Pemerintah Filipina kini mendeklarasikan keadaan darurat energi nasional dengan alasan bahaya yang mengancam pasokan bahan bakar negara akibat konflik Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran. Presiden Ferdinand Marcos Jr. mengatakan telah menandatangani perintah eksekutif untuk menjaga keamanan energi di tengah gangguan parah pada rantai pasokan global.
Dilansir BBC, Selasa (24/3/2026), perang AS-Israel dengan Iran yang berakibat pada penutupan efektif Selat Hormuz, jalur pelayaran utama, telah mengirimkan gelombang kejut ke pasar energi global. Konflik tersebut menyebabkan kenaikan harga dan kekurangan pasokan. Padahal, Filipina sangat bergantung pada impor bahan bakar dan sangat rentan terhadap gangguan produksi dan pengiriman.
"Keadaan darurat energi nasional dengan ini dideklarasikan mengingat konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah, dan bahaya yang mengancam ketersediaan dan stabilitas pasokan energi negara," kata Marcos dalam perintah eksekutif yang dibagikan kepada media pada hari Selasa.
Marcos mengatakan langkah ini akan memungkinkan pemerintah untuk mengambil "langkah-langkah terkoordinasi" untuk mengatasi gangguan dalam perekonomian negara. Ia menambahkan bahwa sebuah komite telah dibentuk untuk memastikan pergerakan, pasokan, distribusi, dan ketersediaan bahan bakar, makanan, obat-obatan, dan barang-barang penting lainnya berjalan tertib.
Deklarasi tersebut akan tetap berlaku selama satu tahun kecuali diperpanjang atau dicabut oleh presiden.
(maa/imk)





