Pedas! Presiden Jerman Kritik Trump, Sebut Perang Iran Kesalahan Besar yang Bawa Bencana

viva.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

VIVA –Perang Iran adalah sebuah kesalahan besar yang membawa bencana dan melanggar hukum internasional. Hal ini disampaikan Presiden Jerman, Frank-Walter Steinmeier pada hari Selasa, dalam kritik yang jarang terjadi dan sangat tegas terhadap kebijakan luar negeri Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Ia menilai kebijakan tersebut menjadi titik retak dalam hubungan Jerman dengan sekutu terbesarnya setelah Perang Dunia II.

Dalam pernyataan yang cukup keras, Steinmeier yang perannya sebagian besar bersifat seremonial sehingga memberinya ruang untuk berbicara lebih bebas dibandingkan politisi lain dengan mengambil sikap yang jauh lebih kritis dibanding Kanselir Friedrich Merz, yang cenderung menghindari pertanyaan soal legalitas perang tersebut.

Baca Juga :
Irak Tolak Bergabung dalam Operasi di Selat Hormuz
PM Jepang Janji Bakal Tempuh Semua Upaya Diplomatik di Selat Hormuz

“Kebijakan luar negeri kita tidak akan menjadi lebih meyakinkan hanya karena kita tidak menyebut pelanggaran hukum internasional sebagai pelanggaran hukum internasional. Kita harus membahas ini terkait perang di Iran. Karena menurut saya, perang ini bertentangan dengan hukum internasional,” ujar Steinmeier, mantan menteri luar negeri dari Partai Sosial Demokrat, dalam pidatonya di kementerian luar negeri dikutip dari laman Reuters, Selasa 24 Maret 2026.

Steinmeier juga menambahkan bahwa ia meragukan alasan yang menyebut adanya ancaman serangan mendadak terhadap target-target Amerika Serikat.

Steinmeier menyebut perang tersebut tidak perlu terjadi dan sebagai kesalahan politik yang sangat merugikan. Ia juga menilai masa jabatan kedua Trump menjadi titik perubahan besar dalam hubungan luar negeri Jerman, sedalam dampaknya seperti invasi Rusia ke Ukraina.

“Sama seperti saya yakin tidak akan ada kembali hubungan dengan Rusia seperti sebelum 24 Februari 2022, saya juga yakin tidak akan ada kembali hubungan transatlantik seperti sebelum 20 Januari 2025,” ujarnya.

Mengurangi ketergantungan

Steinmeier mengatakan Jerman harus belajar dari pengalaman ketika berusaha melepaskan diri dari ketergantungan berlebihan pada Rusia, dan menerapkan pelajaran itu terhadap Amerika Serikat terutama di bidang pertahanan dan teknologi, yang pada akhirnya berkaitan dengan kekuatan.

Jerman juga menekankan pentingnya menciptakan alternatif terhadap teknologi yang didominasi Amerika Serikat, seiring meningkatnya kekhawatiran atas akses AS terhadap teknologi tersebut.

China kembali menjadi mitra dagang terbesar Jerman dalam delapan bulan pertama tahun 2025, menggeser posisi Amerika Serikat karena tarif yang lebih tinggi menekan ekspor Jerman. Nilai perdagangan antara AS dan Jerman sendiri mencapai lebih dari 163 miliar euro (sekitar 190 miliar dolar AS) dalam periode tersebut.

Baca Juga :
Israel Klaim Hantam 4 Markas IRGC di Teheran, Iran Balas dengan Serangan Rudal Beruntun
Trump Sebut Dirinya dan Pemimpin Iran Bisa Berbagi Kendali Selat Hormuz
Tegas! Iran Ancam Pasang Ranjau Laut di Teluk Persia Jika AS Lakukan Hal Ini

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kereta Api Moda Transportasi Terfavorit Pemudik
• 9 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Pemprov NTT Siap Tindak Lanjuti Percepatan Transisi Energi Nasional Berbasis EBT
• 1 jam lalutvrinews.com
thumb
Lawan Arus Balik, Lalin Gebang Kulon–Ajibarang Merayap
• 3 jam lalutvrinews.com
thumb
Arus Balik di Tol Cipali Senin Malam Makin Ramai, Pengemudi Diminta Istirahat Jika Mengantuk
• 19 jam lalurepublika.co.id
thumb
Lonjakan Mobilitas Lebaran, Kereta Api Topang Distribusi BBM Sumbagsel
• 4 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.