Iran mulai membuka peluang mengakhiri perang Teluk setelah menerima proposal dari Amerika Serikat (AS). Namun, Teheran menegaskan tidak berniat melakukan negosiasi langsung untuk meredakan konflik Timur Tengah yang terus meluas.
Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi pada Rabu (25/3). Ia menegaskan komunikasi yang terjadi bukan berarti Iran siap berunding dengan Washington.
“Pertukaran pesan melalui mediator tidak berarti negosiasi dengan AS,” kata Araghchi di televisi pemerintah, seperti dilansir Reuters.
Ia menyebut usulan dari AS telah disampaikan ke otoritas tertinggi Iran dan akan diputuskan kemudian.
“Mereka menyampaikan sejumlah ide dalam pesan mereka yang telah diteruskan kepada otoritas tertinggi, dan jika perlu, sikap akan diumumkan oleh mereka,” ujarnya.
Meski awalnya menolak, pernyataan Araghchi membuka peluang bahwa Iran bisa mempertimbangkan akhir perang jika syaratnya terpenuhi. Salah satunya, Iran meminta Lebanon dimasukkan dalam setiap kesepakatan gencatan senjata dengan AS dan Israel.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengklaim Iran sebenarnya ingin mencapai kesepakatan, namun ragu menyampaikannya secara terbuka.
“Mereka sedang bernegosiasi, dan mereka sangat ingin membuat kesepakatan, tetapi takut mengatakannya karena bisa dibunuh oleh rakyat mereka sendiri. Mereka juga takut akan dibunuh oleh kami,” kata Trump di Washington.
Proposal AS yang terdiri dari 15 poin mencakup penghentian pengayaan uranium tingkat tinggi, pembatasan program rudal balistik, hingga pemutusan dukungan Iran terhadap sekutu regionalnya.
Kantor berita Reuters melaporkan, Gedung Putih juga memperingatkan akan meningkatkan serangan jika Iran tidak menerima kondisi tersebut.
“Jika mereka tidak memahami bahwa mereka telah dikalahkan secara militer, Presiden Trump akan memastikan mereka dihantam lebih keras dari sebelumnya,” kata juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt.
Sementara itu, pejabat pertahanan Israel meragukan Iran akan menyetujui syarat tersebut. Israel juga ingin tetap memiliki opsi melakukan serangan pendahuluan dalam kesepakatan apa pun.
Di lapangan, konflik masih terus berlangsung. Militer AS mengklaim telah menyerang lebih dari 10 ribu target di Iran dan melemahkan kemampuan militernya secara signifikan.
Namun serangan udara Israel ke Iran dan balasan drone serta rudal dari Iran ke Israel dan sekutu AS masih terus terjadi tanpa tanda mereda.





