Ada satu kesadaran sederhana yang perlahan mengubah cara saya memandang pekerjaan sebagai guru: saya tidak selalu tahu, tetapi saya selalu bisa belajar. Dalam keseharian di sekolah, kita sering berhadapan dengan tugas-tugas baru—administrasi yang berubah, program yang belum pernah dijalankan, hingga tanggung jawab tambahan yang di luar kebiasaan. Tidak jarang, respons pertama yang muncul adalah keraguan, karena merasa “tidak tahu”.
Namun, di situlah letak perbedaannya. “Tidak tahu” bukan berarti harus berhenti, melainkan titik awal untuk bertumbuh. Ada batas yang tipis tetapi menentukan antara “tidak tahu” dan “tidak mau tahu”. Yang pertama ("tidak tahu") adalah kondisi awal, yang kedua ("tidak mau tahu") adalah pilihan akhir.
Dalam perjalanan saya, saya belajar melihat setiap tugas sebagai ruang belajar. Ketika dihadapkan pada sesuatu yang baru, saya tidak lagi bertanya “mengapa saya?”, tetapi mencoba bertanya “apa yang bisa saya pelajari dari ini?”. Cara pandang ini perlahan mengubah beban menjadi kesempatan, dan pekerjaan menjadi proses pembentukan diri.
Pengalaman ini kemudian mengubah pendekatan saya saat bersama siswa. Saya ingin mereka memahami bahwa belajar tidak berhenti pada buku, nilai, atau kehadiran di kelas. Belajar adalah tentang rasa ingin tahu—tentang keberanian untuk mencoba, bertanya, gagal, lalu mencoba lagi. Dunia yang mereka hadapi ke depan tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga kemauan untuk terus belajar hal-hal baru yang belum tentu langsung mereka pahami.
“Tidak tahu itu tidak apa-apa asal jangan berhenti di situ.” Karena justru dari ketidaktahuan itulah proses belajar dimulai. Ketika rasa ingin tahu dipelihara dan bertumbuh, di situlah kemajuan diri sebagai manusia terjadi—bukan hanya menjadi lebih pintar, tetapi menjadi lebih siap menghadapi kehidupan.
Pada akhirnya, saya percaya bahwa niat yang baik menentukan arah dalam bekerja dan belajar. Jika kita hanya ingin menyelesaikan kewajiban, kita akan cepat lelah. Namun jika kita ingin bertumbuh, maka setiap pengalaman—baik bagi guru maupun siswa—akan menjadi bagian dari perjalanan yang bermakna.





