Penulis: Sintha Puspita
TVRINews, Sulawesi Tenggara
Lebaran di Sulawesi Tenggara tidak hanya identik dengan hidangan melimpah, tetapi juga menyimpan nilai budaya yang kuat melalui tradisi Haroa. Tradisi ini masih terus dilestarikan, khususnya oleh masyarakat di Pulau Muna, sebagai bagian dari warisan leluhur yang sarat makna.
Akademisi dari Universitas Halu Oleo, Rahmat Sewa Suraya, menyebut Haroa sebagai tradisi yang menonjolkan kekayaan kuliner khas masyarakat Muna dan Buton, dengan doa sebagai unsur utama yang dipimpin oleh imam atau tokoh adat.
Menurutnya, Haroa bukan sekadar ritual budaya, melainkan cara masyarakat menjaga nilai kebersamaan di tengah arus modernisasi. Tradisi ini bahkan telah ada jauh sebelum masuknya Islam di Sulawesi Tenggara, yang terlihat dari masih digunakannya unsur ritual seperti dupa dalam prosesi.
Dalam pelaksanaannya, berbagai hidangan khas disusun rapi dalam satu dulang sesuai tata adat dan makna simbolis masing-masing. Mulai dari lapa-lapa berbahan dasar beras, hingga sajian lain seperti ayam parende, kagule, cucur, mbolo-mbolo, ngkea-ngkea, dan sanggara. Seluruh hidangan tersebut melambangkan doa dan harapan akan kehidupan yang lebih baik.
Sementara itu, antropolog Sulawesi Tenggara, Wa Ode Sifatu, menilai susunan kuliner dalam Haroa juga mencerminkan keseimbangan gizi, mulai dari karbohidrat, protein, hingga vitamin. Ia menambahkan, posisi hidangan dalam dulang memiliki makna filosofis yang menggambarkan bagian tubuh manusia.
Keunikan lain dari tradisi ini adalah variasi bentuk dan jenis lapa-lapa yang disajikan, tergantung waktu pelaksanaan, mulai dari hari Lebaran hingga empat hari setelahnya. Tradisi ini memberi kesempatan bagi anggota keluarga yang belum sempat hadir saat hari raya untuk tetap merasakan kebersamaan.
Melalui Haroa, kuliner tidak hanya menjadi sajian pengenyang, tetapi juga bahasa budaya yang menyatukan doa, sejarah, dan silaturahmi dalam satu wadah perayaan Lebaran.
Editor: Redaktur TVRINews





