Mendagri Tito Tegaskan Normalisasi Sungai Terdampak Bencana Jadi Prioritas Satgas PRR

viva.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera menegaskan penanganan infrastruktur sungai di tiga provinsi terdampak menjadi salah satu prioritas penanganan jangka panjang dalam fase pemulihan, yang juga akan mendukung irigasi untuk sawah dan tambak warga.

Ketua Satgas PRR Muhammad Tito Karnavian mengatakan normalisasi sungai penting untuk menunjang kehidupan masyarakat yang bergantung pada sektor ekonomi primer, seperti pertanian dan perikanan. Berdasarkan data Satgas PRR, sungai terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara mayoritas mengalami pendangkalan akibat sedimentasi. 

Baca Juga :
Sembari Menunggu Data Rampung, Pemerintah Percepat Penyaluran Bantuan Pemulihan Sumatera
Mendagri Tito Sebut Wacana WFH Satu Hari Sepekan Tinggal Tunggu Arahan Prabowo

“Sungai bagi saya penting, ini akan makan waktu panjang untuk sungai karena jumlahnya banyak. Totalnya itu banyak yang sedimen, panjang dan lebar. Penanganan ini mendesak karena berkaitan langsung dengan sawah dan tambak milik warga,” ujar Tito di Jakarta, dikutip Rabu, 25 Maret 2026.

Data Satgas PRR menunjukkan, di wilayah terdampak terdapat puluhan sungai dengan kondisi bervariasi, mulai dari sedimentasi berat, kerusakan tanggul, hingga perubahan alur sungai. Di Provinsi Aceh, tercatat 55 sungai yang terdampak dan memerlukan penanganan bertahap. Sebaran kerusakan sungai di Aceh meliputi wilayah Aceh Utara, Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Tengah, Bener Meriah, Langsa, Aceh Timur, Aceh Tamiang, Aceh Selatan, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Tenggara, dan Subulussalam.

Di Provinsi Sumatera Utara, terdapat 48 sungai terdampak yang wilayahnya mencakup Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Sibolga, Medan, Deli Serdang, Langkat, Serdang Bedagai, Mandailing Natal, dan Batu Bara. Di Sumatera Barat, tercatat 43 sungai terdampak dengan wilayah mencakup Padang, Padang Pariaman, Pasaman, Pasaman Barat, Solok, Tanah Datar, Agam, dan Pesisir Selatan.

Tito menjelaskan, penanganan sungai dilakukan melalui dua pendekatan utama, yakni tanggap darurat untuk mengantisipasi dampak lanjutan, serta rehabilitasi dan rekonstruksi untuk memastikan perbaikan permanen. Menurutnya, kondisi geografis wilayah terdampak yang tersebar juga menjadi tantangan tersendiri dalam pemulihan sungai, berbeda dengan bencana yang terpusat di satu lokasi.

“Kalau kita masuk ke daerah yang dekat sungai itu kena. Jadi ini sifatnya tersebar, sporadis. Itu yang membuat penanganannya membutuhkan waktu,” kata Tito.

Baca Juga :
Ketua Satgas Dorong Percepatan Pemulihan Bencana Sumatera Genjot Sinergi Antar-Daerah
Ada 5 Desa di Aceh Hingga Sumut Hilang Buntut Bencana, Ini Rinciannya
Ada Dua Skema Hunian untuk Korban Bencana di Sumatera

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dana Bencana Sumatra dan Aceh Tersalurkan 40% dari Anggaran
• 6 jam lalukatadata.co.id
thumb
Berbondong-bondong Gelombang Arus Balik Tiba di Jakarta
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
Pram-Rano Halal Bihalal dengan ASN DKI di Hari Pertama Kerja Usai Libur Lebaran
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
Perang Memanas! Rusia Peringatkan Konsekuensi Serius Pembunuhan Pemimpin Iran
• 20 jam lalukompas.tv
thumb
Dubes Arab Saudi Sebut Serangan Iran ke Israel Hanya 15 Persen, Sisanya Dilakukan ke Negara Kawasan
• 15 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.