Krisis Energi Ancam Pasokan Ramyeon hingga Plastik Sampah di Korsel

kumparan.com
8 jam lalu
Cover Berita

Krisis energi akibat perang AS-Israel dengan Iran telah mengancam beberapa komoditas terkait plastik yang penting dalam kehidupan sehari-hari di Korsel. Salah satunya adalah berdampak pada kemasan ramyeon dan plastik sampah.

Dikutip dari Bloomberg pada Rabu (25/3), Korea Chemical Industry Association menjelaskan etilena atau turunan nafta yang digunakan dalam plastik food-grade mengalami lonjakan harga hampir dua kali lipat menjadi lebih dari USD 1.400 per ton sejak Januari.

Nafta merupakan turunan minyak bumi yang menjadi bahan utama dalam produksi plastik.

“Jika itu terjadi, dampaknya akan dirasakan oleh semua pihak yang menggunakan kantong plastik atau polyester, mulai dari mie instan dan obat-obatan hingga pakaian dan ban yang pada dasarnya dapat melumpuhkan seluruh perekonomian,” ujar Direktur Korea Federation of Plastics Industry Cooperatives, Oh Kyung-heon.

Krsis energi membuat perusahaan mie instan atau ramyeon di Korsel memperkirakan hanya memiliki persediaan film plastik untuk kemasan selama beberapa bulan ke depan.

Produsen ramyeonn terbesar seperti NongShim Co saat ini hanya memiliki stok sekitar dua hingga tiga bulan. Sementara Samyang Foods Co memperkirakan kondisi masih stabil untuk satu hingga dua bulan ke depan.

Selain pasokan ramyeon utamanya terkait kemasan, pasokan plastik atau kantong sampah juga terganggu. Tanda-tanda panic buying sudah mulai muncul dengan semakin banyaknya warga yang menimbun kantong sampah akibat kekhawatiran akan pasokan.

Di sebuah toko serba ada di kawasan Yongsan, Seoul, beberapa ukuran kantong sampah sudah habis terjual. Pengisian ulang stok di sana juga akan tertunda setidaknya hingga Kamis.

Supermarket GS The Fresh di wilayah Jung-gu juga melaporkan penjualan kantong meningkat beberapa kali lipat dari rata-rata harian. Situasi itu membuat toko membatasi pembelian maksimal 20 kantong per orang.

Pertimbangkan Penghentian atau Pengurangan Produksi Plastik karena Hambatan Pasokan Nafta

Krisis energi yang terjadi sudah menghambat pasokan nafta atau turunan minyak bumi yang menjadi bahan utama dalam produksi plastik. Hal itu memaksa raksasa kimia Korsel mempertimbangkan penghentian atau pengurangan produksi.

Produsen petrokimia terbesar Korsel yakni LG Chem Ltd juga sudah mengumumkan penghentian sementara salah satu dari tiga fasilitas perengkahan nafta pada Senin lalu.

Meski demikian, LG Chem menyatakan perusahaan tengah berusaha untuk mengamankan bahan baku dari AS dan Afrika. Mereka memperkirakan akhir Maret hingga awal April akan menjadi titik krusial bagi industri.

Saat ini, sekitar setengah pasokan nafta Korea Selatan berasal dari Timur Tengah. Nafta sangat penting dalam kehidupan modern di Korea Selatan karena digunakan untuk berbagai kebutuhan mulai dari kemasan plastik, bahan konstruksi, tekstil, peralatan rumah tangga, hingga pengolahan bensin.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Arus Balik Lebaran, Pemudik Diimbau Pastikan Saldo E-Toll Cukup
• 18 jam lalutvrinews.com
thumb
Hari Pertama Kerja Sidak Kejari Gowa-Takalar, Kajati Sulsel: Tak Ada Toleransi Tambah Libur
• 2 jam laluharianfajar
thumb
Strategi Bisnis Putra Raja Malaysia: Properti Singapura hingga Kripto
• 6 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Arus Balik Lebaran, Jasamarga Catat 133 Ribu Kendaraan Menuju Jakarta
• 10 jam laluviva.co.id
thumb
KPK soal Noel Ebenezer Mau Jadi Tahanan Rumah: Kewenangan di Hakim
• 6 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.