Presiden Trump mengunggah pesan pada akun media sosialnya, Sabtu, 21 Maret 2026, bahwa AS akan melakukan serangan besar-besaran terhadap pembangkit listrik terbesar di Iran apabila dalam 48 jam Iran tidak membuka kembali alur pelayaran di Selat Hormuz.
Namun pada Senin, 23 Maret, Trump mengunggah pesan yang sangat kontradiktif. Ia menyatakan bahwa AS menyambut baik proses pembicaraan dengan Iran mengenai gencatan senjata sehingga memberi waktu tambahan lima hari sebelum memutuskan apakah akan meneruskan atau tidak rencana menghancurkan pusat listrik Iran tersebut.
Iran, dalam membalas pernyataan Trump pada 21 Maret, menyatakan bahwa jika AS menyerang pembangkit listriknya maka Iran akan membalas dengan menyerang instalasi listrik dan fasilitas penyulingan air di negara-negara tetangganya. Kehidupan di negara-negara tersebut tentu akan menjadi sangat sulit tanpa listrik. Namun jika pusat penyulingan air di Arab Saudi, UEA, atau Israel hancur, maka tingkat penderitaan masyarakat di negara-negara itu akan jauh lebih berat lagi.
Sementara itu, saat membalas pesan Trump pada 23 Maret, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, juru bicara militer Iran, serta akademisi yang juga penasihat tim negosiasi Iran dengan AS sebelum serangan awal Maret, Mohammad Marandi, menyangkal adanya pembicaraan langsung maupun tidak langsung dengan AS. Bahkan mereka cenderung mencemooh kemungkinan terjadinya pembicaraan tersebut setelah AS dua kali melanggar itikad baik dalam proses perundingan pembatasan pemanfaatan nuklir Iran dengan justru melakukan pengeboman di tengah berlangsungnya negosiasi.
Lalu apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Trump menyampaikan pesan pada 23 Maret tersebut? Jika memang komunikasi antara kedua pihak sedang berlangsung, mengapa Iran menyangkalnya? Apakah Trump, yang kerap menyampaikan pesan yang berubah-ubah, kembali menyampaikan informasi yang tidak benar? Ataukah Pemerintah Iran, yang dikenal tidak memiliki sistem keterbukaan informasi yang luas, justru menyampaikan pernyataan yang tidak benar dengan menyangkal adanya komunikasi tersebut?
Kemungkinan Jika Trump yang Tidak BenarTerdapat beberapa kemungkinan yang menjadi alasan Trump menyampaikan pesan yang menyesatkan tersebut.
Pertama, Trump menyadari bahwa perang dengan Iran sangat merugikan dan berisiko tinggi sehingga ia secara sepihak bersedia menghentikannya. Jumlah korban yang besar, lonjakan harga minyak dan gas dunia, terganggunya logistik dan transportasi di kawasan Teluk Arab atau Teluk Persia yang berisiko meningkatkan inflasi di AS dan dunia serta melemahkan pertumbuhan ekonomi, serangan terhadap instalasi dan fasilitas militer AS di negara-negara GCC yang menimbulkan sikap antipati publik terhadap AS, serta risiko Partai Republik kehilangan mayoritas di Kongres pada Pemilihan Legislatif AS pada November mendatang menjadi taruhan politik yang sangat besar bagi Trump. Namun untuk menjaga citra politiknya, Trump justru menyatakan bahwa Iran yang mengajukan keinginan gencatan senjata.
Kedua, Trump terkejut dan tidak siap menghadapi ketangguhan serta daya tahan Iran dalam perang ini. Semangat tinggi yang didukung oleh moral kuat masyarakat serta administrasi Pemerintah Republik Islam Iran dan militer yang tetap efektif, meskipun seluruh jajaran pimpinan tertingginya telah tewas, berada di luar perkiraan Trump dan kabinetnya. Trump tampaknya telah mundur dari tujuan awal untuk mengganti rezim pemerintahan Iran dan melalui pesannya tersebut mengisyaratkan kesiapan untuk berunding dengan rezim yang sama. Risiko bahwa AS dapat terperangkap dalam perang berkepanjangan di Iran kemungkinan mendorong Trump untuk segera menghentikan konflik tersebut. Dalam berbagai diskusi publik, bahkan muncul istilah sinis sejak peristiwa Liberation Day, yaitu TACO yang berarti “Trump always chickens out”.
Ketiga, pada saat yang sama dengan pernyataan tersebut disampaikan, AS sedang memobilisasi pasukan marinir yang dipersiapkan untuk kemungkinan penyerangan darat serta penguatan persenjataan. Kapal induk USS George H.W. Bush sejak akhir pekan lalu bergerak dari pangkalannya di Norfolk, Virginia, menuju Timur Tengah. Penempatan ini dilakukan untuk menggantikan kapal induk USS Gerald R. Ford yang sedang menjalani perbaikan di pangkalan Souda Bay, Pulau Kreta, Yunani. Artinya, waktu lima hari tersebut kemungkinan diperlukan untuk memberikan jeda waktu bagi mobilisasi pasukan dan penguatan militer AS agar tiba di kawasan konflik.
Keempat, sejumlah analisis keuangan menunjukkan bahwa sekitar 15 menit sebelum pengumuman pada 23 Maret disampaikan, terjadi lonjakan transaksi yang tidak lazim di pasar komoditas berjangka minyak. Transaksi tersebut mengambil posisi bahwa harga minyak Brent maupun WTI, yang saat itu berada pada kisaran 110 hingga 115 dolar AS per barel, akan turun secara drastis. Kenyataannya, harga minyak memang turun hampir 20 persen hanya beberapa menit setelah pengumuman Trump karena berkembang sentimen bahwa gencatan senjata dapat mengarah pada normalisasi situasi yang sebelumnya tertekan akibat perang. Para analis menilai peristiwa ini terlalu tidak biasa untuk dianggap sebagai kebetulan semata dan mencurigai kemungkinan terjadinya praktik insider trading.
Kemungkinan Jika Iran yang Tidak BenarMeskipun ribuan warga Iran telah menjadi korban jiwa serta terjadi kerusakan besar pada fasilitas militer dan infrastruktur umum akibat perang ini, pemerintah dan militer Iran merasa berada dalam posisi yang relatif kuat. Kemampuan Iran untuk terus menyerang Israel dan negara-negara GCC, penutupan Selat Hormuz yang belum mampu ditandingi oleh AS maupun sekutunya, ketahanan serta efektivitas pemerintah dan militer Iran meskipun lebih dari 7.000 objek telah diserang, serta moral masyarakat Iran yang tetap tinggi di tengah perang yang bersifat eksistensial ini dianggap sebagai bukti bahwa Iran tidak perlu meminta gencatan senjata kepada AS.
Sebaliknya, pemerintah Iran justru menyampaikan sejumlah prasyarat untuk gencatan senjata dan dimulainya perundingan. Prasyarat tersebut antara lain penghentian serta jaminan tidak akan ada serangan dari AS dan Israel di masa depan, penutupan fasilitas militer AS di negara-negara GCC sebagai jaminan terhadap prasyarat pertama, serta tuntutan kompensasi atas berbagai kerusakan yang terjadi akibat perang.
Dengan posisi seperti itu, kemungkinan Iran meminta gencatan senjata kepada AS tampak kecil. Namun hal tersebut bukan berarti sama sekali tidak mungkin terjadi. Dengan kondisi ekonomi yang melemah serta infrastruktur dan persediaan kebutuhan pokok yang menurun drastis, pemerintah Iran juga menyadari bahwa perang berkepanjangan akan sangat membebani negara.
Jika perang berlangsung terlalu lama, masyarakat Iran pada akhirnya dapat memandang pemerintahnya sendiri sebagai penyebab penderitaan mereka. Oleh karena itu, kemungkinan adanya pendekatan menuju gencatan senjata tetap ada. Namun pendekatan tersebut hampir pasti tidak dilakukan secara langsung, melainkan melalui perantara. Sejumlah negara disebut tengah berperan sebagai penghubung bagi kedua pihak secara aktif.
Dengan skenario seperti ini, pemerintah Iran tetap berada dalam posisi yang relatif aman. Jika terjadi kemajuan dalam proses pendekatan tersebut dan waktunya dianggap tepat, Iran dapat menyampaikan secara terbuka bahwa proses menuju gencatan senjata dan perundingan sedang berlangsung. Namun apabila pendekatan tersebut tidak membuahkan hasil, Iran dapat dengan mudah menyangkalnya karena sejak awal tidak pernah mengakuinya secara resmi.
What Next?Tidak mudah memperkirakan apa yang akan terjadi dengan berbagai kemungkinan dan skenario tersebut. Namun satu hal yang cukup jelas adalah bahwa dari sisi waktu, baik AS maupun Iran memiliki keterbatasan. Faktor waktu inilah yang kemungkinan besar akan menentukan perkembangan situasi dalam beberapa minggu dan bulan mendatang.
Bagi AS, khususnya Presiden Trump, tekanan waktu terutama berasal dari dinamika politik dalam negeri. Pemilihan legislatif AS akan berlangsung pada November, sementara puncak kampanye diperkirakan mulai berlangsung pada Agustus. Sehebat apa pun kemenangan militer AS atas Iran, hal tersebut tidak serta-merta menghilangkan risiko kekalahan Partai Republik dan kehilangan mayoritas di Kongres. Jika mayoritas tersebut hilang, posisi Trump sebagai presiden akan melemah secara politik dalam sisa masa jabatannya.
Di sisi lain, batas waktu bagi Iran berkaitan dengan besarnya korban yang terus meningkat, terutama di kalangan masyarakat sipil. Kerusakan infrastruktur seperti sekolah, rumah sakit, sumber ekonomi, dan berbagai fasilitas vital lainnya juga menjadi tekanan serius bagi negara tersebut. Namun bagi rezim teokratis Syiah, risiko tersebut mungkin masih dianggap lebih kecil dibandingkan kemungkinan jatuhnya rezim yang telah berkuasa selama sekitar 47 tahun.
Baca Juga: Imbas Perang AS-Iran, Rupiah Diramal Tembus Rp20.400 per dolar AS
Bahkan terdapat risiko lain yang lebih besar, yaitu kemungkinan terjadinya perang saudara atau perebutan kekuasaan seperti yang pernah terjadi di Libya, Suriah, Irak, dan Yaman setelah jatuhnya rezim otoriter di negara-negara tersebut.
Dilihat dari perbandingan risiko tersebut, tekanan waktu tampaknya lebih mendesak bagi AS dibandingkan Iran. Trump diperkirakan hanya memiliki waktu sekitar tiga hingga empat bulan, sedangkan Iran mungkin masih dapat bertahan hingga akhir tahun ini. Keterbatasan waktu yang dihadapi Trump inilah yang kemungkinan mendorongnya menyampaikan pesan pada 23 Maret tersebut.
Jika pendekatan menuju gencatan senjata tidak memberikan hasil setelah batas waktu lima hari yang disampaikan Trump, terdapat dua kemungkinan. Pertama, batas waktu tersebut diperpanjang sehingga memberikan ruang yang lebih luas bagi proses pendekatan yang berlangsung secara tidak terbuka. Kedua, dalam skenario terburuk, intensitas perang dapat kembali meningkat seperti yang terjadi pada minggu sebelumnya dengan seluruh konsekuensi yang menyertainya.





