JAKARTA, KOMPAS - Pemerintah memastikan rencana penerapan pembelajaran jarak jauh atau sekolah daring untuk menghemat konsumsi bahan bakar minyak nasional dibatalkan. Ini artinya, orangtua harus mempersiapkan anak-anaknya untuk kembali termotivasi belajar ke sekolah setelah libur panjang lebaran.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengatakan, keputusan tetap melaksanakan pembelajaran tatap muka sudah diputuskan pemerintah berdasarkan rapat lintas kementerian pada Senin, 23 Maret 2026. Salah satu pertimbangannya adalah agar tidak memperparah kondisi ketertinggalan pelajaran yang masih tersisa pascapandemi Covid-19.
"Pembelajaran di sekolah akan tetap dilaksanakan sebagaimana biasa dengan pertimbangan akademik dan penguatan pendidikan karakter," kata Mu'ti dalam keterangan pers, Kamis (26/3/2026).
Dalam kesempatan ini, Mu'ti menegaskan bahwa penguatan karakter dan nilai toleransi sangat penting dalam sistem pendidikan nasional. Pemerintah berharap sistem pendidikan tidak hanya menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat.
Namun, sebelum kembali ke sekolah yang umumnya dimulai pada Senin, 30 Maret 2026 mendatang, perlu persiapan yang utuh antara anak-anak, orangtua, dan institusi pendidikan, terutama bagi keluarga yang saat ini masih berada di kampung halaman.
Sekolah diharapkan tidak langsung membebani siswa dengan intensitas materi yang berat.
Bagi mereka yang menggunakan masa liburan hingga hari terakhir, persiapan matang untuk perjalanan arus balik sangatlah krusial. Pengaturan jadwal dan rute kepulangan harus dikelola dengan baik agar tidak melelahkan.
"Faktor kelelahan pascaperjalanan panjang tidak hanya berdampak pada fisik, tetapi juga secara signifikan mempengaruhi kondisi psikologis dan mental anak saat dihadapkan kembali pada rutinitas belajar," kata Jasra Putra, Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).
Keluarga yang menggunakan transportasi umum, seperti kereta api dan pesawat, cenderung memiliki risiko kemacetan yang lebih minim. Namun, bagi pengguna jalur darat, KPAI mengimbau agar masyarakat senantiasa memperhatikan saran petugas di lapangan serta mematuhi rambu-rambu lalu lintas demi arus balik yang aman, nyaman, dan lancar.
Jasra mengingatkan, anak-anak pasti memerlukan waktu transisi belajar secara psikologis dari suasana liburan menuju kesiapan kognitif untuk belajar. Kesadaran ini harus menjadi motivasi para pengajar, sebelum mereka benar benar siap memasuki rutinitas sekolah.
"Sekolah diharapkan tidak langsung membebani siswa dengan intensitas materi yang berat," ucapnya.
Prasyarat kondisi yang kondusif harus dibangun melalui konektivitas emosional. Seperti metode belajar reflektif dan metode bercerita (storytelling) mengenai pengalaman mudik di kampung halaman dapat menjadi instrumen transisi yang efektif, sehingga anak-anak bisa masuk kembali ke dunia belajarnya tanpa tekanan.
Sebab, mudik bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan ritual penguatan kohesi sosial dan akar identitas budaya. Anak-anak baru saja menyerap nilai-nilai tradisi, kekerabatan, dan kearifan lokal langsung dari sumbernya.
Kekayaan pengalaman empiris ini, sangat baik untuk digali menjadi potensi awal pembelajaran, idealnya diakomodasi oleh para guru sebagai bagian dari interaksi di kelas, sehingga anak merasa pengalaman sosialnya dihargai dan relevan dengan lingkungan sekolahnya.
"Sekolah harus menciptakan suasana kembali belajar yang gembira dan reflektif, sekaligus mengingatkan orangtua untuk mulai mengatur kembali jam tidur anak serta mengurangi paparan gawai (screen time) yang mungkin meningkat selama masa liburan," tutur Jasra.
Tak hanya di sekolah umum, para santri yang akan kembali ke pesantren juga harus dipersiapkan. Proses orientasi pascalibur di pesantren perlu dikelola secara humanis guna memulihkan kesiapan mental dan spiritual santri setelah merayakan hari raya, agar mereka kembali ikhlas dan kondusif dalam menimba ilmu.
Untuk mewujudkan transisi yang ideal ini membutuhkan sistem dukungan yang tangguh. Dukungan seperti dari orangtua, guru, ustaz, dan lingkungan pesantren sangat vital dalam mengembalikan ritme hidup anak kembali secara bertahap.





