Pada tanggal 16 Februari 2026, detikcom memberitakan tentang bahwa "Anak Laki-laki Umur 11 Tahun Bakal Dapat Vaksin HPV Gratis Mulai 2027". Diteruskan pada tanggal 24 Maret 2026 kemarin, detikcom merilis artikel berjudul "Laki-laki Juga Wajib Divaksin HPV".
Alasan yang mendasari dua tulisan tersebut adalah konsep bahwa laki-laki juga dapat terinfeksi virus Human Papilloma Virus (HPV). Tentu saja laki-laki yang terinfeksi tersebut, tidak akan mengalami kanker serviks (leher rahim).
Tapi ada risiko menularkan kepada pasangan seksualnya. Selanjutnya pasangan seksual tersebut yang berisiko menderita kanker serviks bila infeksi HPV tidak dapat sembuh secara sempurna.
Informasi ini perlu mendapatkan tanggapan agar pemahaman publik.
Pertama konsep daftar vaksinasi HPV bagi anak perempuan adalah hubungan antara infeksi Human Papilloma Virus (HPV) pada area genital dengan terjadinya kanker serviks. Ketika terjadi infeksi HPV, berkat imunitas tubuh, maka sekitar 90% penderita mampu melewatinya dengan baik dan virusnya hilang sampai bersih.
Tapi sebagian kecil, terjadi infeksi laten : infeksi tidak berat, tapi terus berlangsung. Setelah infeksi laten ini berlangsung lama, maka pelan-pelan terjadi terjadi perubahan sifat sel-sel di serviks yang secara bertahap kemudian menjadi sel kanker.
Maka infeksi HPV disebut faktor risiko kanker serviks. Ada beberapa laporan menyebutkan peran HPV sebagai faktor risiko kanker serviks ini di atas 90% bahkan ada yang sampai 99%. Artinya memang perannya besar.
Faktor lain yang juga berperan besar terhadap perubahan itu juga dipicu oleh aktivitas seksual. Semakin tinggi aktivitas seksual, dalam arti semakin tinggi frekuensi paparan terhadap sel-sel yang terinfeksi HPV tersebut, maka semakin tinggi risiko terjadi kanker.
Tidak hanya di serviks. Infeksi HPV juga dapat menyebar ke rongga mulut atau anus. Maka di tempat-tempat tersebut, juga dapat terjadi kanker sebagaimana terjadi pada serviks.
Maka vaksinasi HPV diberikan di usia sebelum masuk ke periode seksual aktif. Sifatnya mencegah infeksi HPV, agar tidak menjadi faktor risiko yang kemudian ditambah faktor aktivitas seksual, memperbesar risiko kanker serviks.
Untuk anak perempuan, teori, konsep dan program vaksinasi HPV itu logis dan rasional. Tapi bagaimana untuk anak laki-laki? Kan tidak punya rahim?
Konsep yang dikembangkan adalah laki-laki bisa juga terinfeksi HPV. Ketika beraktivitas seksual, laki-laki yang terinfeksi tersebut, dapat menularkan kepada pasangannya. Selanjutnya mengikuti konsep vaksinasi HPV pada perempuan, maka laki-laki juga memerlukan vaksinasi HPV.
Target menurut konsep itu, adalah membentuk Herd-Immunity. Artinya menambah perlindungan bagi perempuan dari risiko infeksi HPV, dengan cara pencegahan infeksi HPV pada laki-laki.
Apakah konsep ini sudah valid?
Ide vaksinasi HPV pada anak laki-laki untuk tujuan herd immunity ini pernah muncul tahun 2011 oleh Brisson dkk (The Journal of Infectious Diseases, Volume 204, Issue 3, 1 August 2011). Tapi studi mendapatkan simpulan bahwa:
The benefit of vaccinating boys decreased with improved vaccination coverage in girls. Given the important predicted herd immunity impact of vaccinating girls under moderate to high vaccine coverage, the potential incremental gains of vaccinating boys are limited.
Pemahaman saya, manfaat vaksinasi HPV pada anak laki-laki menurun, bila cakupan vaksinasi HPV pada anak-anak perempuan sudah meningkat. Karena herd-immunity yang dicapai pada anak perempuan sudah mencapai sedang menuju tinggi, maka potensi manfaat dari pemberian vaksinasi HPV ke anak laki-laki menjadi terbatas.
Artinya tambahan manfaatnya untuk melindungi anak-anak perempuan, adalah tidak signifikan.
Lama kemudian ada beberapa ide serupa, tapi belum mendapatkan hasil yang signifikan. Pada Desember 2022, WHO menyatakan bahwa target primer vaksinasi HPV direkomendasikan bagi perempuan usia 9-14 tahun sebelum aktif secara seksual. Targetnya adalah mencapai cakupan minimal 80% populasi. Dengan cakupan tersebut, maka sekaligus juga menurunkan risiko infeksi HPV pada laki-laki.
Target sekunder vaksinasi pada perempuan dewasa, anak laki-laki, laki-laki dewasa, atau yang menjalani hubungan seksual sesama laki-laki, hanya direkomendasikan bila memang "feasible and affordable" (bila memungkinkan dan terjangkau).
Dari uraian tersebut, kemudian WHO merekomendasikan bahwa vaksinasi HPV menjadi bagian dari strategi komprehensif untuk memberantas kanker serviks. Vaksin HPV harus dimasukkan dalam program imunisasi nasional, dan target utamanya adalah anak perempuan berusia 9-14 tahun.
Kelompok prioritas meliputi individu dengan gangguan imun, dan mereka yang pernah mengalami pelecehan seksual. Vaksinasi juga dapat diperluas ke target sekunder seperti perempuan yang lebih tua, anak laki-laki, dan laki-laki dewasa, hanya jika hal ini memang memungkinkan dan terjangkau.
Di Kanada, pernyataan pada 24 Juli 2024, pemerintah sangat merekomendasikan vaksinasi HPV 1 dosis untuk perempuan usia 9-20 tahun, dan 2 dosis untuk usia 21-26 tahun. Bagi yang menderita penurunan fungsi imun (immunocompromised) ditambahkan dosis 3. Juga bagi penderita HIV.
Bagi yang di atas usia 27 tahun, diberikan setelah diskusi dan kesepakatan antara nakes dan yang akan mendapatkannya. Tapi tetap tidak ada program vaksinasi HPV pada anak laki-laki maupun laki-laki dewasa. Ini sangat sesuai dengan rekomendasi WHO.
Begitu juga, pada Juli 2024, CDC US merekomendasikan pemberian vaksinasi dengan pola yang sama bagi perempuan sebagaimana di Kanada.
Pada November 2024, ada satu publikasi oleh Naidoo dkk yang agak khusus membahas tentang vaksin HPV untuk anak- laki-laki. Judulnya: Breaking barriers: why including boys and men is key to HPV prevention. Isinya juga bersesuaian dengan publikasi pada Februari 2025 oleh Patra dkk dengan judul: HPV and Male Cancer: Pathogenesis, Prevention and Impact.
Keduanya menjelaskan bahwa daya tubuh membersihkan infeksi HPV rata-rata lebih tinggi daripada perempuan. Tapi memang masih ada risiko bahwa infeksi berlangsung laten. Artinya berisiko menularkan kepada pasangan seksualnya. Di samping itu, ada juga risiko bahwa infeksi laten itu memicu perubahan sel menjadi sel-sel kanker seperti pada serviks. Pada laki-laki dapat terjadi terutama pada anus, penis dan rongga mulut.
Catatan pentingnya, kejadian infeksi HPV yang berlanjut menjadi kanker ini sangat berhubungan dengan pilihan perilaku seksual yaitu tinggi pada yang memilih hubungan seks laki-laki dengan laki-laki (Man Sex Man).
Faktor risikonya akan makin tinggi bila memilih menjalani pasangan seksual lebih dari satu. Artinya, perlunya vaksinasi HPV pada laki-laki ini berhubungan dengan perilaku seksual berisiko yang kemudian menjadikan risiko lebih tinggi bagi pasangan seksual wanita dari laki-laki tersebut.
Pada Januari 2026, terbit laporan dari Tagore dkk dengan judul Effect of Human Papillomavirus (HPV) Vaccine on Male Genital Disease: A Meta-Analysis of Randomised Controlled Trials. Studi ini menyimpulkan bahwa:
In conclusion, this meta-analysis suggests that HPV vaccination may lower the risk of genital diseases in males by approximately 3%, supporting its role in comprehensive HPV prevention.
Artinya, vaksinasi HPV dapat menurunkan risiko penyakit kelamin pada pria sekitar 3%, sehingga berperan mendukung dalam pencegahan HPV yang komprehensif. Angka 3% ini tentu tidak bisa dianggap tidak ada manfaat dari vaksinasi HPV pada laki-laki.
Tetapi, angka 3% ini tidak cukup signifikan untuk suatu program vaksinasi pada laki-laki baik bagi dirinya sendiri maupun dalam mendukung pencegahan kanker serviks pada perempuan.
Laporan tersebut sinkron dengan laporan-laporan sebelumnya bahwa bila cakupan vaksinasi pada anak perempuan sudah baik, kemudian tercapai herd-immunity pada tingkat sedang-ke-tinggi, maka potensi manfaat dari vaksinasi HPV pada anak laki-laki ternyata terbatas. Artinya tidak signifikan.
Barangkali karena itu juga, posisi WHO tetap prioritas bagi anak perempuan. Sedangkan kepada anak laki-laki bersifat sekunder, hanya bila memang memungkinkan dan terjangkau. Sampai posisi Desember 2022, ada 125 negara yang telah memasukkan vaksinasi HPV sebagai bagian dari program Vaksinasi Nasional. Sebanyak 47 negara juga menawarkannya kepada anak laki-laki.
Tulisan ini bermaksud mendudukkan. Bahwa akan tetap menjalani vaksinasi HPV pada anak laki-laki, atau sampai menjadikannya program vaksinasi pemerintah, adalah hak masing-masing orang dan kewenangan pemerintah.
Hanya sebaiknya pemerintah juga menjelaskan terbuka, termasuk menjelaskan beberapa laporan yang menunjukkan bahwa efektivitas vaksinasi HPV bagi anak laki-laki, belum terbukti secara konsisten.
Bahkan seandainya disediakan secara gratis pun, kewajiban kita memberikan informasi yang cukup sebagai dasar pengambilan keputusan oleh masing-masing orang.
Informasi tersebut tentunya juga penting dalam pengambilan keputusan untuk menjadikan vaksinasi HPV bagi anak laki-laki sebagai program pemerintah. Keputusan itu tentu harus mempertimbangkan banyak aspek, khususnya sebagai rekomendasi WHO, hanya bila memang memungkinkan dan terjangkau.
Mangga. Nuwun.
Tonang Dwi Ardyanto. Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret.
(rdp/fjp)





