Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Selasa (24/3) memperingatkan konflik Iran kini telah berkembang menjadi krisis global.
Erdogan menilai perang yang terjadi akibat ulah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bukan lagi berdampak regional, melainkan sudah dirasakan seluruh dunia.
“Meski ini adalah perang Israel, seluruh dunia yang harus membayar harganya. Ini adalah perang Netanyahu untuk kelangsungan politiknya, namun delapan miliar manusia yang menanggung akibatnya,” kata Erdogan dalam pernyataan video yang dibagikan Turkish Presidency.
Ia juga menegaskan kekerasan yang dipimpin Netanyahu harus segera dihentikan.
“Jaringan kekerasan yang dipimpin Netanyahu harus segera dihentikan, demi perdamaian kawasan dan kemanusiaan. Setiap negara harus mengambil sikap yang berani dan proaktif,” tegasnya.
Erdogan turut mendorong persatuan kawasan dan menolak eskalasi konflik berbasis kebencian.
“Kami tidak akan menyerah pada bahasa kekerasan, kebencian, dan permusuhan, melainkan menjunjung cinta, perdamaian, dan persaudaraan,” ujarnya.
Ia menambahkan, Turki akan tetap berhati-hati dan tidak terjebak dalam konflik yang lebih luas.
“Kami mengelola proses ini dengan kehati-hatian dan ketenangan, tanpa kehilangan prinsip persaudaraan dan hubungan bertetangga yang baik,” katanya.
Erdogan juga menyinggung visi kawasan bebas teror yang dinilai dapat mencegah perpecahan antar kelompok di Timur Tengah.
“Visi kawasan bebas teror kami juga menghalangi rencana pihak-pihak yang ingin membangun dinding perpecahan antara Turki, Kurdi, Arab, dan Persia,” lanjutnya.
Ketegangan di Timur Tengah sendiri meningkat sejak operasi gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap target Iran pada 28 Februari, di tengah pembicaraan soal program nuklir dan rudal Teheran.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan ke Israel serta posisi militer AS di kawasan, dengan ledakan dilaporkan terjadi di sejumlah negara Teluk.





