Harga Pertalite Diprediksi Tembus Rp11.500 untuk Jaga Defisit APBN

idxchannel.com
3 jam lalu
Cover Berita

Harga pertalite berpotensi naik ke kisaran Rp11.500 per liter atau meningkat sekitar 10–15 persen dari harga saat ini Rp10.000 per liter.

Harga Pertalite Diprediksi Tembus Rp11.500 untuk Jaga Defisit APBN. (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, memperkirakan harga pertalite berpotensi naik ke kisaran Rp11.500 per liter atau meningkat sekitar 10–15 persen dari harga saat ini Rp10.000 per liter.

Ia menjelaskan, penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM), khususnya pertalite ini seiring meningkatnya tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akibat kenaikan harga minyak dunia.

Baca Juga:
Pemerintah Akan Hitung Ulang Harga Pertalite setelah Lebaran 

Menurut Fabby, langkah tersebut diperlukan untuk menjaga agar beban kompensasi energi tidak semakin membengkak dan tetap berada dalam batas aman fiskal. 

"Saya hitung-hitung, agar kompensasi tidak terlalu besar dan masih dalam batas jangkauan APBN, agar tidak defisit, maka pertalite itu mungkin harusnya naik 10-15 persen," ujarnya saat dihubungi IDX Channel Kamis (26/3/2026).

Baca Juga:
Bahlil Tegaskan Pertalite Tetap Rp10.000 per Liter Meski Harga Minyak Dunia Melonjak

Ia menjelaskan, kenaikan harga minyak mentah global memberikan dampak signifikan terhadap beban negara. Setiap kenaikan USD1 di atas asumsi Indonesian Crude Price (ICP) dalam APBN, dapat menambah beban fiskal sekitar Rp6,5 triliun hingga Rp6,8 triliun per tahun.

Jika tren kenaikan harga minyak berlanjut, maka tambahan beban tersebut berpotensi memperbesar dan mempersempit ruang fiskal pemerintah. Dalam situasi ini, pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit antara menambah utang atau menyesuaikan harga BBM.

Baca Juga:
Update Harga BBM di SPBU per 16 Maret 2026, Pertalite Tetap Rp10.000 per Liter

"Kalau tidak disesuaikan, beban kompensasi ke Pertamina akan terus meningkat. Ini yang perlu dikendalikan," kata Fabby.

Ia menjelaskan, pertalite merupakan BBM bersubsidi langsung, harganya tetap diatur oleh pemerintah. Selisih antara harga keekonomian dan harga jual ditutup melalui mekanisme kompensasi kepada PT Pertamina (Persero). Ketika harga minyak dunia naik, nilai kompensasi pun ikut membesar.

Fabby menilai, penyesuaian harga tidak hanya bertujuan menjaga kesehatan fiskal, tetapi juga untuk mengendalikan konsumsi BBM agar lebih efisien dan tepat sasaran.

Disisi lain, ia mengingatkan pemerintah tetap perlu menyiapkan skema perlindungan bagi masyarakat rentan jika kebijakan kenaikan harga benar-benar diambil, guna meminimalkan dampak terhadap daya beli.

“Penyesuaian bisa dilakukan, tetapi harus diikuti dengan kebijakan kompensasi sosial yang tepat agar kelompok rentan tetap terlindungi,” kata dia.

(Febrina Ratna Iskana)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
3 Zodiak yang Dikenal Mudah Marah dan Meledak-ledak
• 9 jam lalubeautynesia.id
thumb
Pelatih Timnas Bulgaria “Pulang Kampung” ke Indonesia, Pernah Bela Persija Jakarta dan Petrokimia Putra
• 22 jam laluharianfajar
thumb
Babak Baru OJK: Friderica Siapkan Gebrakan, Transparansi hingga Likuiditas
• 9 jam lalukatadata.co.id
thumb
Orlando City rekrut Griezmann dari Atletico Madrid
• 14 jam laluantaranews.com
thumb
Amerika Ajukan 15 Syarat Damai, Iran Balas 5 Tuntutan Keras
• 12 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.