Inggris menawarkan diri untuk menjadi tuan rumah KTT keamanan internasional untuk menyusun rencana kolektif pembukaan kembali Selat Hormuz, di tengah dampak ekonomi yang terus berlanjut akibat perang Iran-Israel yang melibatkan Amerika Serikat (AS).
Mengutip The Guardian, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan perang yang tengah berlangsung belum tentu akan berakhir dalam waktu cepat, meskipun Presiden AS Donald Trump sempat menunda serangan terhadap fasilitas pembangkit listrik di Iran.
Starmer menyampaikan hal tersebut di hadapan komite penghubung parlemen pada Senin (22/3). Dia menegaskan, eskalasi konflik masih berpotensi berlanjut dan dampaknya terhadap ekonomi global tidak bisa dianggap sepele.
Inggris dan sekutunya mendesak de-eskalasi perang yang cepat, seiring meningkatnya kekhawatiran tentang kerusakan ekonomi akibat penutupan selat tersebut. Salah satu dampak yang disoroti adalah meroketnya harga minyak dan biaya pinjaman pemerintah serta efek dominonya pada inflasi.
Para petinggi pertahanan telah membahas bagaimana selat yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global tersebut bisa kembali dibuka.
Kementerian Pertahanan juga telah mengirimkan perencana militer ke Komando Pusat AS untuk mempelajari opsi-opsi agar kapal tanker dapat melewati selat tersebut.
Lebih dari 30 negara termasuk Uni Emirat Arab, Inggris, Prancis, Jerman, Kanada, dan Australia telah menandatangani pernyataan bersama untuk melakukan upaya yang tepat soal perlindungan jalur perairan tersebut.
Para petinggi militer Inggris telah mengadakan pembicaraan soal hal-hal praktis terkait pengamanan selat tersebut, termasuk pengerahan pesawat nirawak penyapu ranjau ke Teluk, setelah negara-negara Barat menolak permintaan Donald Trump untuk mengirim kapal angkatan laut saat perang berada pada titik yang sangat berbahaya.
"Akan ada pertemuan lanjutan, militer ke militer, para kepala staf pertahanan dari kelompok yang lebih luas yang telah menandatangani (pernyataan) itu, dan berpotensi mengundang negara-negara lain yang belum menandatanganinya, pada akhir pekan ini,” tutur salah satu pejabat pertahanan Inggris dikutip dari the Guardian, Rabu (25/3).
“Saya memperkirakan bahwa suatu saat di masa mendatang akan ada semacam konferensi keamanan Selat Hormuz,” imbuhnya.
Pertemuan itu nantinya akan digelar di London, tepatnya di markas besar angkatan laut di Portsmouth. “Untuk membangun koalisi ini dan mengembangkan momentum sehingga segera setelah kondisinya tepat, kita dapat membuka jalur aman melalui selat tersebut dan memberikan jaminan kepada kapal dagang,” tambah pejabat tersebut.
Ketua Komite Strategi Keamanan Nasional Parlemen Inggris, Matt Western, menilai konflik ini berpotensi menjadikan masa kepemimpinan Trump sebagai salah satu yang paling mahal bagi ekonomi global.
Dia mengkritik langkah militer Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang dinilai berdampak besar terhadap stabilitas ekonomi dunia.
“Kesalahan militer Trump dan Netanyahu melumpuhkan ekonomi global dan membebani konsumen Inggris. Terlepas dari upaya pemerintah, kita masih sangat bergantung pada minyak dan gas,” ujar Western.
Western juga menyoroti pentingnya Selat Hormuz sebagai jalur distribusi energi global. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur tersebut, yang kini disebutnya hampir terhenti.
Kondisi itu mendorong lonjakan harga energi secara signifikan. Harga gas dilaporkan hampir dua kali lipat, sementara harga minyak melonjak tajam.
Dia pun mendesak para pemimpin Barat untuk tetap konsisten mendorong de-eskalasi konflik. Menurut dia langkah tersebut mendesak guna mencegah dampak ekonomi yang lebih luas.
Western menilai kebijakan Trump sebagai kesalahan strategis besar yang justru merugikan sekutu dan menguntungkan pihak lain seperti China dan Rusia.





