Sejumlah ahli telah memprediksi bahwa tahun ini akan muncul “super” El Nino. Hal itu berdampak pada kondisi kekeringan ekstrem di sebagian besar wilayah. Indonesia menjadi salah satu wilayah yang berpotensi terdampak fenomena tersebut.
Kondisi kekeringan yang panjang bisa berdampak pada berbagai sektor, termasuk kesehatan. Hasil riset yang terbit di jurnal Nature Microbiology pada 23 Maret 2026 mengungkapkan bahwa kekeringan dapat mendorong peningkatan bakteri yang super resisten terhadap antibiotik.
Temuan tersebut semakin memperkuat dampak perubahan iklim terhadap kesehatan global. Para ilmuwan pun menilai ancaman dari bakteri super resisten antibiotik akan semakin sulit dikendalikan.
Dalam riset tersebut, peneliti menjelaskan bahwa mikroba yang berada di tanah menjadi lebih kebal terhadap antibiotik saat kondisi kering. Sementara itu, penyebaran bakteri kebal tersebut semakin cepat dengan mobilitas masyarakat yang semakin tinggi.
“Tidak ada tempat yang kebal. Jika suatu patogen muncul di suatu bagian dunia, patogen itu akan menyebar dengan cepat ke tempat lainnya,” ujar peneliti senior dari riset tersebut yang juga ahli biologi di California Institute of Technology (Caltech), Dianne Newman dalam artikel yang dikutip dari Live Science.
Pada riset yang sama, peneliti juga mengungkapkan adanya keterkaitan genetik antara bakteri di tanah dan bakteri yang ditemukan di rumah sakit. Gen bakteri resisten yang ditemukan di lingkungan identik dengan bakteri yang ditemukan pada sampel klinis di rumah sakit.
Bakteri resisten antibiotik menjadi pandemi senyap di dunia. Jutaan kematian setiap tahun terjadi karena resistensi antimikroba.
Peneliti menyebutkan bahwa bakteri dapat bertukar materi genetik lewat mekanisme transfer horizontal. Lewat mekanisme tersebut, bakteri resisten pun dapat menyebar dengan cepat. Akibatnya, infeksi menjadi lebih sulit diobati karena bakteri resisten tersebut.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menegaskan bahwa bakteri resisten antibiotik menjadi pandemi senyap di dunia. Jutaan kematian setiap tahun terjadi karena resistensi antimikrobaba.
Kondisi tersebut semakin mengkhawatirkan dengan situasi kekeringan saat ini. Gen sintesis antibiotik atau DNA dari bakteri yang biasanya digunakan untuk bahan antibiotik, ditemukan semakin meningkat saat musim kering. Gen sintesis tersebut akan menurun kembali ketika kondisi basah. Pola tersebut ditemukan secara konsisten di berbagai wilayah yang diteliti.
“Pola ini bisa dilihat di lahan pertanian, di padang rumput, di hutan, di lahan basah, di Amerika Serikat, di China, dan di Swiss,” kata Newman.
Pada penelitian laboratorium, Newman dan kawan-kawan peneliti lainnya melakukan simulasi kondisi kekeringan pada tanah. Dari penelitian itu ditemukan bahwa konsentrasi antibiotik akan meningkat saat air menguap sehingga memberikan tekanan pada mikroba yang ada.
Bakteri yang sensitif terhadap antibiotik cenderung mati pada kondisi itu. Namun, bakteri yang resisten mampu bertahan, bahkan berkembang. Penelitian itu menunjukkan bahwa organisme akan beradaptasi di lingkungan yang keras. Dalam situasi tersebut, bakteri yang resisten pun menjadi dominan.
Dalam penelitian lanjutan, peneliti juga menemukan sampel tanah yang dikeringkan lebih banyak ditemukan mikroba resisten. Penelitian tersebut kemudian dikaitkan pula dengan data di rumah sakit. Di wilayah yang lebih kering tercatat lebih banyak kasus resistensi antibiotik yang ditemukan di rumah sakit.
Sejumlah patogen berbahaya kini juga menunjukkan resistensi terhadap lebih banyak antibiotik. Kondisi tersebut akan semakin menyulitkan pengobatan pasien di rumah sakit. Komplikasi penyakit dan risiko kematian pun meningkat.
Untuk itu, Newman menegaskan, pendanaan akan penelitian untuk penemuan antibiotik baru sangat penting. Inovasi amat dibutuhkan untuk melawan bakteri super resisten. “Ini bukan saatnya pemerintah menghentikan pendanaan penelitian dan penemuan obat,” ujarnya.
Dalam artikel lain yang dikutip dari Live Science, laporan Climate Prediction Center NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration AS) menyampaikan adanya ancaman kekeringan global yang semakin meningkat. Fenomena iklim akan semakin memperparah kondisi tersebut yang berdampak luas pada berbagai sektor kehidupan.
Kondisi kekeringan itu dikaitkan pula dengan munculnya El Nino dalam waktu dekat. Selama El Nino, sejumlah wilayah akan mengalami kondisi yang lebih kering dari biasanya. Risiko kekeringan akan meningkat signifikan hingga mengancam ketersediaan air bersih.
Pada penelitian di jurnal Nature Climate Change telah diperingatkan kemungkinan terjadinya “super” El Nino. Fenomena ini terjadi saat suhu laut meningkat ekstrem. Climate Prediction Center NOAA bahkan memprediksi terjadi suhu global ke tingkat tertinggi. Tahun-tahun mendatang akan lebih panas.
Seorang ilmuwan iklim dan analisis sistem energi, Zeke Hausfather menyebutkan, suhu global pada tahun 2027 dapat mencapai rekor tertingi. “El Nino akan datang. Ini akan meningkatkan perkiraan kita untuk suhu global tahun 2026 dan membuat tahun 2027 sangat mungkin menjadi tahun terpanas,” katanya.
Terkait dengan itu, periset dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erma Yulihastin dalam unggahan di akun resmi Instagram BRIN, mengatakan, El Nino yang kuat yang disebut sebagai “Godzilla” El Nino akan menyebabkan musim kemarau yang lebih panjang dan kering di Indonesia. El Nino diprediksi akan terjadi mulai April 2026 yang kemudian akan diperkuat dengan adanya fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif.
Fenomena itu akan berdampak pada pembentukan awan dan hujan yang lebih banyak terkonsentrasi di atas Samudra Pasifik. Sementara, wilayah Indonesia akan mengalami minim awan dan hujan. Hal itu ditambah dengan fenomena IOD positif di Samudra Hindia yang menyebabkan wilayah Indonesia akan mengalami pengurangan hujan yang signifikan.
Erma menyebutkan, kedua fenomena tersebut diprediksi akan terjadi bersamaan selama periode musim kemarau di Indonesia mulai April sampai Oktober 2026. Dampak super El Nino dan IOD positif tidak seragam di wilayah Indonesia. Pada periode April-Juli 2026, wilayah Sulawesi, Halmahera, dan Maluku masih mengalami curah hujan yang tinggi.
Upaya mitigasi pun harus segera disiapkan untuk menghadapi dampak dari fenomena tersebut. Itu terutama terkait dampak kekeringan di selatan Indonesia, dampak banjir di wilayah Timur Laut Indonesia karena cuaca hujan tinggi selama kemarau, serta dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Di lain sisi, fenomena ini bisa dimanfaatkan untuk mengoptimalkan produksi garam nasional.
“Pemerintah perlu waspada dampak kekeringan yang dapat mengancam lumbung pangan nasional di wilayah Pantura Jawa serta dampak karhutla di Kalimantan dan Sumatera. Di saat bersamaan, strategi dibutuhkan untuk menangani kelebihan curah hujan di Sulawesi, Halmahera, dan Maluku,” tutur Erma.





