REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN— Laporan dan analisis Barat mengungkapkan bahwa perang AS-Israel terhadap Iran tidak berjalan sesuai rencana yang disusun di Washington dan Tel Aviv.
Meskipun terjadi serangan gencar, pembunuhan terhadap para pemimpin terkemuka, serta meningkatnya tekanan militer dan ekonomi, rezim Iran tidak runtuh, tidak terjadi pemberontakan internal yang mempercepat kejatuhannya, dan kampanye tersebut juga tidak menghasilkan penyerahan politik yang dapat mencapai tujuan perang dengan cepat.
Baca Juga
Neraka Dimona, Ini Rahasia Sukses Besar Iran Pecundangi Sistem Pertahanan Udara Canggih Israel
Arash 2 Iran Masuk Gelanggang Perang Porakporandakan Sistem Canggih Israel, Ini Rahasianya
Dimona dan Arad Israel Luluhlantah Dibom Iran, Begini Analisis Pakar Militer
Sebaliknya, Teheran menunjukkan kemampuan untuk menahan guncangan, meningkatkan biaya konfrontasi bagi lawan-lawannya, dan mengubah ketahanan semata menjadi keuntungan politik dan moral.
Dalam konteks ini, analisis media Barat dan Israel menyimpulkan satu hal: pihak Amerika dan Israel salah memperhitungkan daya tahan Iran, serta salah memahami dampak perang terhadap situasi dalam negeri Iran dan kawasan secara keseluruhan.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Berikut ini sejumlah kesalahan AS dan Israel sejak memulai perang dengan Iran, sebagaimana dikutip dari Aljazeera, Rabu (25/3/2026).
Pertama, kartu tekanan Iran
Surat kabar Washington Post menunjukkan salah satu aspek utama dari kesalahan penilaian tersebut adalah asumsi bahwa keunggulan militer akan segera mendorong Iran untuk menerima jalan keluar negosiasi dengan syarat-syarat Amerika dan Israel.
Lihat postingan ini di Instagram
Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)