11 Pemain Mayoritas Bawa PSM Juara Akan Berakhir Kontrak, Susul Bernardo Tavares ke Persebaya Surabaya?

harianfajar
5 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, MAKASSAR — Di penghujung musim, sebuah klub sering kali tidak hanya diuji di lapangan, tetapi juga di meja negosiasi. Itulah yang kini dialami PSM Makassar. Bukan satu atau dua pemain, melainkan sebelas nama sekaligus berada di ambang akhir kontrak—sebuah situasi yang lebih menyerupai potensi “bedol desa” ketimbang sekadar siklus regenerasi.

Di tengah ketidakpastian finansial dan sanksi dari FIFA, ancaman ini terasa semakin nyata. Klub yang dalam beberapa musim terakhir dikenal solid kini menghadapi risiko kehilangan fondasi utamanya dalam waktu bersamaan.

Nama-nama yang masuk daftar bukan pemain pelapis. Mereka adalah tulang punggung.

Di lini belakang, Yuran Fernandes berdiri sebagai komando utama. Ia bukan hanya bek, tetapi jangkar organisasi pertahanan—kuat di duel udara, tegas dalam membaca permainan, dan menjadi pemimpin tanpa banyak kata. Kehilangan Yuran berarti kehilangan struktur.

Di sektor tengah, Muhammad Arfan membawa identitas lokal PSM. Ia adalah jembatan antara filosofi klub dan implementasi di lapangan—pemimpin yang memahami ritme permainan sekaligus denyut emosi tim. Bersama Ananda Raehan, lini tengah PSM bukan hanya soal distribusi bola, tetapi juga soal karakter.

Di sisi lain, talenta muda seperti Dzaky Asraf dan Victor Dethan menjadi representasi masa depan. Mereka bukan hanya investasi jangka panjang, tetapi juga aset yang kini mulai dilirik banyak klub.

Dan di bawah mistar, Reza Arya Pratama memberi jaminan stabilitas—posisi yang jarang mendapat sorotan, tetapi krusial dalam menjaga konsistensi tim.

Jika semua nama ini benar-benar pergi, maka yang hilang bukan hanya kualitas individu, melainkan identitas kolektif.

Situasi ini tidak terjadi dalam ruang hampa.

Krisis finansial yang membelit, ditambah sanksi transfer, membuat manajemen berada dalam posisi sulit. Perpanjangan kontrak membutuhkan komitmen finansial yang besar, sementara membiarkan pemain pergi berarti kehilangan aset tanpa kompensasi.

Di sinilah dilema klasik muncul: bertahan dengan risiko keuangan, atau melepas dengan risiko performa.

Sementara itu, di luar Makassar, klub-klub lain mulai membaca peluang.

Persebaya Surabaya disebut sebagai pihak paling agresif. Di bawah bayang-bayang Bernardo Tavares—yang memiliki kedekatan emosional dan taktis dengan banyak pemain PSM—rumor kepindahan semakin masuk akal. Nama Yuran Fernandes dan Victor Dethan menjadi target utama, mencerminkan kebutuhan Persebaya: stabilitas di belakang dan dinamika di sayap.

Narasi “mini PSM” di Surabaya bukan lagi sekadar spekulasi, tetapi mulai terlihat sebagai strategi.

Di sisi lain, Persib Bandung dan Persija Jakarta juga tidak tinggal diam. Kedua klub ini dikenal agresif dalam memburu pemain dengan label tim nasional atau potensi besar. Nama-nama seperti Ananda Raehan dan Dzaky Asraf menjadi komoditas panas—profil pemain modern yang sesuai dengan tuntutan sepak bola intensitas tinggi.

Dalam konteks ini, PSM bukan hanya menghadapi ancaman kehilangan pemain, tetapi juga memperkuat rival secara langsung.

Efeknya bisa berlapis.

Pertama, penurunan kualitas tim secara internal. Kedua, peningkatan kekuatan pesaing. Ketiga, dampak psikologis bagi suporter yang melihat identitas klub perlahan tergerus.

Namun, di balik semua kekhawatiran itu, masih ada ruang untuk bertindak.

PSM sebenarnya tidak sepenuhnya tanpa opsi. Prioritas bisa diarahkan pada pemain-pemain kunci—mereka yang menjadi fondasi permainan dan simbol klub. Kontrak jangka panjang bagi talenta muda juga bisa menjadi langkah strategis untuk menjaga nilai aset.

Masalahnya adalah waktu.

Negosiasi dalam sepak bola modern tidak pernah sederhana. Ia melibatkan agen, nilai pasar, ambisi pemain, hingga stabilitas klub. Dalam situasi seperti sekarang, PSM tidak hanya bersaing dengan klub lain, tetapi juga dengan persepsi: apakah mereka masih menjadi tempat yang menjanjikan bagi masa depan pemain?

Jika jawabannya meragukan, maka eksodus menjadi sulit dihindari.

Dan jika itu terjadi, musim depan bisa menjadi fase transisi yang berat.

PSM Makassar kini berada di titik kritis—antara berbenah atau kehilangan arah. Dalam beberapa minggu ke depan, keputusan-keputusan penting akan diambil. Keputusan yang tidak hanya menentukan komposisi skuad, tetapi juga masa depan klub itu sendiri.

Karena dalam sepak bola, kehilangan satu pemain mungkin bisa digantikan.

Tetapi kehilangan sebelas sekaligus—itu adalah cerita yang berbeda.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prajurit TNI AD Koptu YP Akui Beli Narkoba di Kompleks Berlan Jaktim, Kini Ditahan
• 2 jam lalukompas.com
thumb
Pemkot Bogor Tertibkan PKL, Wajibkan Pedagang Pindah ke Pasar Resmi
• 16 jam lalurepublika.co.id
thumb
Puasa Syawal 2026: Kapan Batas Akhir dan Bagaimana Niatnya?
• 1 jam laludetik.com
thumb
Xiaomi Resmi Hentikan Pembaruan MIUI dan Beralih Sepenuhnya ke HyperOS
• 13 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Biar Tidak Itu-itu Saja, Ini 4 Cara Menyantap Buah yang Sehat dan Lezat
• 9 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.