Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Kamis pagi, bergerak menguat 22 poin atau 0,13 persen menjadi Rp16.889 per dolar AS dari penutupan sebelumnya yang tercatat Rp16.911 per dolar AS.
Namun, analis mata uang dari Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan kurs rupiah melemah seiring skeptisisme atas perdamaian di Timur Tengah (Timteng).
"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS yang kembali menguat oleh skeptisisme akan perdamaian di Timteng. Harga minyak yang kembali naik juga membebani," ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.
Mengutip Anadolu, Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf membantah pihaknya sedang berunding dengan Amerika Serikat dan menyebut kabar tersebut sebagai "berita palsu" untuk memanipulasi pasar minyak dan finansial.
Ghalibaf menambahkan bahwa rakyat Iran menuntut hukuman yang "penuh dan menimbulkan penyesalan" bagi para agresor, sementara semua pejabat berdiri teguh mendukung pemimpin negara dan masyarakat hingga tujuan perang tercapai.
Adapun sebelumnya Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya telah memerintahkan penundaan semua serangan terhadap infrastruktur pembangkit listrik dan energi selama lima hari ke depan. Hal tersebut, lanjut Tump, adalah karena dialog dengan Tehran selama dua hari belakangan berlangsung "sangat baik dan produktif".
Saat ini, harga West Texas Intermediate/minyak mentah yang diproduksi di Texas, AS, telah mencapai 91 dolar AS per barel dan Brent kembali di atas 100 dolar AS per barel.
Di tengah kenaikan harga minyak, pemerintah disebut sudah menyediakan rencana untuk mengantisipasi krisis energi.
"Pemerintah telah menyampaikan apabila defisit akan tetap di bawah 3 persen dengan mengurangi anggaran untuk MBG (makan bergizi gratis)," ucap Lukman.
Baca juga: Rupiah pada Kamis pagi menguat jadi Rp16.889 per dolar AS
Baca juga: Rupiah raih sentimen positif dari ekspektasi gencatan senjata AS-Iran
Baca juga: Rupiah melemah seiring Selat Hormuz masih ditutup
Namun, analis mata uang dari Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan kurs rupiah melemah seiring skeptisisme atas perdamaian di Timur Tengah (Timteng).
"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS yang kembali menguat oleh skeptisisme akan perdamaian di Timteng. Harga minyak yang kembali naik juga membebani," ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.
Mengutip Anadolu, Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf membantah pihaknya sedang berunding dengan Amerika Serikat dan menyebut kabar tersebut sebagai "berita palsu" untuk memanipulasi pasar minyak dan finansial.
Ghalibaf menambahkan bahwa rakyat Iran menuntut hukuman yang "penuh dan menimbulkan penyesalan" bagi para agresor, sementara semua pejabat berdiri teguh mendukung pemimpin negara dan masyarakat hingga tujuan perang tercapai.
Adapun sebelumnya Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya telah memerintahkan penundaan semua serangan terhadap infrastruktur pembangkit listrik dan energi selama lima hari ke depan. Hal tersebut, lanjut Tump, adalah karena dialog dengan Tehran selama dua hari belakangan berlangsung "sangat baik dan produktif".
Saat ini, harga West Texas Intermediate/minyak mentah yang diproduksi di Texas, AS, telah mencapai 91 dolar AS per barel dan Brent kembali di atas 100 dolar AS per barel.
Di tengah kenaikan harga minyak, pemerintah disebut sudah menyediakan rencana untuk mengantisipasi krisis energi.
"Pemerintah telah menyampaikan apabila defisit akan tetap di bawah 3 persen dengan mengurangi anggaran untuk MBG (makan bergizi gratis)," ucap Lukman.
Baca juga: Rupiah pada Kamis pagi menguat jadi Rp16.889 per dolar AS
Baca juga: Rupiah raih sentimen positif dari ekspektasi gencatan senjata AS-Iran
Baca juga: Rupiah melemah seiring Selat Hormuz masih ditutup





