PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mengamankan fasilitas kredit bergulir berbasis keberlanjutan senilai hingga USD 500 juta guna memperkuat pendanaan dan mempercepat penyelesaian proyek-proyek nikel yang tengah berjalan.
Dalam keterbukaan informasi BEI dikutip Kamis (26/3), perseroan menyampaikan telah menandatangani perjanjian fasilitas (facility agreement) dengan sejumlah lembaga keuangan global.
Fasilitas tersebut merupakan Sustainability-Linked Revolving Credit Facility dengan nilai sebesar USD 500 juta, serta dilengkapi opsi greenshoe hingga USD 250 juta.
Perjanjian ini melibatkan sejumlah bank sebagai mandated lead arrangers, underwriters, dan bookrunners yakni DBS Bank Ltd., Mizuho Bank, Ltd., PT Bank Mizuho Indonesia, serta United Overseas Bank Limited. Sementara itu, PT Bank DBS Indonesia bertindak sebagai agen, dan United Overseas Bank Limited juga berperan sebagai koordinator tunggal sekaligus koordinator keberlanjutan.
Dana dari fasilitas kredit ini bakal digunakan untuk mendukung kebutuhan umum korporasi, termasuk belanja modal dan kebutuhan modal kerja.
"Pemberian fasilitas kredit kepada Perseroan akan digunakan untuk membiayai keperluan umum korporasi Perseroan (termasuk namun tidak terbatas pada belanja modal, kebutuhan modal kerja)," jelas manajemen.
Fasilitas ini memiliki tenor selama 24 bulan dengan opsi perpanjangan hingga tambahan 12 bulan.
Perseroan menyebut, keberadaan fasilitas pembiayaan ini akan memberikan kepastian pendanaan terhadap proyek-proyek strategis, khususnya pembangunan tambang dan fasilitas pengolahan nikel yang saat ini sebagian telah memasuki tahap akhir penyelesaian.
"Fasilitas Kredit Bergulir Terkait Keberlanjutan ini memberikan kepastian pendanaan pada proyek-proyek pembangunan tambang dan fasilitas pengolahan nikel Perseroan, yang sebagian memasuki fase penyelesaian, akan selesai tepat waktu atau bahkan lebih awal," katanya.
Dengan dukungan pendanaan ini, Vale optimistis bisa menjaga kelangsungan proyek sekaligus meningkatkan kinerja operasional di tengah tingginya permintaan global terhadap komoditas nikel, terutama untuk kebutuhan industri baterai dan kendaraan listrik.





