Batu Bara Jadi Penyelamat Asia, Tapi Harganya Gak Tertolong: Ambruk!

cnbcindonesia.com
12 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara kembali ambruk.

Harga batu bara pada perdagangan Selasa (24/3/2026) ditutup di US$ 139,75 per ton atau turun 0,53%.

Pelemahan ini memperpanjang tren negatif harga batu bara yang jatuh 4,6% dalam dua hari terakhir. Padahal, harga batu bara sempat terbang 8,7% dalam tiga hari perdagangan pada 19-23 Maret 2026. Pada Jumat pekan lalu, harga batu bara menyentuh US$ 146,5 per ton atau yang tertinggi sejak 17 Oktober 2024.

Harga batu bara ambruk sejalan dengan melemahnya harga gas. Harga gas jatuh 3,7% pada Selasa kemarin. Batu bara dan gas adalah komoditas yang saling melengkapi sehingga harganya saling memengaruhi.

Batu bara gagal menyamai lonjakan harga minyak dunia yang terbang 5% kemarin.

Baca: Liburan Usai, IHSG & Rupiah Bersiap Menyambut Badai

Harga batu bara juga jatuh di tengah banyaknya sentiment positif.

Negara-negara Asia kembali menggunakan ke batu bara di tengah guncangan pasokan energi global akibat konflik di Timur Tengah, khususnya Iran. Gangguan di Selat Hormuz membuat distribusi LNG tersendat dan harga energi melonjak tajam.

Di tengah tekanan tersebut, batu bara kembali menjadi "penyelamat darurat".

Batu bara menjadi bagian penting dari rencana darurat energi Asia. Ketersediaannya yang luas menjadikannya pilihan cadangan utama ketika energi terbarukan atau gas tidak mencukupi.

China, konsumen dan produsen batu bara terbesar dunia, telah membangun kapasitas pembangkit batu bara dalam jumlah rekor sejak 2021 untuk meningkatkan ketahanan energi. Kebijakan nasionalnya tetap mendukung penggunaan batu bara, meski kapasitas energi bersihnya terus berkembang.

India, konsumen dan produsen batu bara terbesar kedua, bersiap menghadapi musim panas ekstrem dan akan mengandalkan batu bara untuk memenuhi puncak permintaan listrik sebesar 270 gigawatt - hampir dua kali kapasitas listrik Spanyol. Negara ini memiliki cadangan batu bara sekitar tiga bulan.

Pengiriman LPG India yang berhasil melewati Selat Hormuz kemungkinan akan dialokasikan untuk industri seperti pupuk, bukan pembangkit listrik.


Asia yang selama ini sangat bergantung pada impor energi, terutama LNG dan minyak, kini menghadapi realitas pahit yakni pasokan terganggu, harga melambung, dan alternatif cepat sangat terbatas. Dalam kondisi ini, batu bara menjadi pilihan paling rasional. Pilihan ini bukan karena bersih, tetapi karena tersedia, murah secara relatif, dan infrastrukturnya sudah siap.

India, misalnya, meningkatkan pembakaran batu bara untuk mengantisipasi lonjakan permintaan listrik saat musim panas. Korea Selatan melonggarkan pembatasan penggunaan listrik berbasis batu bara. Indonesia memilih mengamankan pasokan domestik, sementara Vietnam, Thailand, dan Filipina turut meningkatkan operasional pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

Tekanan terhadap sistem energi makin nyata bahkan Filipina sampai menetapkan status darurat energi nasional.

Perang Iran memperlihatkan betapa rapuhnya sistem energi Asia.

Meski terlihat sebagai solusi cepat, para analis mengingatkan bahwa batu bara hanyalah "penambal sementara". Ketergantungan yang terus berulang justru bisa menjadi jebakan jangka panjang.

Foto: Infografis/ Daftar Negara yang Paling Bergantung pada Selat Hormuz, AS Justru Aman/ Ilham Restu
Daftar Negara yang Paling Bergantung pada Selat Hormuz, AS Justru Aman

 

(mae/mae) Add as a preferred
source on Google

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus, Pengamat: Lebih Tepat Disidangkan di Pengadilan Militer
• 7 jam lalutvonenews.com
thumb
Dubes Saudi Pastikan Ibadah Haji Aman Meski Ada Konflik AS-Israel dan Iran
• 21 jam laludetik.com
thumb
Diperiksa Usai Kembali Jadi Tahanan Rutan KPK, Gus Yaqut: Mohon Maaf Lahir Batin
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Hwang Hyunjin Stray Kids Rilis Single Baru “LOVER”, Begini Liriknya!
• 10 jam lalumedcom.id
thumb
KPK soal Noel Ebenezer Mau Jadi Tahanan Rumah: Kewenangan di Hakim
• 7 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.