Kecelakaan maut yang terjadi di Majalengka, Jawa Barat menyisakan duka mendalam. Sebanyak 6 orang meninggal dunia dalam peristiwa tersebut.
Seluruh penumpang diketahui merupakan rombongan keluarga asal Kecamatan Rengasdengklok, Karawang. Mereka dimakamkan di sejumlah TPU berbeda pada Selasa (24/3) malam.
Dua jenazah bernama Karwati (65) dan Desi (42) dimakamkan di TPU Desa Rengasdengklok Selatan, lalu sopir Hasyim Adnan (47), dimakamkan di Kecamatan Kutawaluya.
Adapun mendiang Nurmala (35) serta kedua anaknya, Ali Okta (5) dan Nanda Nopalia (1,5) dimakamkan di pemakaman keluarga di Desa Medangasem, Kecamatan Jayakerta dalam satu liang lahat.
Kades Medangasem, Alek Abdul Hanan, menyebut, korban ibu dan dua anak tersebut dimakamkan dalam satu liang lahat berdasarkan pertimbangan keluarga.
Prosesi pemakaman ketiganya dilakukan pada Selasa (24/3) malam. Tangis keluarga mengiringi proses pemakaman korban.
"Ada komitmen keluarganya dimakamkan di (pemakaman) pribadi, bukan umum. Jadi itu pemakaman pribadi," katanya, Rabu (25/3).
Sopir Sudah Diminta Pelan-PelanSalah seorang korban selamat, Taufik, menjelaskan kecelakaan itu terjadi pada Senin (23/3) malam sekitar pukul 23.00 WIB di Desa Maniis, Kecamatan Cingambul, Majalengka.
Sebelum kejadian, rombongan keluarga sempat berziarah ke makam keluarga di Tasikmalaya serta berlibur di pantai Pangandaran sebelum akhirnya bertolak pulang ke Karawang.
Taufik menilai kecelakaan tersebut lantaran sopir buru-buru mengejar waktu untuk tiba di Karawang sekitar pukul 03.00 WIB.
"Soalnya ada telepon ke sopir, jam 3 mobil udah harus ada di Karawang," katanya.
Di tengah perjalanan pulang, ia dan saudaranya sebetulnya sempat memperingati sopir agar lebih hati-hati lantaran kendaraan melaju begitu cepat.
"Mamah saya sama teteh saya juga udah teriak, 'Pak haji, launan (pelan-pelan), launan (pelan-pelan)'. Sama saya juga ditowel. 'Pak Haji, launan (pelan-pelan), jangan kencang terus," tambahnya.
Meski demikian, sopir disebutnya tak menggubris peringatan itu. Alhasil kendaraan yang melaju terlalu cepat di tengah medan jalan yang kecil dan licin itu tak mampu lagi dikendalikan sopir hingga membuat mobil terguling.
"Akhirnya pas kejadian udah gak bisa apa-apa, pasrah," kenang Taufik.





