semakin mengganggu pasar energi global dalam beberapa hari atau pekan ke depan. Namun, dengan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang hampir terhenti, ia menekankan solusi utama untuk mengatasi gangguan pasokan energi adalah dengan membuka kembali jalur perdagangan utama tersebut.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Cerita Pemudik Motor Brebes–Jakarta, Bawa Istri dan 2 Anak Cuma Rp200 Ribu
• 5 jam laluokezone.com
thumb
Ultimatum AS Dibalas Iran! Ancaman Konflik Mengerucut di Selat Hormuz Picu Ketegangan Global
• 23 jam lalukompas.tv
thumb
Arus Balik H+2, 91.657 Penumpang Menyeberang dari Bakauheni ke Merak
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Sentimen Perang dan Harga Energi Bayangi Pembukaan IHSG Pasca-Lebaran Besok
• 5 jam lalukatadata.co.id
thumb
52.926 penumpang kereta tiba di Jakarta pada arus balik Lebaran
• 5 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.