Lebaran selalu membawa kita pulang, bukan hanya ke rumah, tetapi juga ke nilai-nilai dasar yang sering terabaikan dalam kehidupan berbangsa. Ketika takbir bergema dan tradisi saling memaafkan kembali dihidupkan, sesungguhnya Idulfitri sedang mengingatkan bahwa bangsa ini tidak dibangun di atas keseragaman, melainkan di atas kesediaan untuk hidup bersama di tengah perbedaan.
Dalam suasana sosial yang mudah tegang oleh pertentangan politik, sentimen identitas, dan jarak antarkelompok, Lebaran menjadi momentum penting untuk meneguhkan kembali bahwa persatuan nasional bukan warisan yang selesai dijaga, melainkan ikhtiar yang harus terus dibangun dalam konteks berbangsa dan bernegara.
Kehidupan modern yang serba cepat, bangsa kerap kehilangan ruang batin untuk berhenti sejenak dan menilai kembali arah hidupnya. Kita sibuk mengejar target, mempertahankan posisi, dan memperdebatkan banyak hal, tetapi sering lupa bahwa kekuatan utama sebuah negara bukan hanya terletak pada pertumbuhan ekonomi, kekuatan militer, atau kecanggihan teknologinya.
Di atas semua itu, negara yang kokoh bertumpu pada satu hal yang lebih mendasar, yaitu kemampuan warganya untuk hidup bersama, saling percaya, dan bekerja dalam satu semangat kebangsaan. Di titik itulah Lebaran menemukan relevansinya yang paling dalam.
Secara teoritis, makna itu dapat dibaca melalui gagasan Émile Durkheim (1893) dalam karyanya berjudul The Division of Labour in Society, bahwa masyarakat tidak bertahan semata karena aturan, melainkan karena solidaritas moral yang mengikat individu-individu di dalamnya.
Lebaran bekerja dalam ranah itu, dan mengajarkan bahwa kehidupan sosial tidak boleh dibiarkan membeku oleh ego, dendam, dan sekat-sekat yang menumpuk. Tradisi saling memaafkan bukanlah formalitas kultural, melainkan mekanisme etis untuk memulihkan hubungan antarmanusia.
Di tengah masyarakat yang mudah terpecah oleh perbedaan pilihan politik, kelas sosial, maupun identitas kelompok, Idulfitri mengingatkan bahwa kebersamaan harus terus dihidupkan, bukan dibiarkan melemah oleh prasangka.
Gagasan itu menjadi semakin penting bila dikaitkan dengan pandangan Benedict Anderson (1983), yang menyebut bangsa sebagai komunitas politik yang dibayangkan.
Sebuah bangsa berdiri bukan karena seluruh warganya saling mengenal, melainkan karena mereka percaya bahwa mereka terhubung dalam nasib dan cita-cita yang sama.
Dalam konteks Indonesia, kepercayaan itu tidak lahir dengan sendirinya. Melainkan, harus terus dipelihara melalui simbol, pengalaman bersama, dan nilai-nilai yang mengikat.
Lebaran merupakan salah satu ruang kebudayaan yang memperkuat ikatan itu. Ketika seseorang kembali ke kampung halamannya, menyambung tali silaturahmi, menundukkan ego, dan membuka kembali pintu maaf, sesungguhnya momen tersebut sedang mengambil bagian dalam pekerjaan besar merawat bangsa sebagai rumah bersama.
Robert D. Putnam (2000) menyebut unsur-unsur seperti kepercayaan, jejaring sosial, dan norma timbal balik sebagai modal sosial. Bangsa yang memiliki modal sosial kuat akan lebih mampu mengelola demokrasi, memperkuat institusi, dan menjalankan pembangunan secara efektif.
Dari sudut pandang ini, Lebaran bukan sekadar peristiwa spiritual, tetapi juga momentum penguatan modal sosial nasional. Suasana yang mendorong kepedulian, empati, dan kedekatan sosial merupakan energi yang sesungguhnya sangat dibutuhkan Indonesia hari ini, ketika ruang publik sering dipenuhi kecurigaan, polarisasi, dan kecenderungan melihat perbedaan sebagai ancaman.
Indonesia memiliki dasar kebudayaan dan ideologis yang membuat makna itu semakin relevan. Soekarno sejak awal menempatkan gotong royong sebagai sari pati kehidupan berbangsa.
Gagasannya bukan sekadar slogan lama, melainkan konsepsi politik yang dalam, yakni bahwa Indonesia hanya dapat berdiri tegak bila semua unsur bangsa merasa ikut memiliki republik ini.
Gotong royong pada dasarnya merupakan kesediaan melampaui kepentingan sempit demi tujuan yang lebih besar. Dalam semangat Lebaran, nilai itu hadir secara nyata. Orang didorong untuk merendahkan hati, berbagi rezeki, dan memperbaiki hubungan. Semua itu merupakan fondasi moral yang selaras dengan semangat kebangsaan.
Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa nilai persatuan bukan hal asing dalam perjalanan republik. Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada bulan Ramadhan, dalam suasana batin masyarakat yang sangat dipengaruhi nilai pengorbanan, kesabaran, dan penyerahan diri pada cita-cita yang lebih besar.
Menjelang proklamasi, para pendiri bangsa dari latar belakang nasionalis, agama, dan pemuda tidak menonjolkan perbedaannya masing-masing, melainkan mempertemukan energi sejarah mereka dalam satu tujuan, untuk Indonesia merdeka. Di sana tampak jelas bahwa republik ini lahir bukan dari keseragaman, melainkan dari kemampuan menyatukan keragaman.
Nilai yang sama terlihat dalam kiprah tokoh-tokoh seperti KH Abdul Wahid Hasyim yang menempatkan persatuan umat dan persatuan bangsa sebagai prasyarat utama kemerdekaan dan pembangunan negara.
Para pendiri bangsa memahami bahwa perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar, tetapi perbedaan itu tidak boleh dibiarkan berubah menjadi perpecahan yang melemahkan rumah bersama. Dalam banyak episode sejarah, bangsa ini selamat justru karena para elite dan rakyat memiliki kemampuan menahan ego sektoral demi kepentingan nasional yang lebih luas.
Pelajaran sejarah itu terasa sangat penting untuk Indonesia hari ini. Kita hidup di tengah masyarakat yang jauh lebih kompleks dibanding masa awal republik. Arus informasi bergerak cepat, media sosial sering memperkeras sentimen, dan kontestasi politik kerap melahirkan pembelahan psikologis yang bahkan bertahan setelah pemilu usai.
Perbedaan pilihan tidak lagi berhenti pada ruang gagasan, melainkan masuk ke ruang keluarga, pertemanan, bahkan komunitas sehari-hari. Dalam situasi seperti ini, Lebaran seharusnya menjadi jeda yang memulihkan, untuk mengajarkan bahwa tidak semua hal harus dibawa sampai titik pertentangan. Ada ruang yang harus diselamatkan dari kebisingan politik, yakni ruang kemanusiaan dan kebangsaan.
Sebab itu, makna "melepaskan sekat perbedaan" tidak boleh dibaca secara dangkal seolah-olah perbedaan harus dihapus. Indonesia tidak membutuhkan keseragaman. Yang dibutuhkan adalah kedewasaan untuk mengelola perbedaan tanpa kehilangan ikatan sebagai satu bangsa.
Lebaran mengajarkan etika kepada kita semua dengan sangat halus. Semangat ini tidak memaksa orang menjadi sama, tetapi mengajak orang kembali menyadari bahwa di atas segala perbedaan, ada martabat bersama yang harus dijaga. Ada hubungan yang perlu dirawat. Ada kepentingan nasional yang jauh lebih besar daripada kemenangan identitas masing-masing.
Pada sisi konteks pembangunan nasional, pesan ini menjadi sangat penting. Pembangunan tidak pernah hanya soal jalan tol, bendungan, hilirisasi, atau pertumbuhan statistik. Pembangunan pada hakikatnya adalah kerja bersama untuk memperluas kesejahteraan, keadilan, dan martabat manusia.
Dan kerja sebesar itu tidak mungkin berhasil dalam masyarakat yang saling mencurigai dan sibuk mempertajam jarak. Pembangunan memerlukan kepercayaan.
Kondisi ini membutuhkan kohesi sosial, dengan mensyaratkan adanya kemauan untuk berjalan bersama meski latar belakang berbeda-beda. Dengan kata lain, pembangunan nasional pada dasarnya juga merupakan proyek persatuan.
Di sinilah Lebaran menemukan relevansi kebangsaannya yang paling nyata. Idulfitri mengingatkan bahwa bangsa ini hanya dapat melangkah maju bila warganya tidak terjebak pada sekat-sekat yang mempersempit pandangan.
Persatuan bukan berarti meniadakan kritik, dan kebersamaan bukan berarti mematikan perbedaan. Persatuan justru berarti menempatkan perbedaan dalam kerangka yang sehat, agar dapat menjadi sumber kekayaan, bukan sumber keretakan.
Lebaran mengajarkan bahwa kekuatan sejati lahir dari hati yang lapang, dari kesediaan memberi ruang bagi orang lain, dan dari keberanian untuk memulai kembali hubungan sosial dengan niat yang lebih bersih.
Mungkin itulah sebabnya Lebaran selalu terasa lebih besar daripada kalendernya sendiri. Sebab, lebaran bukan hanya hari raya, tetapi panggilan moral.
Lebaran mengajak kita kembali pada kesadaran paling dasar bahwa menjadi bangsa besar tidak cukup dengan memiliki wilayah luas, jumlah penduduk besar, atau sumber daya melimpah.
Bangsa besar adalah bangsa yang mampu menjaga tenunan batinnya, merawat persaudaraan sipilnya, dan menjadikan kebersamaan sebagai kekuatan pembangunan.
Sehingga, selepas takbir bergema dan pintu-pintu rumah kembali terbuka, pertanyaan terpentingnya bukan sekadar apakah kita telah selesai merayakan Lebaran, melainkan apakah kita sungguh membawa pulang maknanya.
Jika Lebaran hanya berhenti pada hidangan, pakaian baru, dan tradisi tahunan, maka hanya akan cepat berlalu sebagai seremoni belaka, tanpa meninggalkan jejak kesan yang mendalam.
Tetapi jika dapat dihayati sebagai momen memperbaiki hubungan, meruntuhkan sekat, dan meneguhkan kembali semangat gotong royong, maka Lebaran akan menjadi tenaga moral bagi persatuan nasional. Dan di tengah tantangan zaman yang tidak ringan, barangkali itulah kemenangan yang paling dibutuhkan Indonesia.
Rasminto. Dosen Universitas Muhammadiyah Indonesia dan Anggota Pusat Pendidikan Wawasan Kebangsaan (PPWK) Provinsi DKI Jakarta.
(rdp/imk)





