SEMARANG, KOMPAS — Rekayasa lalu lintas sistem satu arah atau one way nasional resmi diberlakukan mulai dari Kilometer 414 Gerbang Tol Kalikangkung, Kota Semarang, Jawa Tengah, hingga Km 70 Gerbang Tol Cikampek Utama, Jawa Barat, Selasa (24/3/2026). Pada puncak arus balik yang terjadi pada Selasa, jumlah kendaraan yang melintasi Jalan Tol Trans Jawa diperkirakan mencapai 285.000 unit.
Seremoni pembukaan one way nasional dilakukan oleh sejumlah pejabat di Gerbang Tol (GT) Kalikangkung pada Selasa pukul 14.25 WIB. Para pejabat yang terlibat dalam kegiatan itu, antara lain, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratiko, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, dan Kepala Polri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Sebelumnya, one way nasional sepenggal telah diberlakukan sejak Senin (23/3/2026) petang dari Km 390 Kendal, Jateng, hingga Km 70. Rekayasa lalu lintas itu diberlakukan karena kepadatan arus di jalan tol di Jateng pada Senin siang hingga petang meningkat.
"Masyarakat yang akan balik kami harapkan untuk tetap menjaga keamanan dan keselamatan. Oleh karena itu, manfaatkan seluruh fasilitas yang diberikan oleh pemerintah, apakah itu fasilitas yang di rest area, apakah itu fasilitas yang ada di pos pelayanan maupun pos terpadu," kata Listyo usai melepas rombongan one way nasional di GT Kalikangkung, Selasa petang.
Listyo mengatakan, hingga Selasa ini, sekitar 2,88 juta kendaraan keluar dari Jakarta melalui jalan tol. Untuk mencegah kepadatan maupun hambatan di jalan tol selama one way berlangsung, berbagai upaya bakal dilakukan.
Upaya yang disiapkan, antara lain, rekayasa lalu lintas, penggunaan tol fungsional, hingga program-program yang bisa memecah arus balik. Menurut Listyo, masyarakat memiliki banyak waktu untuk melakukan perjalanan balik seiring adanya kebijakan work from anywhere atau WFA. Oleh karena itu, masyarakat masih bisa melakukan perjalanan pada Rabu (25/3) hingga Jumat (27/3).
"Masyarakat juga bisa memanfaatkan penggunaan kereta api sebagai salah satu pilihan moda ternyaman. Dengan begitu, kepadatan di puncak arus balik ini bisa terurai," ucap Listyo.
Dudy menyebut, pada puncak arus balik pada Selasa, jumlah kendaraan yang melintas di Tol Trans Jawa diperkirakan mencapai 285.000 unit. Masyarakat yang bakal melakukan perjalanan di masa puncak arus balik itu diharapkan bisa melakukan perencanaan kepulangan dengan baik.
Dudy juga mengimbau masyarakat memanfaatkan fasilitas yang disiapkan oleh Jasa Marga, termasuk tempat istirahat. Namun, karena keterbatasan, ada beberapa rest area yang harus dibuka-tutup.
"Ada beberapa rest area yang diberlakukan buka tutup, yaitu rest area Km 62 B dan Km 52 B dengan harapan supaya tidak terjadi kepadatan," ujar Dudy.
Selain one way nasional, one way lokal juga mulai diterapkan di Jalan Tol Semarang-Solo, tepatnya dari Km 460 Tingkir, Salatiga, hingga Km 414 Kalikangkung. One way lokal di ruas itu diterapkan mulai Selasa pukul 17.30 WIB.
"Pelaksanaan one way lokal ini sampai dengan situasi arus lalu lintas kembali normal. Nanti setiap jam akan dilakukan analisis dan evaluasi oleh posko terpadu direktorat lalu lintas," kata Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Jateng Komisaris Besar Artanto.
Sebelumnya, one way lokal sudah diterapkan sejak Senin malam sekitar pukul 23.00 WIB dari Km 460 hingga Km 421 GT Banyumanik. Rekayasa lalu lintas itu diakhiri pada Selasa sekitar pukul 06.00 WIB karena kepadatan arus lalu lintas sudah kembali normal sejak pukul 04.00 WIB.
Kemudian, one way lokal kembali diterapkan di tol dalam Kota Semarang Km 424 sampai GT Kalikangkung dari pukul 10.00 WIB. Hal itu untuk mengurai kemacetan di dalam kota. Kebijakan itu diakhiri pada pukul 13.00 WIB.
Artanto menyebut, kepadatan di jalan tol wilayah Jateng terjadi karena peningkatan arus kendaraan jelang masa puncak arus balik. Di samping itu, kemacetan juga terjadi karena adanya antrean kendaraan yang hendak menuju rest area.
"Karena di rest area itu kebanyakan penuh, jadi orang-orang yang ingin buang air terpaksa memarkirkan kendaraannya di pinggir-pinggir jalan di sekitar rest area. Hal itu menimbulkan kepadatan dan menghambat arus lalu lintas," ucapnya.
Selain menghambat arus kendaraan, Artanto menilai, banyaknya kendaraan yang berhenti di bahu jalanberpotensi menyebabkan kecelakaan. Untuk itu, ia mengimbau para pengguna jalan tidak berhenti sembarangan di bahu jalan.
Jika kendaraan rusak atau mogok, pengguna jalan diminta segera memasang rambu-rambu di sekitar kendaraan berhenti, kemudian menghubungi pihak kepolisian maupun pengelola tol untuk meminta bantuan mengevakuasi kendaraan.
Pada saat yang sama, pengemudi maupun penumpang diminta tidak berada di sekitar kendaraan untuk menghindari potensi bahaya, seperti tabrak belakang.
Ada beberapa rest area yang diberlakukan buka tutup, yaitu rest area Km 62 B dan Km 52 B dengan harapan supaya tidak terjadi kepadatan
Sementara itu, sebagian orang memutuskan untuk melakukan perjalanan pada masa puncak arus balik. Hal itu karena mereka berharap bisa sampai tempat perantauan lebih cepat dengan adanya pemberlakuan one way.
Aris (55), warga yang menempuh perjalanan dari Kota Semarang menuju Tangerang Selatan, mengaku sengaja memulai perjalanan pada Selasa pukul 13.45 WIB karena tahu akan ada penerapan one way mulai pukul 14.00 WIB.
Untuk memastikan one way sudah diterapkan ketika kendaraannya sampai di Kalikangkung, Aris juga memantau kamera pemantau atau CCTV di jalan tol.
"Saya memang sengaja ingin melakukan perjalanan saat one way sudah dibuka. Tidak disangka, ternyata pas banget, sampai di sini pas diberlakukan. Saya sengaja pilih one way karena perjalanannya pasti lancar, soalnya semua kendaraan mengarah ke barat," ujarnya.
Dewi (42), warga yang kembali ke Bekasi, Jawa Barat, dari Kudus, Jateng, juga mengaku terpaksa melakukan perjalanan pada puncak arus balik. Hal itu karena Dewi dan suaminya yang merupakan aparatur sipil negara harus mulai bekerja pada Rabu (25/3/2026).
"Alhamdulillah ini malah dapat one way. Karena one way pasti kan lebih lebar jalannya, jadi harapannya nanti lebih lancar," kata Dewi.





