Bos BlackRock Larry Fink Peringatkan Resesi Global Jika Harga Minyak Tembus US$150

mediaindonesia.com
7 jam lalu
Cover Berita

LARRY Fink, CEO BlackRock sekaligus pemimpin manajer aset terbesar di dunia, memberikan peringatan keras terkait masa depan ekonomi global. Dalam wawancara eksklusif bersama BBC, Fink menyatakan bahwa dunia terancam menghadapi resesi yang "tajam dan curam" jika harga minyak mentah melonjak hingga mencapai US$150 per barel.

Sebagai pendiri perusahaan yang mengelola aset senilai US$14 triliun (sekitar Rp220.000 triliun), pandangan Fink menjadi barometer krusial bagi kesehatan ekonomi dunia. Menurutnya, tensi tinggi di Timur Tengah, khususnya ancaman dari Iran, menjadi faktor penentu arah harga energi ke depan.

Dua Skenario Ekstrem Ekonomi Global

Fink memprediksi dua skenario utama akibat konflik yang sedang berlangsung. Skenario pertama, jika konflik mereda dan Iran kembali diterima oleh komunitas internasional, harga minyak berpotensi turun ke level sebelum perang.

Baca juga : Konflik Iran Picu Lonjakan Harga Minyak, Ancaman Resesi Global di Depan Mata

Namun, ia lebih mengkhawatirkan skenario kedua. "Akan ada periode bertahun-tahun dengan harga minyak di atas US$100, mendekati US$150, yang memiliki implikasi mendalam bagi ekonomi," ujar Fink. Ia menambahkan bahwa dampak akhirnya adalah "kemungkinan resesi yang kaku dan curam."

Lonjakan harga energi ini dinilai Fink sebagai beban berat bagi masyarakat kelas bawah. "Kenaikan harga energi adalah pajak yang sangat regresif. Hal ini lebih berdampak pada masyarakat miskin dibandingkan orang kaya," tegasnya.

Bantah Gelembung AI dan Rebalancing Tenaga Kerja

Di tengah kekhawatiran pasar, Fink menepis anggapan bahwa investasi masif pada Kecerdasan Buatan (AI) saat ini adalah sebuah gelembung (bubble). Ia justru menekankan pentingnya dominasi teknologi agar negara-negara Barat tidak tertinggal dari Tiongkok.

Baca juga : Trump Klaim Terima 'Hadiah Besar' dari Iran terkait Selat Hormuz

Namun, ia menyoroti pergeseran kebutuhan tenaga kerja. Menurutnya, sistem pendidikan saat ini terlalu terfokus pada gelar universitas dan melupakan pelatihan teknis. Fink memprediksi AI justru akan meningkatkan kebutuhan akan pekerja terampil di lapangan.

"Kami benar-benar memberikan penilaian pada begitu banyak pekerjaan dan orang-orang yang mungkin seharusnya tidak terjun ke perbankan, media, atau hukum, [yang] mungkin seharusnya menjadi pekerja tangan yang hebat, dan kita perlu menyeimbangkan kembali pendekatan tersebut sekarang," kata Fink.

Ia merujuk pada pola pendidikan di AS pasca-Perang Dunia II yang terlalu mendorong anak muda untuk kuliah. "Kita perlu menyeimbangkan hal tersebut, dan kita harus bangga bahwa... karier bisa sama kuatnya di bidang tukang ledeng dan teknisi listrik," tambahnya.

Optimisme pada Keamanan Finansial

Meski bayang-bayang resesi menghantui, Fink menegaskan bahwa kondisi saat ini sama sekali tidak mirip dengan krisis finansial 2007-2008. Ia yakin lembaga keuangan saat ini jauh lebih aman dan stabil.

"Saya tidak melihat ada kesamaan sama sekali. Nol," tutup Fink menanggapi kekhawatiran adanya retakan dalam sistem keuangan global. (BBC/Z-2)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Grab Akan Akuisisi Bisnis Foodpanda Rp 10 Triliun, Siap Rambah Taiwan
• 11 jam lalukatadata.co.id
thumb
Mazda Pertimbangkan Mobil Listrik Bertenaga 600 HP, Siap Guncang Pasar!
• 13 jam laluviva.co.id
thumb
One Way KM 188-KM 72 Arah Jakarta Akan Distop, Tol Cipali Sterilisasi Jalur
• 35 menit lalukumparan.com
thumb
Pelapor Khusus PBB Anggap Israel Seperti Diberi Lisensi untuk Siksa Warga Palestina
• 19 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Rumor Konser Menguat, Celine Dion Diduga Siapkan Comeback Besar-besaran
• 21 jam lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.