Krisis Energi, Filipina Tak Tutup Kemungkinan Setop Penerbangan

viva.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Konflik Iran vs Israel-Amerika Serikat (AS) kembali memicu kekhawatiran global, terutama terkait pasokan energi. Perang kini tidak hanya berdampak pada kawasan tersebut, tetapi juga mulai dirasakan negara-negara Asia yang bergantung pada impor minyak, termasuk Filipina. 

Sektor penerbangan menjadi salah satu yang paling terdampak karena ketergantungannya pada bahan bakar jet. Lonjakan harga minyak dan potensi gangguan distribusi, membuat sejumlah maskapai mulai mengambil langkah antisipasi. 

Baca Juga :
Krisis Membayangi, Ini 10 Cara Hemat Energi dalam Kehidupan Sehari-hari yang Bisa Diterapkan Mulai Sekarang
Inggris Usul KTT Khusus Bahas Keamanan Pelayaran di Selat Hormuz

Bahkan, pemerintah Filipina kini membuka kemungkinan ekstrem berupa penghentian operasional pesawat jika situasi semakin memburuk. Hal tersebut disampaikan Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr.

"Beberapa negara telah memberi tahu maskapai kami bahwa mereka tidak dapat mengisi bahan bakar pesawat, sehingga mereka harus membawa bahan bakar untuk perjalanan pergi dan pulang,” ujar Marcos, sebagaimana dikutip dari The Japan Times, Rabu, 25 Maret 2026.

"Penerbangan jarak jauh akan menjadi masalah yang jauh lebih serius,” sambungnya. "Kami berharap tidak, tetapi itu adalah kemungkinan yang nyata,” ungkap Marcos saat ditanya terkait kemungkinan menghentikan operasional maskapai. 

Sebagaimana diketahui, Filipina termasuk negara yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor energi. Kondisi ini membuat negara tersebut lebih mudah terdampak oleh gangguan pasokan maupun lonjakan harga bahan bakar di pasar global.

Maskapai Mulai Kurangi Penerbangan

Dampak langsung mulai terlihat di industri penerbangan. Maskapai berbiaya rendah Cebu Air telah mengumumkan rencana untuk mengurangi jumlah penerbangan mulai bulan depan akibat kenaikan harga bahan bakar.

Di kawasan Asia lainnya, Vietnam Airlines menghentikan sementara beberapa rute domestik. Sementara itu, VietJet Aviation memilih mengurangi frekuensi penerbangan.

Maskapai Bamboo Airways juga menyatakan akan tetap beroperasi selama periode perjalanan puncak, namun memperingatkan bahwa jumlah penerbangan bisa lebih sedikit dibandingkan tahun lalu jika harga minyak tetap tinggi.

Di sisi lain, Menteri Energi Filipina, Sharon Garin, menyampaikan bahwa pasokan bahan bakar maskapai saat ini masih dalam kondisi aman. "Kami bertemu mereka karena ingin mengetahui apakah mereka membutuhkan bantuan dalam pengadaan, tetapi mereka meyakinkan kami bahwa mereka baik-baik saja,” ujarnya.

Baca Juga :
Bursa Asia Kinclong Respons Klaim Trump Soal Sinyal Damai AS-Iran
Tegas! Iran Ancam Serang Tentara Israel di Gaza
Terungkap! Isi Percakapan Trump-Netanyahu 48 Jam Sebelum Khamenei Tewas

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ben White Kembali Perkuat Timnas Inggris Setelah Absen Tiga Tahun
• 13 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Daftar UTBK-SNBT 2026, Segini Biaya dan Cara Pembayarannya
• 6 jam lalumedcom.id
thumb
Dua Maling Motor di Ngagelrejo Surabaya, Dihajar Massa
• 5 jam lalurealita.co
thumb
Komplet! Ini Daftar Staf Kepelatihan Timnas Indonesia Era John Herdman: eks Kapten Timnas Kanada Resmi Gabung
• 1 jam lalubola.com
thumb
UI perluas internasionalisasi pendidikan lewat MOU dengan HKMU
• 6 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.