Cirebon (ANTARA) - Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung (Cimancis), Jawa Barat, menyiapkan berbagai peralatan seperti pompa surya untuk mengantisipasi dampak musim kemarau 2026 yang diperkirakan datang lebih cepat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Kepala BBWS Cimancis Dwi Agus Kuncoro di Cirebon, Rabu, mengatakan pihaknya mulai mempersiapkan sejumlah langkah untuk menjaga ketersediaan air bagi petani, terutama di wilayah yang rawan kekeringan.
“Kalau biasanya kemarau datang akhir Mei atau Juni, tahun ini diperkirakan mulai April dan puncaknya terjadi pada Agustus,” katanya.
Untuk menghadapi kondisi itu, BBWS Cimancis menyiapkan berbagai peralatan penanganan kekeringan, seperti pompa air khusus kekeringan, sprinkler, drone penyiram air, hingga alat pengebor sumur dangkal.
Selain itu, pihaknya juga mengembangkan pompa kekeringan berbasis tenaga surya yang dapat dimanfaatkan oleh kelompok tani untuk membantu pengairan lahan saat pasokan air berkurang.
“Pompa ini bisa dipinjam gratis oleh petani. Sistemnya bergiliran, misalnya dipakai sekitar satu sampai dua minggu, kemudian dipindahkan ke wilayah lain yang membutuhkan,” ujarnya.
Baca juga: Pemprov Jabar imbau pemkab/pemkot antisipasi dampak musim kemarau 2026
Ia mengemukakan saat ini BBWS Cimancis baru memiliki tiga unit pompa tenaga surya hasil pengembangan sendiri.
Meski begitu, ia mengaku jumlah tersebut masih jauh dari kebutuhan ideal karena dengan kewenangan pengelolaan delapan daerah irigasi, kebutuhan pompa diperkirakan mencapai sekitar 24 unit atau tiga unit untuk setiap daerah irigasi.
Selain pengadaan pompa, BBWS Cimancis juga mengoptimalkan pemanfaatan embung dan bendungan sebagai sumber cadangan air selama musim kemarau.
Ia mengatakan tampungan embung umumnya hanya mampu mencukupi kebutuhan air untuk satu musim tanam, sehingga pengelolaannya harus disinergikan dengan pasokan air dari bendungan.
“Biasanya embung bisa menopang satu musim tanam, sedangkan saat kemarau panjang kebutuhan air lebih banyak mengandalkan bendungan,” ujarnya.
Menurut dia, beberapa wilayah masih memiliki potensi kekeringan karena belum sepenuhnya terlayani jaringan bendungan, seperti sebagian daerah hilir Majalengka dan kawasan Cirebon timur.
Di wilayah tersebut, kata dia, petani didorong memanfaatkan sumur dangkal dengan kedalaman sekitar 10 meter yang dilengkapi pompa tenaga surya untuk memenuhi kebutuhan air skala kecil.
Baca juga: BMKG prediksi sejumlah daerah masuki musim kemarau mulai April 2026
Agus menambahkan, berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya, dukungan pompa air serta pengelolaan irigasi yang lebih baik mampu membantu petani menjaga produktivitas pertanian.
“Dengan dukungan pompa, embung, dan bendungan yang ada, kami optimistis kebutuhan air pertanian masih bisa dipenuhi hingga akhir musim kemarau, bahkan sampai Desember,” katanya.
Kepala BBWS Cimancis Dwi Agus Kuncoro di Cirebon, Rabu, mengatakan pihaknya mulai mempersiapkan sejumlah langkah untuk menjaga ketersediaan air bagi petani, terutama di wilayah yang rawan kekeringan.
“Kalau biasanya kemarau datang akhir Mei atau Juni, tahun ini diperkirakan mulai April dan puncaknya terjadi pada Agustus,” katanya.
Untuk menghadapi kondisi itu, BBWS Cimancis menyiapkan berbagai peralatan penanganan kekeringan, seperti pompa air khusus kekeringan, sprinkler, drone penyiram air, hingga alat pengebor sumur dangkal.
Selain itu, pihaknya juga mengembangkan pompa kekeringan berbasis tenaga surya yang dapat dimanfaatkan oleh kelompok tani untuk membantu pengairan lahan saat pasokan air berkurang.
“Pompa ini bisa dipinjam gratis oleh petani. Sistemnya bergiliran, misalnya dipakai sekitar satu sampai dua minggu, kemudian dipindahkan ke wilayah lain yang membutuhkan,” ujarnya.
Baca juga: Pemprov Jabar imbau pemkab/pemkot antisipasi dampak musim kemarau 2026
Ia mengemukakan saat ini BBWS Cimancis baru memiliki tiga unit pompa tenaga surya hasil pengembangan sendiri.
Meski begitu, ia mengaku jumlah tersebut masih jauh dari kebutuhan ideal karena dengan kewenangan pengelolaan delapan daerah irigasi, kebutuhan pompa diperkirakan mencapai sekitar 24 unit atau tiga unit untuk setiap daerah irigasi.
Selain pengadaan pompa, BBWS Cimancis juga mengoptimalkan pemanfaatan embung dan bendungan sebagai sumber cadangan air selama musim kemarau.
Ia mengatakan tampungan embung umumnya hanya mampu mencukupi kebutuhan air untuk satu musim tanam, sehingga pengelolaannya harus disinergikan dengan pasokan air dari bendungan.
“Biasanya embung bisa menopang satu musim tanam, sedangkan saat kemarau panjang kebutuhan air lebih banyak mengandalkan bendungan,” ujarnya.
Menurut dia, beberapa wilayah masih memiliki potensi kekeringan karena belum sepenuhnya terlayani jaringan bendungan, seperti sebagian daerah hilir Majalengka dan kawasan Cirebon timur.
Di wilayah tersebut, kata dia, petani didorong memanfaatkan sumur dangkal dengan kedalaman sekitar 10 meter yang dilengkapi pompa tenaga surya untuk memenuhi kebutuhan air skala kecil.
Baca juga: BMKG prediksi sejumlah daerah masuki musim kemarau mulai April 2026
Agus menambahkan, berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya, dukungan pompa air serta pengelolaan irigasi yang lebih baik mampu membantu petani menjaga produktivitas pertanian.
“Dengan dukungan pompa, embung, dan bendungan yang ada, kami optimistis kebutuhan air pertanian masih bisa dipenuhi hingga akhir musim kemarau, bahkan sampai Desember,” katanya.





