Sejumlah analis pasar mulai mempertanyakan waktu pengumuman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump saat perang. Jika melihat polanya, waktu pengumuman penting Trump terkait perang sering dilakukan saat penutupan atau pembukaan perdagangan.
Terbaru, Trump sempat mengumumkan untuk menunda rencana serangan terhadap pembangkit listrik Iran selama lima hari setelah dialog “produktif” bersama Iran. Pengumuman pada Senin (23/3) ini dilakukan tepat sebelum pasar modal dan komoditas AS dibuka pada awal minggu.
Berkat pengumuman ini, indeks saham S&P 500 sempat meroket dan harga minyak mentah turun. Namun, ini tidak bertahan lama karena pihak pemerintah Iran membantah adanya dialog. Pasca bantahan Iran, indeks S&P 500 kembali turun dan harga minyak kembali naik.
Volatilitas ini hanya terjadi dalam waktu singkat. Mengutip Fortune, kapitalisasi indeks S&P 500 sempat bertambah US$ 1,7 triliun (Rp 28,7 kuadriliun) dan harga minyak turun 15% dalam hitungan menit. Tidak sampai sejam, kenaikan nilai S&P 500 terpotong setengahnya setelah bantahan Iran.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menuding Trump melakukan manipulasi pasar dalam pengumumannya terkait dialog damai AS dengan Iran.
“Itu berita palsu yang bertujuan memanipulasi pasar keuangan dan minyak, serta untuk menghindari jebakan yang menjebak Amerika dan Israel,” kata Ghalibah pada Senin (23/3) waktu setempat.
Wall Street punya istilah untuk kelakuan Trump ini, yaitu “Trump Always Chickens Out” alias Trump selalu ciut nyali. Maksudnya, Trump sering melontarkan ancaman bombastis yang memicu kepanikan pasar, lalu balik arah sebelum dampak ekonomi dari pernyataannya benar-benar terasa.
Mantan kepala analis kuantitatif J.P. Morgan, Marko Kolanovic menyebut aksi Trump yang terus berulang ini berdampak negatif pada pasar. Ini juga menunjukkan kebijakan Trump tidak dapat diandalkan dan mudah berubah hanya karena aktivitas perdagangan.
“Manipulasi akan membuat likuiditas lenyap dan masalah aslinya tetap ada,” kata Kolanovic di akun X-nya @markoinny pada Senin (23/3).
Ekonom senior Trade Nation, David Morrison juga mengkhawatirkan hal serupa. Mengutip Business Insider, Morrison mengatakan sulit bagi pasar untuk mengartikan kebijakan Trump jika dia maju-mundur.
Sebagai informasi, serangan AS-Israel ke Iran juga dilakukan pada Sabtu, 28 Februari 2026, ketika perdagangan saham dan minyak ditutup.
Pola Berulang Sejak Pengumuman Tarif GlobalCNN mencatat Trump berulang kali menyampaikan pengumuman kebijakan pada waktu yang terkesan ditujukan untuk memengaruhi pasar keuangan.
Contohnya adalah pengumuman tarif global “Liberation Day” pada 2 April 2025. Konferensi pers dimulai pukul 16.00 waktu setempat, tetapi rincian kebijakan baru disampaikan setelah pasar tutup pada 16.30. Trump juga menetapkan kebijakan tersebut mulai berlaku setelah tengah malam pada 5 April, saat pasar kembali tidak beroperasi.
Setelah pasar saham tertekan tajam seminggu kemudian, Trump menyerukan agar pelaku pasar tetap tenang dan menyebut kondisi tersebut sebagai waktu yang tepat untuk membeli. Ini dilakukan tepat sebelum pembukaan pasar saham AS.
Sehari setelahnya, ketika indeks saham mencapai titik terendah tahunan, ia mengumumkan penundaan 90 hari untuk sebagian besar tarif di atas 10%, yang kemudian mendorong reli saham terbesar sejak 2008.
Hal serupa juga terjadi pada sejumlah kebijakan lain. Pengumuman taif 130% untuk Cina dilakukan setelah penutupan pasar pada 10 Oktober 2025. Trump juga menyatakan urung mengambil alih Greenland sesaat sebelum pembukaan pasar pada 21 Januari 2026, setelah pasar saham dan dolar AS melemah signifikan sehari sebelumnya.




