QatarEnergy mengumumkan keadaan kahar atau force majeure terhadap beberapa kontrak pasokan gas alam cair (LNG) jangka panjang, termasuk pengiriman ke Italia, Belgia, Korea Selatan, dan China. Hal ini diumumkan di tengah gangguan produksi dan pasokan yang disebabkan perang AS-Israel terhadap Iran.
Keadaan kahar merupakan klausul dalam kontrak yang memungkinkan suatu pihak dibebaskan dari kewajibannya karena peristiwa yang tidak dapat diprediksi. Perusahaan minyak di Kuwait dan Bahrain juga baru-baru ini mengumumkan keadaan kahar.
Dikutip dari Al Jazeera, Rabu (25/3), pasar energi global terguncang sejak AS-Israel meluncurkan serangan ke Iran pada 28 Februari lalu. Serangan rudal dan drone Iran di seluruh Timur Tengah, utamanya di kawasan Teluk, telah menargetkan fasilitas minyak dan gas, memicu kecaman internasional.
Iran juga pada dasarnya menutup Selat Hormuz, jalur air penting di kawasan Teluk yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG dunia. Serangan dan penutupan Selat Hormuz telah memicu kekhawatiran seiring melonjaknya harga energi.
CEO QatarEnergy Saad al-Kaabi pada pekan lalu mengatakan, serangan Iran terhadap fasilitas gas Ras Laffan di Qatar telah menghancurkan sekitar 17 persen kapasitas ekspor LNG negara itu, menyebabkan kerugian pendapatan tahunan sekitar USD 20 miliar dan mengancam pasokan ke Eropa dan Asia.
Kepada Reuters, Saad al-Kaabi mengatakan dua dari 14 unit LNG Qatar, peralatan yang digunakan untuk mencairkan gas alam, dan salah satu dari dua fasilitas gas-to-liquids rusak akibat serangan Iran. Perbaikan akan menghentikan produksi LNG sebesar 12,8 juta ton per tahun selama 3-5 tahun.
Serangan Iran ke Ras Laffan dilakukan setelah militer Israel menargetkan ladang gas lepas pantai South Pars, Iran, yang merupakan ladang gas terbesar di dunia.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari, mengecam Israel atas serangan ke South Pars, menekankan bahwa ladang gas Iran merupakan perpanjangan dari North Field Qatar.
"Serangan itu menandai langkah berbahaya dan tidak bertanggung jawab di tengah eskalasi militer di kawasan. Menargetkan infrastruktur energi merupakan ancaman bagi keamanan energi global, dan juga bagi masyarakat di kawasan dan lingkungannya," kata al-Ansari dalam pernyataannya.
Qatar dan negara-negara kawasan Teluk lainnya juga mengecam serangan Iran yang terus berlanjut terhadap infrastruktur energi di sepanjang kawasan. Mereka menegaskan serangan itu melanggar hukum internasional dan Piagam PBB.





