Peneliti dari University of Texas at El Paso menemukan mengonsumsi kafein di malam hari bisa meningkatkan perilaku impulsif, yang berpotensi mendorong tindakan lebih berisiko. Sebelum membahas lebih jauh temuannya, yuk kenali dulu apa yang sebenarnya terjadi saat kamu ngopi di malam hari. Kopi Malam Bukan Sekadar Bikin Melek Penelitian ini menyoroti bagaimana kafein yang dikonsumsi di malam hari memengaruhi kemampuan menahan diri dan tingkat impulsivitas. Studi ini menggunakan lalat buah jenis Drosophila melanogaster sebagai subjek penelitian karena sistem genetik dan sarafnya memiliki kemiripan penting dengan manusia.
Mengutip Science Direct, Drosophila melanogaster adalah lalat kecil yang umum ditemukan di sekitar buah yang belum matang maupun yang sudah membusuk. Lalat ini menjadi salah satu organisme yang paling banyak dipelajari dalam penelitian biologi, terutama di bidang genetika dan biologi perkembangan.
Hal ini bukan tanpa alasan. Ukurannya yang kecil membuatnya mudah dibiakkan di laboratorium, sementara morfologinya juga mudah diidentifikasi setelah dibius.
Selain itu, perawatan dan budidayanya tidak membutuhkan banyak peralatan maupun ruang, bahkan untuk kultur dalam jumlah besar. Biaya yang diperlukan pun relatif rendah. Keunggulan lainnya adalah waktu generasinya sangat singkat, yakni sekitar 10 hari pada suhu ruangan.
Dengan demikian, beberapa generasi dapat diamati hanya dalam hitungan minggu. Lalat ini juga memiliki tingkat reproduksi tinggi. Betina mampu bertelur hingga 100 butir per hari, bahkan bisa mencapai sekitar 2.000 butir sepanjang hidupnya.
Menariknya, periode perkembangan lalat ini juga dapat bervariasi tergantung pada suhu lingkungan. Selain itu, lalat jantan dan betina mudah dibedakan.
Hal ini sangat membantu dalam proses persilangan genetik di laboratorium. Berkat karakteristik tersebut, Drosophila melanogaster digunakan dalam penelitian untuk menguji bagaimana kafein memengaruhi perilaku, khususnya saat dikonsumsi di malam hari.
Dalam penelitian berjudul Nighttime Caffeine Intake Increases Motor Impulsivity yang diterbitkan di jurnal iScience pada 15 Agustus 2025, para peneliti yang dipimpin oleh Erick Benjamin Saldes, Paul Rafael Sabandal, dan Kyung-An Han memaparkan sejumlah temuan penting. Mereka menjelaskan kafein yang dikonsumsi di malam hari terbukti melemahkan kemampuan menahan diri, sementara konsumsi kafein di siang hari tidak menimbulkan efek serupa.
"Kafein adalah zat psikoaktif yang paling banyak dikonsumsi di dunia, dengan sekitar 85 persen orang dewasa di Amerika Serikat menggunakannya secara rutin. Mengingat betapa populernya kafein, kami ingin mengeksplorasi apakah ada faktor lain yang memengaruhi dampaknya terhadap kendali perilaku," kata Asisten Profesor Riset Departemen Ilmu Biologi UTEP, Paul Sabandal, dikutip dari laman SciTech Daily, Rabu, 25 Maret 2026.
Hal ini menjadi landasan penting mengapa penelitian soal waktu konsumsi kafein perlu dilakukan. Ternyata, bukan hanya seberapa banyak kamu minum kopi, tapi kapan kamu minumnya pun turut menentukan efeknya pada otak dan perilaku.
Untuk memahami efek kafein secara lebih mendalam, para peneliti melakukan serangkaian eksperimen pada lalat buah. Dalam percobaan ini, kafein diberikan melalui makanan dengan berbagai kondisi, mulai dari perbedaan kadar, waktu konsumsi siang atau malam, hingga kombinasi dengan kurang tidur.
Tingkat impulsivitas diukur dengan mengamati apakah lalat mampu menghentikan gerakannya saat terpapar aliran udara kuat yang secara alami tidak disukai mereka. Dalam kondisi normal, lalat akan berhenti bergerak saat terpapar aliran udara kuat.
"Kami menemukan bahwa lalat yang mengonsumsi kafein di malam hari kurang mampu menahan gerakan, menampilkan perilaku impulsif seperti terbang sembarangan meski kondisinya tidak menyenangkan," kata Peneliti University of Illinois College of Medicine Peoria, Erick Saldes.
Sebaliknya, kafein yang dikonsumsi di siang hari tidak memicu perilaku serupa. Temuan ini menegaskan waktu konsumsi kafein memang memiliki peran nyata dalam memengaruhi fungsi otak dan kendali perilaku.
Selain perbedaan waktu, eksperimen juga mengungkap perbedaan cukup mencolok antara lalat jantan dan betina. Meski kadar kafein dalam tubuh keduanya serupa, lalat betina menunjukkan peningkatan perilaku impulsif yang jauh lebih kuat setelah mengonsumsi kafein di malam hari.
"Lalat tidak memiliki hormon manusia seperti estrogen, yang mengisyaratkan bahwa faktor genetik atau fisiologis lain yang mendorong sensitivitas lebih tinggi pada betina. Mengungkap mekanisme ini akan membantu kita lebih memahami bagaimana fisiologi malam hari dan faktor spesifik jenis kelamin memengaruhi efek kafein," kata Profesor Ilmu Biologi UTEP, Kyung-An Han.
Temuan ini menjadi pengingat respons tubuh terhadap kafein tidak sama bagi semua orang. Ada faktor-faktor biologis yang turut menentukan seberapa besar dampak kafein terhadap kendali diri seseorang.
Para peneliti secara khusus mengingatkan temuan ini relevan bagi mereka yang mengandalkan kafein saat bekerja di malam hari, termasuk pekerja shift di bidang kesehatan maupun militer. Hasil penelitian juga mengisyaratkan perempuan mungkin lebih sensitif terhadap efek perilaku dari kafein yang dikonsumsi di malam hari.
Meski penelitian ini masih dilakukan pada lalat buah dan belum langsung diuji pada manusia, kemiripan sistem saraf keduanya membuat temuan ini layak jadi perhatian. Nah, yang terpenting bukan hanya soal berapa banyak kopi yang kamu minum, tapi juga kapan kamu meminumnya.
Pola konsumsi yang bijak dan memperhatikan waktu bisa jadi kunci menjaga kendali diri, khususnya di malam hari. Semoga menambah wawasan Sobat Medcom ya!
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)





