jpnn.com - JAKARTA - Justice and Democracy Forum (JDF) Asia Pasifik mengecam keras kebijakan otoritas Israel yang melarang umat Islam melaksanakan salat selama Ramadan dan Idulfitri di Masjid Al-Aqsa.
Larangan ini pun sudah berlangsung lebih 20 hari di bulan Ramadan, sejak serangan Israel-AS ke Iran.
BACA JUGA: JDF Asia Pasifik Kecam Pengakuan Sepihak Israel atas Somaliland
Presiden JDF Asia Pasifik Dr. Jazuli Juwaini menilai tindakan ini sebagai bentuk nyata pelanggaran hukum internasional dan hak asasi manusia yang makin serius dan berulang dilakukan penjajah Israel.
Menurut dia, larangan tersebut dinilai sebagai langkah yang makin agresif, sekaligus mencerminkan kian beraninya Israel dalam mengabaikan hukum internasional dan norma-norma kemanusiaan global.
BACA JUGA: Malaysia Kecam Tindakan Israel Tutup Masjid Al Aqsa
Jazuli menambahkan bahwa tindakan ini tidak hanya mencederai kebebasan beragama, tetapi juga memperkeruh situasi dan berpotensi memicu ketegangan yang lebih luas.
“Masjid Al-Aqsa bukan sekadar tempat ibadah biasa, tetapi memiliki nilai sejarah dan spiritual yang sangat tinggi bagi umat Islam di seluruh dunia sebagai kiblat pertama umat Islam,” kata Jazuli Juwaini yang juga anggota DPR RI Fraksi PKS.
BACA JUGA: Imam Jazuli Anggap Kiai Kafabihi Mahrus Pantas Memimpin NU
JDF Asia Pasifik menilai bahwa pembatasan terhadap ibadah di Masjid Al-Aqsa merupakan bentuk penindasan yang tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun.
Menurut dia, tindakan tersebut juga berisiko menyulut kemarahan umat Islam global serta mengganggu stabilitas keamanan dan perdamaian internasional.
Oleh karena itu, JDF Asia Pasifik mendesak Dewan Keamanan PBB dan komunitas internasional untuk memaksa Israel tunduk pada aturan status quo terhadap situs bersejarah umat Islam dan Kristen di Yerusalem Timur tersebut. "Serta menghormati hak dan kebebasan beribadah di dalamnya," katanya. JDF juga meminta supaya akses umat Islam ke Masjid Al-Aqsa dibuka sepenuhnya tanpa pembatasan.
"Mengajak negara-negara, khususnya negara mayoritas Muslim, Organisasi Konferensi Islam, Liga Arab, dan lainnya untuk tidak tinggal diam dan mengambil langkah diplomatik yang lebih tegas," ungkap Jazuli.
JDF Asia Pasifik menyatakan bahwa perlindungan terhadap tempat-tempat suci dan kebebasan beribadah adalah tanggung jawab bersama masyarakat dunia.
"Upaya kolektif diperlukan untuk memastikan keadilan dan perdamaian tetap terjaga," kata Jazuli Juwaini. (boy/jpnn)
Redaktur & Reporter : M. Kusdharmadi




