Malaysia berencana mengurangi jatah subsidi bulanan bahan bakar minyak (BBM) di tengah lonjakan harga minyak dunia akibat perang Irang dengan Israel dan Amerika Serikat (AS).
Merujuk laporan The Edge, salah seorang sumber mengatakan pemerintah Malaysia berencana memangkas kuota RON95 saat ini sebesar 300 liter untuk warga menjadi 200 liter per bulan mulai April 2026.
Konsumsi yang melebihi kuota akan didasarkan pada harga pasar. Adapun harga RON95 tanpa subsidi telah dinaikkan dua kali atau sebesar 45% sejak 11 Maret.
Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim berjanji untuk mempertahankan harga RON95 di 1,99 ringgit per liter, meskipun terjadi volatilitas harga minyak mentah, di sisi lain harga bahan bakar lainnya di Semenanjung Malaysia telah disesuaikan sejalan dengan kenaikan harga internasional sejak akhir Februari.
Anwar mengungkapkan tagihan subsidi bahan bakar bulanan Malaysia telah melonjak dari sekitar 700 juta ringgit menjadi 3,2 miliar ringgit dalam waktu kurang dari seminggu.
“Malaysia memang memproduksi minyak, tetapi kita juga mengimpor lebih banyak minyak daripada mengekspor,” kata Anwar, dikutip dari South China Morning Post, Kamis (26/3).
Harga minyak mentah Brent, yang semula harganya sekitar US$ 70 sebelum perang meletus pada 28 Februari, naik hingga hampir US$ 120 pada puncaknya di Maret 2026. Asia mengimpor sekitar 80% minyaknya melalui Selat Hormuz, dan pasokan terganggu oleh penutupan jalur pelayaran vital tersebut.
Pemerintah Malaysia berencana untuk memberlakukan kontrol terhadap pembelian solar di beberapa negara bagian untuk mengatasi risiko kebocoran serta akan memperkuat pengawasan dan penegakan hukum untuk memastikan pasokan bahan bakar negara tetap stabil. Malaysia memperhitungkan stok produk minyak bumi dapat bertahan setidaknya hingga Mei 2026.




