PERTANYAAN besar kini menggantung di langit Timur Tengah: Perang atau Damai? Setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberi sinyal ada pembicaraan dengan Iran untuk menghentikan permusuhan pada Senin (23/3), dunia sempat bernapas lega. Namun, di balik pintu tertutup, sekutu utama AS di kawasan, Arab Saudi, dikabarkan mengambil posisi yang sangat berbeda.
Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), dilaporkan mendesak Trump untuk tidak menghentikan serangan. Bagi MBS, situasi saat ini adalah kesempatan bersejarah untuk mengubah peta kekuatan di Asia Barat (Timur Tengah) secara permanen.
Ambisi Menumbangkan Rezim TeheranBerdasarkan laporan New York Times, dalam percakapan telepon pekan lalu, MBS menekankan kepada Trump bahwa Iran merupakan ancaman eksistensial jangka panjang bagi negara-negara Teluk. Ia berargumen bahwa ancaman ini hanya bisa dihilangkan dengan menumbangkan pemerintahan garis keras di Teheran.
Baca juga : Arab Saudi Siap Gempur Iran, Izinkan AS Gunakan Pangkalan Udara King Fahd
Analis militer melihat kekhawatiran Riyadh sangat beralasan. Jika AS menarik diri dari konflik di hari ke-26 ini, Iran diprediksi akan merasa di atas angin (emboldened), yang berisiko memicu serangan balasan yang lebih destruktif terhadap infrastruktur energi Arab Saudi di masa depan.
- Dominasi Regional: Riyadh ingin mengukuhkan diri sebagai pemimpin tunggal di Asia Barat dengan melemahkan jaringan proksi Iran (Hezbollah, Houthi, dan Hamas).
- Keamanan Energi: Blokade Iran di Selat Hormuz telah mengganggu ekspor minyak mentah Mata Uang Rupiah dan global, memaksa Saudi mencari solusi permanen melalui kekuatan militer.
- Keberlangsungan Visi 2030: Proyek transformasi ekonomi MBS senilai triliunan dolar membutuhkan stabilitas keamanan absolut untuk menarik investor asing.
Perseteruan ini bukan sekadar masalah politik modern, melainkan berakar pada persaingan sejarah dan agama selama puluhan tahun. Sebagai pemimpin kekuatan Suni, Arab Saudi melihat revolusi teokrasi Syiah Iran sejak 1979 sebagai tantangan langsung terhadap pengaruh mereka di dunia Muslim.
Meskipun secara resmi pemerintah Arab Saudi menyatakan mendukung solusi damai dan fokus pada pertahanan diri dari serangan harian Iran, retorika di balik layar menunjukkan ketidakpercayaan yang mendalam. Menteri Luar Negeri Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan, menyatakan bahwa kepercayaan yang tersisa telah hancur sepenuhnya.
Baca juga : Saudi dan Emirat Arab Bahas Eskalasi Iran yang Berbahaya
Stabilitas Selat Hormuz dan Tekanan EkonomiEkonomi menjadi faktor penentu. Iran saat ini hanya mengizinkan kapal yang bukan sekutu AS untuk melewati Selat Hormuz. Hal ini mencekik pendapatan negara-negara Teluk seperti UEA dan Kuwait. Meski Arab Saudi mengembangkan jalur pipa alternatif, kapasitasnya dianggap belum mencukupi untuk menggantikan jalur laut utama tersebut.
Faktor Risiko Dampak bagi Arab Saudi Blokade Selat Hormuz Harga minyak melonjak, gangguan distribusi logistik global. Visi 2030 Penurunan minat investor asing akibat risiko keamanan tinggi. Proksi Iran Ancaman serangan drone dan rudal harian ke wilayah domestik.Kini, bola panas berada di tangan Donald Trump. Apakah ia akan memilih jalan deeskalasi demi janji kampanyenya untuk mengakhiri perang atau mengikuti desakan sekutu terdekatnya di Teluk untuk melakukan serangan darat (boots on the ground) guna menguasai infrastruktur energi Iran?
Satu hal yang pasti, stabilitas jangka panjang di Timur Tengah tetap berada di ujung tanduk, terlepas dari bagaimana konflik ini berakhir secara formal. (Firstpost/I-2)





