Anak Harimau Benggala Mati dalam Pusaran Konflik Bandung Zoo 

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Sudah tujuh bulan terakhir Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoo ditutup karena konflik manajemen. Di tengah masalah yang belum terselesaikan itu, satu anak harimau benggala berusia delapan bulan mati karena terpapar virus oleh induknya pada Selasa (24/3/2026) kemarin.

Anak harimau bernama Hara yang dilaporkan mati pada usia 8 bulan, sedangkan anak harimau lainnya bernama Huru berhasil selamat setelah dalam kondisi kritis. Dua anak harimau itu lahir 12 Juli 2025 dari pasangan harimau benggala bernama Sahrulkan dan Jelita.

Selang sebulan kelahiran dua anak harimau benggala itu, Kebun Binatang Bandung ditutup Pemerintah Kota Bandung tepatnya pada tanggal 6 Agustus 2025. Hara termasuk 711 satwa yang terjebak dalam pusaran masalah tersebut.

Penutupan akibat konflik pengelolaan Bandung Zoo yang melibatkan dua kubu pengurus Yayasan Margasatwa Tamansari (YMT). Salah satu kubu yang terlibat konflik adalah pengurus manajemen YMT lama yang terdiri dari Gantira, Bisma Bratakusuma, dan Petrus Arbeny.

Adapun kubu lainnya adalah manajemen baru yang dipimpin Ketua YMT John Sumampauw dan Tressia Spanov selaku General Manager YMT.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan saat ditemui sesuai memantau arus balik penumpang di Terminal Bus Leuwipanjang, Rabu (25/3/2026) membenarkan matinya anak harimau benggala bernama Hara. Ia menyatakan Hara mati murni karena sakit.

Farhan menjelaskan, induk harimau tersebut merupakan carrier atau pembawa virus yang kemudian menular kepada anak-anaknya sejak lahir. Dari dua anak harimau yang terinfeksi, satu tidak berhasil diselamatkan. Sementara anak harimau yang lainnya masih dalam penanganan intensif.

“Hara mati bukan karena tidak terawat, tapi karena virus yang dibawa induknya. Ini memang virus khas pada keluarga kucing besar,” papar Farhan.

Ia mengungkapkan, virus yang menyerang tersebut adalah Feline Panleukopenia, penyakit yang umum menyerang keluarga felin seperti harimau dan kucing. Virus ini diketahui dapat menyebabkan penurunan drastis sel darah putih, sehingga membuat kondisi tubuh hewan menjadi sangat lemah.

Baca JugaMasa Depan Abu-abu Gajah Salma dan Ratusan Satwa Bandung Zoo 

Menurut Farhan, seluruh anak harimau langsung dipisahkan dari induknya sebagai langkah penanganan sejak awal. Sementara induknya dalam kondisi sehat karena telah memiliki daya tahan terhadap virus tersebut, sementara anak-anaknya masih rentan.

Pemkot Bandung bersama tim dokter hewan kini terus melakukan pemantauan ketat terhadap satu anak harimau yang masih bertahan. Berdasarkan laporan terbaru, kondisi anak harimau tersebut mulai membaik.

Penanganan medis dilakukan secara intensif oleh tim yang terdiri dari lima dokter hewan. Pengobatan meliputi pemberian antibiotik, antiemetik (anti-muntah), cairan rehidrasi untuk mencegah dehidrasi, suplemen imun, serta antivirus.

Anak harimau tersebut telah melewati fase kritis 72 jam setelah sakit sejak Senin. Hal inilah menjadi yang menjadi indikator penting dalam proses pemulihan.

“Anak harimau yang masih dirawat kini tak lagi mengalami diare dan muntah. Kondisinya lebih aktif dibandingkan hari sebelumnya dan sudah mulai makan,’ tuturnya.

Ke depan, Farhan mengingatkan pentingnya evaluasi menyeluruh dalam pengelolaan satwa, khususnya terkait pengawasan penyakit menular pada hewan. Virus ini memang salah satu yang paling perlu diwaspadai di kebun binatang yang memiliki koleksi kucing besar.

Ia menegaskan, pemerintah, baik pusat, provinsi memastikan kejadian serupa tidak terulang kembali dan sekaligus menjamin kesejahteraan seluruh satwa di kebun binatang tetap terjaga.

“Saya sangat prihatin dan sedih, tapi ini menjadi perhatian serius agar ke depan bisa kita antisipasi dengan lebih baik,” pungkasnya.

Meskipun Bandung Zoo merupakan aset Pemkot Bandung, fasilitas seluas 14 hektar itu berada di bawah pengawasan Kementerian Kehutanan melalui Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat. Hal ini berdasarkan penandatanganan nota kesepakatan dengan Pemkot Bandung, dan Kementerian Kehutanan pada tanggal 5 Februari 2026 lalu.

Humas BBKSDA Jabar Eri Mildrayana mengatakan, pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan lengkap penyebab kematian Hara. Adapun proses nekropsi atau pemeriksaan terhadap bangkai satwa telah terlaksana.

“Kami masih melakukan pendalaman penyebab kematian Hara. Hasil lengkapnya masih menunggun proses pemeriksaan tuntas,” tambahnya.

Menuai kritik

Kematian Hara di Bandung Zoo menuai hujan kritik dari pengiat konservasi lingkungan hingga akademisi di Jawa Barat. Hal ini dinilai upaya pengawasan kondisi satwa di tengah belum adanya pengelola Bandung Zoo belum optimal.

Kepala Studi Komunikasi Lingkungan Fikom Universitas Padjadjaran, Herlina Agustin menyatakan rasa prihatin mendalam atas kematian Hara di Bandung Zoo. Ia menyatakan Pemkot Bandung dan BBKSDA Jabar harus bertanggung jawab atas peristiwa tersebut.

Herlina menilai, kinerja pengelolaan Bandung Zoo setelah diambil alih Pemkot Bandung dan BBKSDA Jabar wajib diaudit. Matinya Hara dapat menimbulkan kesan di tengah masyarakat dan pegiat perlindungan satwa bahwa ratusan satwa Bandung Zoo tidak diperhatikan kondisinya.

“Kejadian ini akan menjadi sorotan publik internasional karena menyangkut kesejahteraan satwa. Segera selesaikan masalah pengelolaan Bandung Zoo agar peristiwa ini tak terulang lagi,” ucapnya.

Sementara itu, Koordinator Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Indonesia Dedi Kurniawan mengaku geram dan kecewa atas kematian Hara di tengah persoalan Bandung Zoo yang belum tuntas hingga kini. Ia menegaskan, FK31 akan meminta klarifikasi kepada pihak terkait atas kejadian ini.

Dedi yang juga Ketua Dewan Daerah Wahana Lingkunghan (Walhi) Jawa Barat ini berpendapat masalah kematian Hara harus ditelusuri dan dibuka secara transparan. Hal yang menjadi sorotan apakah Hara mendapatkan perawatan memadai di fasiltas kesehatan hewan atau hanya di Bandung Zoo.

“Kematian Hara menjadi muara konflik berkepanjangan hingga berimbas penutupan Bandung Zoo sejak tahun lalu,” ujar Dedi.

Baca JugaPolemik Bandung Zoo Tidak Kunjung Rampung, Pegawai Iuran Beli Pakan 

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tarif Rp 1 Dongkrak Transportasi dan Wisata Jakarta saat Libur Lebaran
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Daftar UTBK-SNBT 2026, Segini Biaya dan Cara Pembayarannya
• 8 jam lalumedcom.id
thumb
Pidie Jaya Geger, Mayat Pria dan Wanita Ditemukan dalam Mobil Terparkir
• 12 jam lalurctiplus.com
thumb
Mobil Listrik Masuk Kolam di Depan Bundaran HI, Ternyata Ini Penyebabnya
• 1 jam lalucumicumi.com
thumb
Persib Bandung Mulai Persiapan Kontra Semen Padang demi Jaga Asa
• 5 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.