Wacana peralihan kendaraan bermotor berbasis bahan bakar minyak (BBM) ke kendaraan listrik kembali menguat. Presiden Prabowo baru-baru ini menyerukan akan mendorong transformasi besar dalam sistem transportasi nasional dengan menargetkan penggunaan kendaraan listrik secara luas.
Presiden bahkan menyatakan keinginannya agar mayoritas kendaraan di Indonesia beralih ke listrik. “Saya ingin total listrik. Kenapa? Karena kalau kita pakai combustion engine, kita masih tergantung impor,” ujarnya.
Pemerintah juga membuka kemungkinan bahwa kendaraan berbahan bakar bensin di masa depan hanya digunakan oleh kelompok masyarakat tertentu yang mampu membeli BBM dengan harga mengikuti pasar global.
Peralihan tersebut tidak hanya menyasar kendaraan, tetapi juga sistem energi yang menopangnya. Untuk memastikan pasokan listrik mencukupi, pemerintah menargetkan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan kapasitas hingga 100 gigawatt (GW).
Target ambisius ini diharapkan dapat dicapai dalam waktu sekitar dua tahun sebagai bagian dari strategi mempercepat elektrifikasi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
Transformasi menuju kendaraan listrik sebenarnya telah lebih dahulu terjadi di berbagai kota dunia. Di sektor roda dua, sejumlah kota besar di Tiongkok menjadi contoh paling menonjol. Shenzhen mencatat sekitar 99% motor yang beroperasi telah menggunakan tenaga listrik, didorong kebijakan pelarangan total motor berbahan bakar bensin di pusat kota.
Kota besar lain seperti Beijing dan Shanghai juga mencatat penetrasi motor listrik sekitar 95% berkat regulasi ketat serta kebijakan transisi kendaraan rendah emisi.
Di kawasan Asia lainnya, adopsi motor listrik masih bertahap. Taipei misalnya, mencatat sekitar 16,5% penggunaan motor listrik yang didukung jaringan penukaran baterai luas. Hanoi pun mulai mendorong perubahan dengan rencana pelarangan motor bensin di distrik pusat kota mulai Juli 2026. Sementara di Paris, kepemilikan moped listrik pribadi meningkat pesat seiring kebijakan transportasi rendah emisi.
Untuk kendaraan roda empat, negara yang kerap dijadikan rujukan adalah Norwegia. Kota Oslo mencatat hampir setengah kendaraan yang beroperasi merupakan mobil listrik, didorong fakta bahwa sekitar 98% penjualan mobil baru kini sudah berbasis listrik. Kota Bergen turut serta mencatat penetrasi tinggi berkat diskon tarif tol dan infrastruktur pengisian daya yang luas.
Di Indonesia sendiri, adopsi kendaraan listrik masih relatif rendah. Di Jakarta, motor listrik baru sekitar 1,1% dari total kendaraan yang beroperasi, sementara mobil listrik sekitar 2,4%. Berbagai kebijakan mulai diterapkan, mulai dari insentif pajak hingga pembebasan aturan ganjil-genap untuk kendaraan listrik.
Kendati demikian, contoh menarik datang dari distrik Agats, Kabupaten Asmat, Papua Selatan. Wilayah ini telah menggunakan lebih dari 5.200 unit motor listrik sejak 2007. Infrastruktur kota yang dibangun di atas papan serta kebutuhan efisiensi energi membuat kendaraan listrik menjadi solusi mobilitas paling efektif.
Pengalaman berbagai kota tersebut menunjukkan bahwa transisi menuju kendaraan listrik sangat bergantung pada kombinasi kebijakan, infrastruktur energi, dan dukungan masyarakat.




