Bisnis.com, JAKARTA — Center of Reform on Economics (Core) Indonesia mewanti-wanti harga beras di dalam negeri bisa melonjak imbas potensi kemunculan fenomena super El Nino atau 'Godzilla' pada 2026 yang berisiko memperpanjang musim kemarau.
Berdasarkan laporan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), beberapa model global memprediksi El Nino mulai terjadi sejak April 2026 yang akan diperkuat dengan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif.
Pengamat Pertanian dari Core Indonesia Eliza Mardian mengatakan, fenomena super El Nino berisiko mendorong kenaikan harga beras. Dengan karakter permintaan beras yang inelastis, ujar dia, gangguan pasokan kecil sekalipun dapat langsung memicu lonjakan harga, terlebih jika pelaku pasar menahan stok.
“Kalau ini tidak segera diantisipasi akan berdampak langsung pada inflasi pangan dan menekan daya beli masyarakat, terutama kelompok berpendapatan rendah,” kata Eliza kepada Bisnis, Rabu (25/3/2026).
Pasalnya, Eliza menuturkan, fenomena super El Nino memicu gangguan terhadap kalender tanam. Alhasil, penundaan tanam berpotensi menyebabkan panen mundur dan memicu kekosongan pasokan sementara di pasar, sebagaimana terjadi pada El Nino 2023 yang dampaknya berlanjut ke 2024.
Core menyebut, kondisi ini merupakan risiko serius terhadap sistem pangan karena bukan sekadar siklus iklim biasa. Dia menuturkan, ketika terjadi kombinasi El Nino dan IOD positif, dampaknya hampir selalu berupa kemarau yang lebih panjang, penurunan curah hujan yang signifikan, serta tekanan besar pada ketersediaan air, terutama di sentra produksi seperti di Pulau Jawa.
Baca Juga
- Harga Pangan Rabu (25/3): Beras Turun, Cabai Rawit-Daging Ayam Naik
- Harga Pangan Hari Ini (20/3/2026): Beras, Cabai, Bawang hingga Telur Naik
- Bulog Salurkan Bansos Beras & Minyak Goreng ke 33,24 Juta Penerima
Untuk itu, Core mewanti-wanti kondisi tersebut berpotensi menekan kinerja sektor pertanian, bahkan memicu kontraksi di sejumlah wilayah apabila luas gagal tanam meningkat.
Meski demikian, Eliza menekankan bahwa dampak El Nino tidak selalu identik dengan penurunan produksi secara drastis. Hal ini sangat bergantung pada kapasitas mitigasi dan respons kebijakan yang dilakukan pemerintah.
Dia menambahkan, penurunan luas tanam akibat kekeringan masih bisa dikompensasi melalui peningkatan produktivitas sehingga total produksi relatif dapat dijaga.
Eliza mencontohkan, pengalaman China saat El Nino 2023, di mana produksi tetap meningkat meski luas panen menurun karena didukung infrastruktur dan teknologi pertanian yang memadai.
Namun, dia menilai kapasitas Indonesia untuk melakukan kompensasi tersebut masih terbatas. Menurutnya, struktur pertanian domestik masih sangat bergantung pada curah hujan, dengan dominasi lahan tadah hujan serta sistem irigasi yang belum optimal menghadapi kekeringan skala besar.
Selain itu, adopsi teknologi dan benih tahan kekeringan juga belum merata, serta mayoritas petani masih menggunakan benih lama dengan skala usaha kecil, sehingga intensifikasi sulit dilakukan secara cepat.
Dalam skenario El Nino ekstrem, Eliza memperkirakan potensi penurunan produksi tetap terbuka akibat menyusutnya luas tanam. Secara historis, El Nino menurunkan produksi padi nasional sekitar 1%–3% dan dapat mencapai 2%–5% dalam kondisi ekstrem.
Meski demikian, dampak terbesar kerap terjadi di tingkat daerah, terutama wilayah yang minim akses air. Penurunan produksi bisa jauh lebih dalam akibat kekeringan dan puso.
Untuk itu, dia menilai pemerintah perlu mengoptimalkan manajemen air melalui waduk dan irigasi, mempercepat pembangunan infrastruktur air, serta menyesuaikan kalender tanam berbasis data iklim.
Di samping itu, lanjut dia, distribusi benih tahan kekeringan, penguatan penyuluhan, serta adopsi teknologi hemat air perlu diperluas. Di sisi lain, penguatan cadangan beras pemerintah (CBP) juga perlu sebagai buffer untuk meredam gejolak harga dan menjaga kelancaran distribusi antarwilayah.
“Jadi ketika harga naik, kelas menengah bawah bisa akses harga beras yang harganya masih terjangkau,” sambungnya.
Di samping itu, Core menilai para pelaku usaha juga perlu menyesuaikan strategi, termasuk diversifikasi sumber pasokan dan penguatan manajemen stok agar tidak terjadi disrupsi rantai pasok.





