VIVA – Ketegangan di Timur Tengah belum menunjukkan tanda mereda meski upaya diplomasi terus digencarkan. Di tengah konflik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat, kedua negara kini justru terlibat dalam “perang syarat” yang memperlihatkan betapa lebarnya jurang perbedaan di antara mereka.
Pemerintahan Donald Trump dilaporkan telah mengirimkan proposal damai berisi 15 poin kepada Teheran melalui jalur tidak langsung, termasuk lewat Pakistan. Proposal ini digadang-gadang sebagai upaya serius Washington untuk mengakhiri konflik yang telah mengguncang stabilitas kawasan dan memicu lonjakan harga energi global. Namun, respons Iran menunjukkan bahwa jalan menuju kesepakatan masih terjal.
Sejumlah laporan media internasional mengungkap isi utama proposal tersebut. Dalam laporan The Washington Post, Amerika Serikat meminta Iran untuk membongkar stok uranium yang diperkaya, menghentikan seluruh aktivitas pengayaan, serta membatasi program rudal balistiknya.
Tak hanya itu, Teheran juga diminta menghentikan dukungan terhadap kelompok-kelompok sekutu di kawasan seperti Hezbollah, Houthi, dan Hamas, itu merupakan isu yang selama ini menjadi perhatian utama Washington.
Laporan Reuters juga menyebut proposal tersebut mencakup pemindahan uranium yang telah diperkaya keluar dari Iran, serta penghentian dukungan terhadap jaringan proksi regional.
Sebagai imbalannya, Amerika Serikat menawarkan pelonggaran sanksi hingga kerja sama nuklir sipil. Bahkan, ada wacana gencatan senjata sementara selama 30 hari untuk membuka ruang negosiasi lebih lanjut.
Presiden Donald Trump sendiri mengklaim bahwa kedua pihak telah mencapai “kemajuan besar” dalam pembicaraan, meski Iran secara terbuka membantah adanya negosiasi langsung.
Iran: AS Bernegosiasi dengan dirinya sendiriAlih-alih menyambut, Iran justru menilai proposal tersebut terlalu berat. Seorang sumber diplomatik dalam laporan Al Jazeera menyebut rencana 15 poin itu sebagai “maksimalis dan tidak masuk akal”, sehingga Teheran keberatan terhadap tuntutan Washington itu.
Bahkan, pernyataan keras juga datang dari militer Iran. Juru bicara militer Ebrahim Zolfaqari secara terbuka mengejek Amerika Serikat dengan menyebut Washington seolah “bernegosiasi dengan dirinya sendiri.” Sindiran ini menggambarkan rendahnya kepercayaan Iran terhadap proses diplomasi yang sedang berlangsung, terutama setelah konflik militer tetap berlanjut di lapangan.





