Perang AS-Israel terhadap Iran mulai berdampak pada industri penerbangan. Biaya operasional maskapai mulai terkerek seiring dengan kenaikan harga minyak akibat terganggunya pengiriman di Selat Hormuz.
Sekretaris Jenderal Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Bayu Sutanto, mengatakan sejumlah maskapai dari kawasan Timur Tengah bahkan telah menghentikan penerbangan ke Indonesia.
Menurut Bayu, untuk penerbangan domestik di Indonesia saat ini memang belum terdampak secara langsung. Namun, tekanan biaya sudah mulai terasa, terutama dari sisi bahan bakar pesawat atau avtur yang harganya mengikuti lonjakan minyak dunia.
“Saat ini harga avtur di bandara-bandara Indonesia belum ada kenaikan sampai 31 Maret. Hanya untuk harga avtur internasional flight sudah ada penyesuaian sejak 2 minggu terakhir. Kemungkinan besar harga avtur (selain harga bensin) mulai 1 April di semua bandara akan naik,” kata Bayu kepada kumparan, (25/3).
“Apa pun produknya, kalau biaya operasi naik ya harga jual juga naik. Avtur itu sekitar 35 persen dari biaya operasional maskapai,” imbuh Bayu.
Dia juga menyebutkan harga avtur sudah naik berkisar antara 34 persen hingga 48 persen dari 2019 pada saat Tingkat Batas Atas (TBA) ditetapkan. Kenaikan harga avtur yaitu dari Rp 10.442 menjadi sekitar Rp 14.000 hingga 15.500 saat ini.
Kemudian Bayu menjelaskan TBA ditetapkan pada 2019 saat nilai tukar sekitar Rp 14.000 per dolar AS, sementara saat ini sekitar Rp 17.000 atau naik sekitar 20 persen. Sementara 70 persen biaya operasional maskapai menggunakan dolar AS.
Selain harga avtur yang akan meroket, industri penerbangan juga menghadapi tekanan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, hingga gangguan rantai pasok suku cadang pesawat.
Dia menyebutkan saat ini di banyak maskapai di berbagai negara yang melakukan penyesuaian biaya operasional dengan menambahkan fuel surcharge antara 5 persen hingga 70 persen.
Maskapai-maskapai tersebut di antaranya Air India, Air India Express, IndiGo dan Akasa Air dari India, South African Airlines, FlySafair dari Afrika Selatan, Cathay Pacific dan Hong Kong Airlines dari Hong Kong.
Kemudian Thai Airways dari Thailand, Qantas dari Australia, Korean Air dan Asiana dari Korea Selatan, Air Mauritius, Ethiopian Airlines, Kenya Airlines dan maskapai-maskapai lainnya.
Selain itu, konflik geopolitik juga memaksa sejumlah maskapai mengubah rute penerbangan menjadi lebih panjang untuk menghindari wilayah konflik. Hal ini membuat konsumsi bahan bakar meningkat dan biaya operasional makin membengkak.
Di sisi permintaan, jumlah penumpang ke kawasan Timur Tengah, terutama untuk perjalanan umrah, disebut mulai menurun. Sementara itu, potensi penurunan wisatawan mancanegara dari Eropa dan Timur Tengah juga menjadi risiko tambahan bagi industri.
Dengan kondisi tersebut, INACA mengajukan permohonan kepada pemerintah untuk menaikkan fuel surcharge sebesar 15 persen, serta menaikkan tiket pesawat domestik dengan besaran yang sama.
“Menaikkan fuel surcharge sebesar 15 persen atas masing-masing fuel surcharge yang telah ditetapkan melalui KM 7 Tahun 2023 tanggal 10 Januari 2023. Menaikkan TBA harga tiket penerbangan domestik dengan kenaikan sebesar 15 persen untuk pesawat udara jenis jet dan pesawat udara jenis propeller atas TBA yang ditetapkan melalui KM 106 Tahun 2019,” tuturnya.
Asosiasi juga meminta sejumlah stimulus sementara, seperti penundaan pajak avtur dan tiket, serta keringanan biaya bandara, guna menjaga keberlangsungan usaha maskapai di tengah tekanan biaya.
“Permintaan ini INACA ajukan untuk mengantisipasi penyesuaian harga avtur dari Pertamina per tanggal 1 April 2026 serta untuk tetap menjamin keberlangsungan usaha, keterjaminan keselamatan, serta ketersediaan konektivitas angkutan udara nasional dengan mempertahankan tingkat keselamatan yang tinggi,” tutup Bayu.





