Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian meminta Wali Kota Singkawang dan Bupati Bengkayang di Kalimantan Barat mencabut surat edaran pembatasan pembelian bahan bakar minyak (BBM). Kebijakan tersebut justru memicu panic buying atau aksi borong di masyarakat.
Tito menjelaskan, aturan mengenai pembatasan pembelian BBM di Singkawang dan Bengkayang awalnya dimaksud mengurangi antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Namun, penerbitan surat edaran itu justru menimbulkan persepsi kelangkaan BBM di masyarakat.
“Karena adanya panic buying itu, saya segera menghubungi yang bersangkutan untuk mencabut suara edaran dan memberikan penjelasan ke publik bahwa stok BBM, gas, semua aman, cukup,” kata Tito di Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta pada Rabu (25/3).
Tito mengatakan surat edaran yang diterbitkan oleh dua kepala daerah itu menetapkan jumlah maksimal pembelian sekitar 30 liter per kendaraan. Hal ini awalnya ditujukan agar distribusi lebih merata dan antrean dapat dipersingkat.
Alih-alih meredakan antrean, pengumuman tersebut malah membuat masyarakat berbondong-bondong membeli BBM karena khawatir stok akan habis. “Akhirnya antrean malah semakin panjang, terjadi panic buying. Padahal niatnya untuk mengurangi antrean,” ujar Tito.
Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menyampaikan, ketahanan pasokan BBM di Kalimantan terkendali. Suplai BBM ke SPBU di Kalimantan Barat telah ditingkatkan sejak malam takbiran 20 Maret lalu. Sejumlah SPBU di Kota Pontianak juga dioperasikan selama 24 jam untuk mengurangi antrean.
Anggota Komite BPH Migas Fathul Nugroho menyampaikan, kondisi antrean kendaraan mulai berangsur membaik per 22 Maret 2026. Keterangan serupa juga disampaikan oleh Sales Area Manager Pertamina Patra Niaga Kalimantan Barat, Widhi Tri Adhi Hidayat.
Widhi mengatakan kondisi penyaluran BBM di wilayah Kalimantan Barat per 23 Maret 2026 secara umum berjalan aman dan lancar. Wilayah yang sebelumnya mengalami antrean panjang akibat lonjakan permintaan dan panic buying kini berangsur normal.
Ia menyampaikan, kondisi antrean di berbagai SPBU di Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya sudah kembali normal, sedangkan antrean di Kabupaten Mempawah, Kota Singkawang, dan Kabupaten Bengkayang berada dalam kondisi sedang.
Pemerintah masih terus mengupayakan pengurangan antrean yang relatif padat di Kabupaten Sambas dan Kabupaten Landak,
Selama periode 9–22 Maret, penyaluran BBM di Kalimantan Barat tercatat mengalami peningkatan pada jenis bensin, yakni rata-rata mencapai 2.749 kiloliter (KL) per hari untuk Pertalite dan Pertamax Series.
Jumlah itu naik 19,8% dibandingkan kondisi normal, dengan lonjakan tertinggi mencapai 54% pada 20 Maret. Adapun penyaluran solar tercatat rata-rata 1.420 KL per hari atau turun 3,7% dari kondisi normal, meskipun sempat mengalami kenaikan tertinggi hingga 20% pada 18 Maret.
“PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan memastikan suplai ke SPBU berjalan lancar dengan penambahan mobil tangki serta operasional IT Pontianak selama 24 jam,” kata Widhi dalam siaran pers pada Senin (23/3).




