Kilang-kilang minyak India telah membeli sekitar 60 juta barel minyak Rusia untuk pengiriman bulan depan, menurut sumber yang mengetahui transaksi tersebut. Langkah ini membantu meredakan kekhawatiran pasokan di tengah perang di Iran yang menghambat arus distribusi.
"Kargo tersebut dibeli dengan premi antara USD 5 hingga USD 15 per barel terhadap harga Brent," kata sumber yang enggan disebutkan namanya karena sensitifnya perdagangan ini dikutip dari Bloomberg, Rabu (25/3).
Berdasarkan data dari Kpler, volume pembelian ini setara dengan bulan berjalan, namun lebih dari dua kali lipat dibandingkan Februari.
Gelombang pembelian ini terjadi setelah adanya pengecualian (waiver) dari Amerika Serikat yang mengizinkan India membeli minyak Rusia yang sudah dimuat ke kapal sebelum 5 Maret untuk menutupi kekurangan pasokan akibat ditutupnya Selat Hormuz. Kebijakan ini kemudian diperluas mencakup negara lain dan diperbarui untuk mengizinkan pembelian minyak mentah yang sudah berada di laut sebelum 12 Maret 2026.
India, yang sangat bergantung pada impor minyak, menjadi pembeli utama minyak Rusia dengan harga diskon sejak invasi ke Ukraina pada awal 2022. Namun, pembelian sempat ditekan tajam sejak akhir tahun lalu akibat tekanan AS, sehingga India beralih ke pasokan dari Arab Saudi dan Irak. Sebagian pasokan tersebut kemudian terjebak di Teluk Persia setelah pecahnya perang.
Pejabat di New Delhi memperkirakan pengecualian dari AS akan terus diperpanjang selama gangguan di Selat Hormuz masih berlangsung, kata sumber tersebut. Kilang seperti Mangalore Refinery & Petrochemicals Ltd. dan Hindustan Mittal Energy Ltd., yang sempat menghindari minyak Rusia sejak Desember, kini kembali masuk ke pasar.
Selain meningkatkan pembelian dari Rusia, pengolah minyak India juga mencari sumber lain untuk mendiversifikasi pasokan di tengah konflik yang berkepanjangan. Pembelian minyak Venezuela untuk pengiriman April diperkirakan mencapai 8 juta barel, tertinggi sejak Oktober 2020, menurut Kpler.
Sementara itu, Rusia meraup keuntungan besar dari meningkatnya permintaan dan harga minyak yang tinggi. Kremlin kini mencatat pendapatan terbesar dari ekspor minyak mentah sejak Maret 2022, tak lama setelah invasi ke Ukraina dimulai.





