KOMPAS.TV - Hampir empat pekan, perang Iran dengan Amerika Serikat dibantu Israel, belum menunjukkan tanda mereda.
Seperti masih jauh dari titik akhir, ketiga negara gencar saling balas serangan.
Beragam ancaman terlontar, seolah mengukuhkan diri sebagai pemenang.
Tetapi ketika ancaman perang merembet ke Selat Hormuz, dunia tentu tak bisa tinggal diam. Krisis energi bisa jadi ancaman bagi banyak negara.
Setelah situasi kian runyam dan berlarut, sebanyak 22 negara sebagian besar anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara, (NATO) telah bergabung dalam koordinasi intensif, untuk merancang langkah keamanan di Selat Hormuz.
Sebelumnya, Trump menuding kredibilitas NATO tergerus karena aliansi militer tersebut dinilai lamban membantu Amerika Serikat dalam membuka blokade di Selat Hormuz.
Sebelumnya pada Sabtu lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengultimatum keras Iran, terkait penutupan Selat Hormuz, jalur vital energi dunia.
Trump menuntut Iran membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam. Jika Iran tak patuh, Trump mengancam menyerang fasilitas pembangkit listrik mereka.
Tetapi Iran tak gentar. Negara itu balik mengancam, jika Amerika berani menyerang fasilitas energinya, Teheran akan menutup Selat Hormuz secara total.
Baca Juga: Trump Sebut NATO Pengecut karena Tak Mau Bantu Lawan Iran: Tanpa AS, Mereka Macan Kertas!
#trump #nato #selathormuz
_
Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!
Penulis : Aisha-Amalia-Putri
Sumber : Kompas TV
- trump
- nato
- selat hormuz
- iran
- amerika serikat
- perang iran as israel





