Dibanding PSIS dan Persipura, Percaya Diri PSS Sleman ke Super League: Punya Amunisi yang Mampu Bersaing di Level Persebaya Surabaya

harianfajar
18 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, SLEMAN — Ada keyakinan yang tumbuh perlahan di PSS Sleman. Bukan keyakinan yang meledak-ledak, melainkan yang terbangun dari rutinitas, disiplin, dan konsistensi yang mulai menemukan bentuknya. Di tengah jeda Lebaran 2026, ketika banyak tim masih berupaya mengembalikan ritme, Laskar Sembada justru datang dengan satu pesan sederhana: mereka siap.

Di Sleman, suasana latihan pasca-libur tidak memperlihatkan gejala tim yang kehilangan arah. Sebaliknya, ada stabilitas yang terasa. Pieter Huistra, sosok di balik pengembangan teknis tim, melihat masa jeda bukan sebagai gangguan, melainkan sebagai jeda yang menyegarkan.

“Semua orang menikmati waktu bersama keluarga, mengisi kembali energi,” ujarnya.

Sepak bola modern memang tidak hanya bicara soal taktik dan fisik. Ada dimensi yang sering kali luput: keseimbangan emosional. Huistra memahami bahwa pemain yang pulang dengan energi baru sering kali kembali dengan mental yang lebih jernih. Dalam konteks musim panjang, ini bukan detail kecil.

Dan PSS tampaknya memanfaatkannya dengan baik.

Para pemain tetap menjalankan program latihan mandiri. Profesionalisme itu menjadi fondasi penting. Perbedaan kondisi sebelum dan sesudah libur diakui ada, tetapi tidak signifikan. Dalam standar tim profesional, itu justru pertanda baik: sistem berjalan, kesadaran individu terjaga.

Kini, fokus beralih ke lapangan.

Laga melawan Kendal Tornado FC di ajang Pegadaian Championship menjadi ujian berikutnya. Pertandingan tandang itu bukan sekadar soal tiga poin, tetapi tentang menjaga momentum. Dalam kompetisi yang ketat, konsistensi sering kali lebih menentukan dibanding performa sesaat.

Namun, optimisme PSS tidak datang tanpa alasan.

Di lini depan, mereka memiliki sosok yang sedang berada di puncak performa: Gustavo Tocantins. Penyerang asal Brasil itu bukan hanya mesin gol, tetapi juga kreator serangan. Dalam kemenangan 3-1 atas The Lobsters, ia mencatatkan satu gol dan satu assist—sebuah paket kontribusi yang menggambarkan perannya secara utuh.

Lebih dari sekadar angka, kehadiran Tocantins mengubah cara PSS menyerang.

Ia tidak statis. Ia bergerak, membuka ruang, dan membaca permainan. Umpan matangnya yang dikonversi menjadi gol oleh Riko Simanjuntak menjadi salah satu contoh bagaimana visi bermain bisa menjadi pembeda di level kompetisi yang ketat.

Bagi Riko, gol tersebut terasa spesial. Itu adalah gol pertamanya bersama PSS musim ini—sebuah momen yang bisa menjadi titik balik kepercayaan diri. Dalam sepak bola, satu gol kadang cukup untuk membuka keran performa.

Kolaborasi antara Tocantins dan Riko menghadirkan dimensi baru di lini serang. Satu membawa insting dan kreativitas, yang lain menghadirkan kecepatan dan pengalaman. Kombinasi ini memberi PSS variasi serangan yang sulit ditebak.

Hingga pekan ke-21, kontribusi Tocantins semakin tak terbantahkan. Ia tidak hanya memimpin daftar pencetak gol tim, tetapi juga telah mengoleksi sembilan assist. Angka itu menegaskan satu hal: ia adalah pusat dari hampir seluruh dinamika serangan PSS.

Namun, di balik performa individu, ada tujuan kolektif yang lebih besar.

Sejak awal musim, Tocantins tidak menyembunyikan ambisinya: membawa PSS kembali ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia, Liga 1 Indonesia. Pernyataan itu kini tidak lagi terdengar sebagai janji, melainkan mulai terlihat sebagai kemungkinan nyata.

“Kami ingin meraih poin kemenangan sebanyak mungkin… kami ingin kembali ke Liga 1,” ujarnya.

Optimisme itu semakin relevan ketika PSS mulai dibandingkan dengan tim-tim lain yang memiliki sejarah kuat seperti PSIS Semarang dan Persipura Jayapura. Perbandingan ini bukan tanpa alasan. Dalam beberapa musim terakhir, kedua klub tersebut dikenal memiliki pengalaman dan mentalitas di level tertinggi.

Namun kini, PSS merasa memiliki “amunisi” yang cukup untuk bersaing—bahkan melampaui.

Lebih jauh lagi, standar yang mulai dipasang tidak lagi sekadar promosi. Ada keberanian untuk membandingkan diri dengan klub-klub mapan seperti Persebaya Surabaya. Ini adalah lompatan mental yang penting. Sebab dalam sepak bola, sebelum bersaing di lapangan, sebuah tim harus terlebih dahulu percaya bahwa mereka layak berada di level tersebut.

Tentu, perjalanan masih panjang.

Kompetisi belum selesai, dan tantangan akan semakin kompleks. Cedera, tekanan, hingga fluktuasi performa adalah bagian tak terpisahkan dari musim yang panjang. Namun dengan fondasi yang mulai kokoh—fisik yang terjaga, mental yang segar, serta pemain kunci yang tampil konsisten—PSS memiliki alasan untuk percaya.

Di Sleman, harapan itu tidak lagi sekadar wacana.

Ia tumbuh di setiap sesi latihan, mengalir dalam setiap pertandingan, dan perlahan membentuk keyakinan kolektif: bahwa kembali ke kasta tertinggi bukanlah mimpi yang terlalu jauh.

Dan jika momentum ini mampu dijaga, bukan tidak mungkin Laskar Sembada akan datang sebagai penantang serius—bukan hanya untuk promosi, tetapi untuk benar-benar bersaing dengan mereka yang selama ini dianggap lebih mapan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sah! Dewan Komisioner OJK Dilantik, Ini Daftarnya
• 23 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Peristiwa 26 Maret: Soeharto Jadi Presiden hingga Damai Mesir dan Israel
• 11 jam laluokezone.com
thumb
Tak Kantongi SLHS, 1.528 SPPG di Seluruh Indonesia Di-Suspend
• 4 jam laluokezone.com
thumb
Trafik Data Indosat Melonjak, Jaringan Tetap Stabil saat Lebaran
• 2 jam laluharianfajar
thumb
KPK Pastikan Pengalihan Penahanan Yaqut Jadi Tahanan Rumah Sudah Sesuai Prosedur
• 19 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.