Jakarta, VIVA - Kenaikan harga minyak dunia menjadi dampak paling nyata dari konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran. Memasuki pekan ketiga, India mulai merasakan efek dari lonjakan harga energi.
Negara di ujung benua Asia ini sangat bergantung pada impor energi, yakni sebesar 85–90 persen kebutuhan minyak mentahnya berasal dari luar negeri. Alhasil, kenaikan harga minyak global mendorong meningkatnya biaya di berbagai sektor ikut melonjak, mulai dari transportasi, manufaktur, hingga harga barang dan jasa yang harus ditanggung konsumen.
Tanda-tanda tekanan bahkan sudah mulai terlihat dalam beberapa pekan terakhir. Distribusi gas memasak mengalami perlambatan, sementara pelaku usaha yang bergantung pada LPG dan LNG, seperti restoran dan industri kecil, mulai merasakan dampaknya.
Direktur PGPM sekaligus Profesor Ekonomi Great Lakes Gurgaon, Dr. VP Singh, memperingatkan, kenaikan harga minyak dapat memicu lonjakan inflasi dalam waktu dekat. “Jika harga minyak bertahan di atas US$100 per barel, inflasi bisa melampaui 5 persen dalam beberapa kuartal ke depan,” ujarnya dikutip dari India Today, Selasa, 24 Maret 2026.
- en.mehrnews.com
Singh melihat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di tingkat konsumen dalam negeri tidak akan bisa ditahan lebih lama lagi. Pasalnya, harga BBM di SPBU seyogyanya mencerminkan harga minyak mentah yang sebenarnya.
Di tingkat global, tekanan yang muncul juga berpotensi lebih luas. Singh menilai risiko perlambatan ekonomi dunia semakin besar jika gangguan pasokan energi terus berlanjut, terutama karena banyak negara masih bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah.
“Ada kemungkinan besar terjadi perlambatan ekonomi global jika gangguan ini berlanjut, khususnya karena ekonomi besar masih sangat bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah,” jelas Singh.
Di satu sisi, Singh menilai India masih memiliki daya tahan yang relatif lebih baik dibandingkan negara lain. Menurutnya, India memiliki kinerja keuangan yang baik.
“India kemungkinan tetap berada dalam jalur pertumbuhan, dengan risiko resesi yang terbatas,” tambahnya.
Saat ini, ekonomi global memang belum memasuki fase resesi. Namun, sejumlah indikator yang biasanya menjadi pemicu mulai terlihat seperti kenaikan harga energi, ketidakpastian pasokan, serta tekanan biaya yang merambat dari pasar ke rumah tangga menjadi sinyal awal yang patut diwaspadai.




