Fenomena microsleep menjadi salah satu risiko terbesar bagi pengendara saat perjalanan jauh, terutama di momen arus balik Lebaran. Kondisi ini kerap tidak disadari, namun berdampak fatal karena pengemudi bisa kehilangan kendali kendaraan dalam hitungan detik.
Pengamat otomotif sekaligus pengajar senior Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana menjelaskan, microsleep terjadi ketika otak sudah masuk fase tidur meski tubuh masih beraktivitas.
“Microsleep itu hampir pasti jadi penyebab kecelakaan, karena otak sudah tidur. Sudah tidak bisa lagi mengontrol motorik dan sensorik,” ujar Sony kepada kumparan, Senin (23/3/2026).
Ia menegaskan, kondisi ini berbeda dengan rasa kantuk biasa. Saat microsleep terjadi, pengemudi benar-benar kehilangan kesadaran dalam beberapa detik, yang sangat berbahaya terutama saat kendaraan melaju dalam kecepatan tinggi.
Menurutnya, banyak pengemudi yang meremehkan tanda-tanda awal kelelahan. Padahal, gejala seperti sering menguap, mata terasa berat, hingga hilangnya fokus merupakan indikasi kuat tubuh membutuhkan istirahat.
“Begitu tanda-tandanya muncul, itu jangan dilawan. Karena itu artinya tubuh sudah butuh istirahat,” kata dia.
Sony juga mengingatkan bahwa durasi microsleep yang hanya beberapa detik sudah cukup untuk memicu kecelakaan. Dalam kondisi tersebut, kendaraan tetap melaju tanpa kontrol, meningkatkan risiko tabrakan di jalan tol maupun jalur arteri.
Untuk itu, ia menyarankan pengemudi melakukan langkah pencegahan seperti tidur cukup sebelum perjalanan, beristirahat setiap beberapa jam, serta tidak memaksakan diri saat kondisi tubuh tidak fit.
“Kalau sudah mengantuk, sebaiknya berhenti dan istirahat. Jangan paksakan, karena risikonya sangat besar,” ujarnya.
Dengan meningkatnya volume kendaraan saat mudik, kewaspadaan terhadap microsleep menjadi hal krusial. Kesadaran pengemudi dalam menjaga kondisi tubuh dinilai menjadi kunci utama untuk menekan angka kecelakaan di jalan.
Umumnya, tanda-tanda mengantuk yang berujung pada microsleep punya beberapa sinyal, mulai dari pengemudi kerap menginjak rem, kecepatan kendaraan yang tidak stabil, keluar marka jalan, menguap, hingga menggaruk-garuk kepala yang merupakan tanda mulai hilang fokus.
Pada kondisi tersebut sudah barang tentu pengendara mencari tempat aman seperti rest area untuk beristirahat dan tidak memaksakan untuk terus mengemudi.




