JAKARTA, KOMPAS– Hasil pemeriksaan pengemudi terkait perjalanan libur Idul Fitri 2026 menemukan lebih dari 1.000 pengemudi tidak laik berkendara. Mayoritas pengemudi yang tidak laik tersebut ditemukan dengan tekanan darah tinggi.
Data Kementerian Kesehatan terkait pemeriksaan kesehatan pengemudi Idul Fitri 2026 per 24 Maret 2026 menunjukkan, dari 4.371 pengemudi yang diperiksa setidaknya sebanyak 1.038 pengemudi di antaranya tidak laik berkendara. Dari jumlah yang tidak laik tersebut sebanyak 153 pengemudi ditemukan dengan tekanan darah. Kondisi lain yang ditemukan yakni gula darah tinggi serta positif alkohol ataupun napza (narkotika, psikotropika, dan zat adiktif).
Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan Agus Jamaludin di Jakarta, Selasa (24/3/2026) mengatakan, sejumlah langkah dilakukan sebagai upaya kesiapsiagaan krisis kesehatan pada libur Hari Raya Idul Fitri tahun 2026. Itu antara lain dengan menyiagakan pusat keamanan nasional (Public Safety Center/ PSC), tenaga cadangan kesehatan, serta memantau bencana di seluruh jalur mudik.
Selain itu, para pengemudi juga dilakukan pemeriksaan kesehatan untuk memastikan kelaikan dalam berkendara. “Hasil pemeriksaan pengemudi menunjukkan bahwa sebagian besar pengemudi yang tidak laik menunjukkan tekanan darah tinggi,” katanya.
Agus menambahkan, pemeriksaan kesehatan juga dilakukan pada para pemudik. Setidaknya sebanyak 28.696 pemudik telah melakukan pemeriksaan kesehatan pada 13-23 Maret 2026. Pada pemudik yang diperiksa ditemukan tiga penyakit yang terbanyak, yakni hipertensi atau tekanan darah tinggi, gastritis (peradangan pada lambung), dan cephalgia (nyeri kepala).
Dari pemudik yang diperiksa ditemukan tiga penyakit yang terbanyak, yakni hipertensi atau tekanan darah tinggi, gastritis (peradangan pada lambung), dan cephalgia (nyeri kepala).
Dalam libur Idul Fitri 2026 ini, Kementerian Kesehatan juga membuka setidaknya 2.493 pos pelayanan kesehatan di 321 kabupaten/kota di 28 provinsi. Selain pada pemudik dan pengendara, petugas juga memeriksa pangan di pelabuhan dan bandara. Dari 948 tempat pengelolaan makanan (TPM) ditemukan 12 TPM yang tidak memenuhi syarat. Adapun TPM ini seperti jasa boga, restoran, dan rumah makan.
Selama libur Idul Fitri ini dilaporkan pula 1.975 orang yang mengalami kecelakaan, baik kecelakaan di darat, laut, dan udara. Sebagian besar kasus kecelakaan ditangani di posko kesehatan mencapai 1.118 kasus. Sementara itu, sebanyak 799 kasus dirujuk ke fasilitas kesehatan dan 58 kasus meninggal.
Dihubungi terpisah, dokter penyakit dalam subspesialis konsultan gastroenterologi dan hepatologi RS Cipto Mangunkusumo yang juga Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Ari Fahrial Syam menuturkan, sejumlah ruang gawat darurat di rumah sakit ditemukan dengan keluhan gastroenteritis atau gangguan pada perut, seperti diare. Gangguan yang ditemukan biasanya terkait dengan konsumsi makanan yang tidak sesuai.
“Masalah yang banyak ditemukan sehubungan dengan diare yang bisa karena konsumsi sambal. Kita tahu selama satu bulan penuh berpuasa, kita sudah mengurangi konsumsi makanan pedas. Sementara saat lebaran ini banyak makanan pedas yang dikonsumsi,” tuturnya.
Kondisi tersebut, menurut Ari, membuat kejutan pada perut. Selain diare, kasus yang juga banyak ditemukan akibat banyaknya makanan pedas yakni irritable bowel syndrome atau sindrom iritasi pada usus besar.
Itu sebabnya, masyarakat sebaiknya tidak langsung makan pedas dalam jumlah banyak secara langsung. Selain itu, jangan terlalu banyak makanan yang mengandung cokelat ataupun keju yang terlalu banyak.
Cokelat dan keju merupakan bahan makanan yang bisa menyebabkan gangguan pada katup di bagian bawah kerongkongan (esofagus). Hal itu dapat memicu makanan menjadi balik arah atau refluks.
Ari menambahkan, masalah lain yang juga mesti diwaspadai yakni gangguan pada kantong empedu. Makanan dengan kandungan santan dan lemak yang tinggi seperti gulai dan opor dapat memicu radang kronis pada kantung empedu. Jika orang dengan riwayat gangguan pada kantong empedu tidak menjaga makanan yang dikonsumsi, ia akan berisiko mengalami nyeri pada bagian perut.
“Tetap jaga kesehatan. Kita tahu ketika tubuh terlalu capek, kurang tidur dapat memicu berbagai masalah kesehatan, seperti vertigo, asam lambung tinggi, serta penyakit lain seperti diare, gangguan pada perut. Kondisi itu harus diwaspadai karena banyak dijumpai selama minggu pertama Lebaran,” tutur Ari.





