VIVA –Perang Iran adalah sebuah kesalahan besar yang membawa bencana dan melanggar hukum internasional. Hal ini disampaikan Presiden Jerman, Frank-Walter Steinmeier pada hari Selasa, dalam kritik yang jarang terjadi dan sangat tegas terhadap kebijakan luar negeri Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Ia menilai kebijakan tersebut menjadi titik retak dalam hubungan Jerman dengan sekutu terbesarnya setelah Perang Dunia II.
Dalam pernyataan yang cukup keras, Steinmeier yang perannya sebagian besar bersifat seremonial sehingga memberinya ruang untuk berbicara lebih bebas dibandingkan politisi lain dengan mengambil sikap yang jauh lebih kritis dibanding Kanselir Friedrich Merz, yang cenderung menghindari pertanyaan soal legalitas perang tersebut.
“Kebijakan luar negeri kita tidak akan menjadi lebih meyakinkan hanya karena kita tidak menyebut pelanggaran hukum internasional sebagai pelanggaran hukum internasional. Kita harus membahas ini terkait perang di Iran. Karena menurut saya, perang ini bertentangan dengan hukum internasional,” ujar Steinmeier, mantan menteri luar negeri dari Partai Sosial Demokrat, dalam pidatonya di kementerian luar negeri dikutip dari laman Reuters, Selasa 24 Maret 2026.
Steinmeier juga menambahkan bahwa ia meragukan alasan yang menyebut adanya ancaman serangan mendadak terhadap target-target Amerika Serikat.
Steinmeier menyebut perang tersebut tidak perlu terjadi dan sebagai kesalahan politik yang sangat merugikan. Ia juga menilai masa jabatan kedua Trump menjadi titik perubahan besar dalam hubungan luar negeri Jerman, sedalam dampaknya seperti invasi Rusia ke Ukraina.
“Sama seperti saya yakin tidak akan ada kembali hubungan dengan Rusia seperti sebelum 24 Februari 2022, saya juga yakin tidak akan ada kembali hubungan transatlantik seperti sebelum 20 Januari 2025,” ujarnya.
Mengurangi ketergantungan
Steinmeier mengatakan Jerman harus belajar dari pengalaman ketika berusaha melepaskan diri dari ketergantungan berlebihan pada Rusia, dan menerapkan pelajaran itu terhadap Amerika Serikat terutama di bidang pertahanan dan teknologi, yang pada akhirnya berkaitan dengan kekuatan.
Jerman juga menekankan pentingnya menciptakan alternatif terhadap teknologi yang didominasi Amerika Serikat, seiring meningkatnya kekhawatiran atas akses AS terhadap teknologi tersebut.
China kembali menjadi mitra dagang terbesar Jerman dalam delapan bulan pertama tahun 2025, menggeser posisi Amerika Serikat karena tarif yang lebih tinggi menekan ekspor Jerman. Nilai perdagangan antara AS dan Jerman sendiri mencapai lebih dari 163 miliar euro (sekitar 190 miliar dolar AS) dalam periode tersebut.





